MARKET NEWS

IHSG Melemah di Hari Pertama Tanpa Pembobotan Saham HSC, Bank Besar Jadi Pemberat

TIM RISET IDX CHANNEL 02/11/2026 10:08 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan Senin (2/11/2026), bertepatan dengan hari pertama penerapan kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI).

IHSG Melemah di Hari Pertama Tanpa Pembobotan Saham HSC, Bank Besar Jadi Pemberat. (Foto: MNC Media)

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan Senin (2/11/2026), bertepatan dengan hari pertama penerapan kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mengecualikan 81 saham kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan bobot indeks.

Berdasarkan data BEI pukul 09.53 WIB, IHSG terkoreksi 0,41 persen ke level 5.036,54. Nilai transaksi mencapai Rp2,95 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 7,68 miliar saham.

Tekanan pasar terlihat dari dominasi saham yang melemah. Sebanyak 505 saham terkoreksi, sementara hanya 192 saham menguat dan 266 saham stagnan.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi pemberat indeks, di antaranya PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang turun 0,60 persen, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) melemah 0,54 persen, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) terkoreksi 0,34 persen.

Tekanan juga datang dari big cap lainnya PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang turun 2,02 persen dan PT Astra International Tbk (ASII) yang melemah 0,42 persen.

Di sisi lain, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 0,90 persen, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menguat 2,34 persen, dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) naik 0,82 persen. Namun, kenaikan ketiga saham tersebut belum cukup menahan pelemahan IHSG.

Perdagangan hari ini sekaligus menjadi ujian awal bagi struktur baru IHSG setelah BEI mengeluarkan 81 saham kategori HSC dari perhitungan indeks.

Kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas dan transparansi indeks di tengah perhatian investor terhadap konsentrasi kepemilikan saham di pasar modal domestik.

Perlu dicatat, pengecualian tersebut tidak berarti saham-saham HSC dihentikan perdagangannya atau dikeluarkan dari BEI. Saham seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT DCII Indonesia Tbk (DCII), dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) tetap dapat diperdagangkan seperti biasa.

Hanya kontribusi pergerakan harganya terhadap perhitungan IHSG yang tidak lagi diperhitungkan.

Bobot Bank Jumbo Makin Besar

Keluarnya 81 saham HSC yang sebelumnya menyumbang sekitar 18 persen terhadap IHSG membuat bobot saham-saham berkapitalisasi besar lainnya meningkat.

Sektor perbankan menjadi salah satu pihak yang paling terdampak oleh perubahan komposisi tersebut.

Berdasarkan estimasi BRI Danareksa Sekuritas pada Jumat (30/10/2026), bobot PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) diperkirakan meningkat dari 8,75 persen menjadi 9 persen.

Bobot PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) naik dari 7,93 persen menjadi 9 persen, sedangkan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) meningkat dari 5,57 persen menjadi 6,95 persen.

PT Astra International Tbk (ASII) juga diperkirakan memperoleh kenaikan bobot dari 3,35 persen menjadi 4,15 persen.

Dengan perubahan tersebut, bobot gabungan empat saham besar, yakni BBCA, BBRI, BMRI, dan ASII, meningkat dari 24,33 persen menjadi 27,45 persen. Artinya, lebih dari seperempat pergerakan IHSG kini terkonsentrasi pada empat saham tersebut.

“IHSG kini jadi proxy bank. Sensitif terhadap rupiah dan foreign flow, yang saat ini sama-sama negatif,” tulis BRI Danareksa.

BRI Danareksa memperkirakan setiap perubahan 1 persen pada harga saham big four banks dapat memberikan dampak sekitar 14 poin terhadap IHSG dengan menggunakan basis indeks 5.030.

Kondisi ini membuat pergerakan IHSG semakin sensitif terhadap sentimen yang memengaruhi saham-saham perbankan besar, terutama nilai tukar rupiah dan arus dana investor asing.

Meski demikian, perubahan pembobotan tersebut tidak serta-merta membuat volatilitas IHSG lebih rendah. Simulasi BRI Danareksa Sekuritas menunjukkan volatilitas IHSG tanpa saham HSC justru mencapai 31 persen, lebih tinggi dibandingkan volatilitas aktual sebesar 29 persen.

Dari sisi valuasi, rasio price to earnings (P/E) agregat IHSG juga berpotensi berubah seiring bergesernya komposisi saham yang menjadi dasar perhitungan indeks. Dengan demikian, target IHSG yang menggunakan acuan valuasi historis perlu dikalibrasi kembali.

Sementara itu, Maybank Sekuritas dalam catatan 26 Oktober 2026 menilai saham-saham perbankan berkapitalisasi besar dan telekomunikasi menjadi pihak yang paling diuntungkan dari perubahan bobot indeks.

“Sebaliknya, pergerakan saham HSC seperti BREN, DSSA, DCII dan BYAN tidak lagi memengaruhi IHSG. Perlu dicatat kenaikan bobot tidak otomatis diikuti kenaikan harga, namun arah IHSG ke depan akan semakin ditentukan oleh saham perbankan,” tulis Maybank Sekuritas.

Investor Cermati Data Ekonomi

Selain perubahan komposisi indeks, investor juga akan mencermati sejumlah agenda ekonomi domestik sepanjang pekan ini.

Data yang dinantikan meliputi inflasi Oktober, aktivitas manufaktur, neraca perdagangan, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026, hingga cadangan devisa.

Dari eksternal, arah kebijakan The Fed setelah keputusan suku bunga terakhir, perkembangan harga minyak, serta tensi geopolitik global juga berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah dan arus modal asing ke pasar saham Indonesia. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE