MARKET NEWS

IHSG Dibayangi Tekanan Global, Target 7.000 Akhir 2026 Masih Terjaga?

TIM RISET IDX CHANNEL 02/10/2026 14:25 WIB

Pasar saham dinilai masih dibayangi ketidakpastian tinggi memasuki Oktober 2026.

IHSG Dibayangi Tekanan Global, Target 7.000 Akhir 2026 Masih Terjaga? (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Pasar saham dinilai masih dibayangi ketidakpastian tinggi memasuki Oktober 2026.

Kenaikan suku bunga global, imbal hasil obligasi yang tinggi, harga minyak, hingga ketegangan geopolitik menjadi sejumlah faktor yang berpotensi menahan laju pemulihan pasar, meski peluang penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap terbuka.

Dalam riset bertajuk Balancing Uncertainty, Gradual Recovery Ahead, Phintraco Sekuritas mencatat Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75 persen-4,00 persen pada September 2026.

Langkah tersebut dilakukan di tengah inflasi yang masih persisten dan kenaikan harga minyak.

The Fed juga masih membuka kemungkinan satu kali kenaikan suku bunga tambahan pada 2026.

Di sisi lain, pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) masih relatif solid, dengan pertumbuhan nonfarm payrolls (NFP) mencapai 162.000, meski pertumbuhan upah melambat menjadi 3,1 persen secara tahunan.

Kondisi tersebut berpotensi menjaga tekanan terhadap kondisi likuiditas global.

Pengetatan moneter yang berlanjut dapat membuat imbal hasil obligasi tetap tinggi dan menjadi tantangan bagi aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang.

Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) memilih mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen pada September 2026 meski The Fed menaikkan suku bunga.

Keputusan tersebut membuat selisih BI Rate dengan suku bunga The Fed menyempit menjadi 1,75 persen, meski masih berada di atas rata-rata lima tahun terakhir.

Dari sisi ekonomi domestik, inflasi Indonesia meningkat menjadi 3,28 persen secara tahunan.

Sementara itu, aktivitas manufaktur kembali berada di zona ekspansi dengan PMI mencapai 52,4.

Neraca perdagangan juga mencatat surplus yang melebar menjadi USD3,55 miliar pada Agustus 2026.

Phintraco Sekuritas menilai kebijakan fiskal juga masih memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi.

Rancangan anggaran pendapatan dan belanja negara (RAPBN) 2027 tetap ekspansif dengan target defisit 2,4 persen terhadap PDB dan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,0 persen.

Namun, tingginya suku bunga global dan imbal hasil obligasi berpotensi membatasi ruang fiskal.

Karena itu, arah pasar saham domestik masih akan sangat bergantung pada perkembangan kondisi eksternal dan kemampuan ekonomi dalam negeri mempertahankan momentum pertumbuhan.

Untuk IHSG, Phintraco Sekuritas memperkirakan pergerakan indeks masih akan volatil seiring tingginya imbal hasil obligasi, kenaikan harga minyak, serta ketidakpastian geopolitik.

Sejumlah katalis utama yang akan dicermati investor mencakup data inflasi dan tenaga kerja AS, kebijakan The Fed, pergerakan imbal hasil US Treasury, harga minyak, serta laporan keuangan emiten pada kuartal III-2026.

Pasar juga akan mencermati kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober serta pengumuman MSCI pada November 2026 atau akhir Oktober.

Meski tekanan eksternal masih membayangi, Phintraco Sekuritas tetap mempertahankan target IHSG di level 7.000 pada akhir 2026.

Untuk strategi sektoral Oktober, Phintraco Sekuritas menempatkan sektor perbankan, batu bara, pertambangan logam, minyak dan gas (migas), ritel, serta industri dalam alokasi sektornya. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE