Harga Minyak Turun 1 Persen, tapi Brent Masih di Atas USD100 per Barel
Harga minyak mentah ditutup sekitar 1 persen lebih rendah pada Kamis (17/9/2026), tetapi tetap bertahan di atas USD100 per barel.
IDXChannel - Harga minyak mentah ditutup sekitar 1 persen lebih rendah pada Kamis (17/9/2026), tetapi tetap bertahan di atas USD100 per barel.
Investor menimbang gangguan pasokan akibat serangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman dengan laporan tambahan pasokan minyak Saudi dapat masuk ke pasar global dan meredakan kekhawatiran pasokan.
Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman kembali saling melancarkan serangan di sepanjang perbatasan pada Kamis.
Meluasnya perang di Timur Tengah ke Yaman dan Arab Saudi berpotensi memperburuk kekurangan pasokan energi global yang terjadi sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran pada Februari.
Kontrak berjangka (futures) Brent ditutup turun 0,95 persen menjadi USD104,82 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot 0,5 persen menjadi USD101,91 per barel.
Kedua acuan tersebut telah turun sekitar 3 persen pada Rabu (16/9/2026).
Harga Brent sempat jatuh lebih dari USD3 pada perdagangan Kamis ke level terendah sejak 10 September. WTI juga sempat turun lebih dari USD3 ke level terendah sejak 11 September.
Penurunan terjadi setelah muncul laporan bahwa Arab Saudi menawarkan tambahan kargo minyak mentah kepada penyuling Asia melalui mekanisme pemindahan muatan antarkapal di lepas pantai pelabuhan Sohar, Oman.
Tambahan pasokan tersebut dapat mengimbangi sebagian gangguan akibat serangan terhadap pipa East-West menuju Laut Merah.
Arab Saudi juga berupaya memulihkan sekitar setengah kapasitas pipa minyak East-West dalam beberapa hari setelah jalur tersebut terhenti pada pekan lalu akibat serangan pesawat nirawak, menurut laporan Bloomberg.
Harga minyak sebelumnya melonjak ke level tertinggi sekitar empat bulan pada pekan ini setelah sumber industri pelayaran mengatakan pemuatan minyak mentah di pusat ekspor Laut Merah Arab Saudi, Yanbu, dihentikan.
Riyadh juga membatalkan sejumlah pengiriman minyak kepada pelanggan di Eropa. Pipa East-West memasok minyak ke Yanbu.
Sejumlah trader mengatakan penutupan pipa yang berkepanjangan dapat menghentikan pasokan hingga 4 persen dari pasokan minyak global.
Arab Saudi belum menyampaikan kapan operasi pipa akan kembali normal.
Namun, menurut pernyataan Wright kepada CNBC International pada Selasa (15/9/2026), aliran minyak mentah melalui pipa tersebut diperkirakan kembali berjalan dalam beberapa hari.
Tiga stasiun pompa yang melayani pipa East-West rusak akibat serangan pada pekan lalu.
Berdasarkan penilaian tiga sumber di sektor minyak dan keamanan, waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki fasilitas tersebut masih belum jelas.
“Harga minyak melanjutkan penurunan pada sesi sebelumnya pada Kamis karena kekhawatiran mengenai gangguan pasokan dari Timur Tengah sedikit mereda,” kata Senior Market Strategist platform perdagangan Exness Christopher Tahir, seperti dikutip Reuters.
Tahir mengutip peningkatan aliran minyak mentah melalui pemuatan tambahan di lepas pantai Oman serta upaya memulihkan pipa East-West.
“Meski demikian, pasar fisik masih ketat sehingga ruang penurunan harga lebih lanjut terbatas. Lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz terus menurun, sementara ketegangan antara Arab Saudi dan Houthi membuat jalur pelayaran Laut Merah dan infrastruktur energi regional tetap rentan terhadap gangguan baru,” imbuh Tahir.
Bank DBS Singapura mengatakan skenario dasarnya untuk kuartal IV-2026 mengasumsikan ketegangan antara AS dan Iran mereda. Dengan skenario tersebut, harga Brent diperkirakan stabil di kisaran USD85-USD95 per barel. (Aldo Fernando)