Harga Tembaga Naik Ditopang Aktivitas Manufaktur China
Harga tembaga naik pada Rabu (30/9/2026) setelah data menunjukkan aktivitas manufaktur China kembali tumbuh pada September.
IDXChannel – Harga tembaga naik pada Rabu (30/9/2026) setelah data menunjukkan aktivitas manufaktur China kembali tumbuh pada September.
Namun, perdagangan cenderung sepi menjelang libur selama sepekan di negara konsumen logam terbesar dunia tersebut.
Harga tembaga acuan tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 0,47 persen menjadi USD14.506 per metrik ton pada pukul 14.18 WIB.
Sementara itu, kontrak tembaga November yang paling aktif diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange (SHFE) menguat 0,35 persen menjadi 109.680 yuan per ton. Sepanjang September, kontrak tersebut naik 1,45 persen.
Mengutip Reuters, data resmi menunjukkan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur China naik menjadi 50,1 pada September dari 49,8 pada Agustus.
Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada dalam fase ekspansi.
Survei swasta RatingDog juga menunjukkan aktivitas pabrik tumbuh lebih cepat.
PMI versi survei tersebut naik ke level tertinggi dalam lima bulan, yakni 52,1, dari 51,5 pada bulan sebelumnya.
Namun, aktivitas perdagangan tembaga cenderung terbatas menjelang libur Hari Nasional China. SHFE akan tutup mulai Kamis (1/10) dan kembali beroperasi pada 8 Oktober.
Premi domestik tembaga juga terus melemah dari level tertinggi yang dicapai pada Selasa (29/9), menjadi 1.050 yuan per ton.
Sementara itu, premi tembaga Yangshan, yang menjadi indikator minat konsumen China terhadap bahan baku impor, sedikit naik menjadi USD119 per ton.
Permintaan menjelang libur juga terus menguras persediaan tembaga di gudang yang dipantau SHFE. Stok tembaga turun 17,8 persen menjadi 38.744 ton pada Rabu, sekaligus menjadi level terendah sejak Januari 2024.
Di sisi lain, dolar AS masih menguat dan berada di jalur kenaikan sekitar 2 persen sepanjang September, didukung oleh imbal hasil obligasi pemerintah AS yang lebih tinggi.
Penguatan dolar membuat logam yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Harga minyak juga masih bertahan di level tinggi, dengan Brent berada di atas USD100 per barel. Kondisi tersebut menjaga kekhawatiran terhadap inflasi sekaligus ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) AS.
Di antara logam lainnya di LME, aluminium naik 0,11 persen, seng menguat 0,32 persen, timbal naik tipis 0,03 persen, nikel naik 0,45 persen, dan timah menguat 0,15 persen.
Sementara di SHFE, aluminium turun 0,79 persen, seng melemah 0,36 persen, timbal turun 0,34 persen, nikel terkoreksi 0,83 persen, sedangkan timah naik 0,15 persen. (Aldo Fernando)