MARKET NEWS

Harga Minyak Naik Hampir 2 Persen, Serangan ke Arab Saudi Picu Kekhawatiran Pasokan

TIM RISET IDX CHANNEL 13/10/2026 06:40 WIB

Harga minyak dunia naik pada perdagangan Senin (12/10/2026).

Harga Minyak Naik Hampir 2 Persen, Serangan ke Arab Saudi Picu Kekhawatiran Pasokan. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Harga minyak dunia naik pada perdagangan Senin (12/10/2026).

Serangan terhadap Arab Saudi membayangi prospek peningkatan pasokan, meskipun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyambut ekspor diesel Rusia terbaru serta gencatan senjata Rusia-Ukraina terkait serangan terhadap infrastruktur energi.

Harga minyak Brent berjangka ditutup naik 1,8 persen menjadi USD106,65 per barel, level tertinggi sejak 15 September.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS meningkat 2 persen menjadi USD93,74 per barel.

Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan pada Sabtu terhadap bandara internasional Riyadh yang menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang.

Serangan kembali terjadi pada Minggu, meningkatkan eskalasi konflik yang berpotensi semakin menghambat pasokan minyak mentah dari salah satu produsen terbesar dunia.

Investor sekaligus analis Louis Navellier mengatakan serangan rudal Houthi terhadap Bandara Riyadh berpotensi meningkatkan serangan balasan terhadap kelompok tersebut di Yaman.

"Serangan rudal Houthi yang mengejutkan terhadap Bandara Riyadh di Arab Saudi jelas akan meningkatkan serangan balasan terhadap Houthi di Yaman," ujar Navellier dalam sebuah catatan, sebagaimana dikutip Reuters.

Menurut dia, kilang-kilang minyak Arab Saudi saat ini masih beroperasi. Namun, lima kilang sempat ditutup sementara setelah jalur pipa menuju Laut Merah ditutup akibat serangan rudal.

Serangkaian serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz juga dilaporkan terjadi sepanjang bulan ini.

Kondisi tersebut mengancam pemulihan ekspor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah yang terlihat pada September.

United Kingdom Maritime Trade Operations melaporkan sebuah kapal tanker diserang drone di sekitar Sohar, Oman. Kapal tanker lainnya mengalami kerusakan saat melintasi Selat Hormuz.

Analis komoditas SEB Bjarne Schieldrop mengatakan kondisi yang sebelumnya mulai kembali normal di Selat Hormuz terganggu oleh serangkaian serangan terbaru.

"Rasa normalitas dalam ekspor melalui Selat Hormuz hancur pada pekan lalu. Serangan baru Houthi terhadap Arab Saudi memperburuk situasi dan membantu mendorong harga naik," kata Schieldrop.

Menurut dia, pihak-pihak di kawasan tersebut akan semakin dihadapkan pada pilihan sulit mengenai infrastruktur mana yang harus dilindungi, mulai dari fasilitas minyak, instalasi militer, istana kerajaan hingga bandara sipil.

Goldman Sachs dalam catatannya menaikkan proyeksi harga minyak Brent pada Desember menjadi USD90 per barel dari sebelumnya USD85 per barel.

Bank tersebut memperkirakan terdapat premi risiko sedikit di atas USD20 per barel.

Goldman Sachs menambahkan harga WTI kemungkinan tetap lebih rendah dibandingkan Brent akibat tingginya biaya pengiriman antara AS dan Eropa.

Harga WTI diperkirakan rata-rata mencapai USD81 per barel pada Desember 2026 dan USD73 per barel pada 2027.

Sementara itu, di Teluk Meksiko, perusahaan energi Shell, Chevron, dan BP berupaya mengerahkan kembali personel serta memulihkan produksi di fasilitas lepas pantai mereka setelah Badai Isaias mendarat pada Sabtu pagi.

Di sisi lain, harga gasoil berjangka ICE turun 2,3 persen menjadi USD1.449 per metrik ton setelah Trump pada Jumat mengatakan Rusia segera memasok lebih dari 300.000 metrik ton atau sekitar 2,25 juta barel diesel ke pasar AS dan global. Pasokan tambahan juga diperkirakan menyusul. (Aldo Fernando)

SHARE