Harga Minyak Brent Stabil, Pasar Cermati Pelonggaran Sanksi Armada Bayangan Global
Harga minyak Brent relatif stabil pada Kamis (15/10/2026) karena investor mencermati kemungkinan langkah Amerika Serikat (AS).
IDXChannel - Harga minyak Brent relatif stabil pada Kamis (15/10/2026) karena investor mencermati kemungkinan langkah Amerika Serikat (AS) untuk melonggarkan pembatasan terhadap armada kapal tanker yang dikenal sebagai shadow fleet.
Di sisi lain, konflik di Timur Tengah masih menjaga premi risiko geopolitik di pasar minyak.
Harga minyak mentah Brent, acuan global, ditutup turun tipis 0,13 persen menjadi USD105,92 per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup naik 3,03 persen menjadi USD97,97 per barel.
Penguatan tersebut didukung penurunan stok minyak mentah AS yang lebih besar dari perkiraan.
Pembahasan mengenai shadow fleet berlangsung beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump untuk sementara mencabut sanksi terhadap bahan bakar diesel Rusia guna meredakan lonjakan harga energi global.
Pembicaraan terbaru berfokus pada kemungkinan Washington mengizinkan "minyak legal" mengalir melalui kapal-kapal yang sebelumnya dikenai sanksi, menurut seorang pejabat AS.
Departemen Energi AS mengatakan langkah untuk meringankan sanksi terhadap shadow fleet tidak akan membantu Rusia mengangkut minyak maupun produk minyak.
Departemen Keuangan AS menyerahkan pertanyaan terkait kebijakan tersebut kepada Departemen Energi.
Di sisi lain, persediaan minyak mentah dan produk distilat AS turun pada pekan lalu, sementara stok bensin meningkat, menurut data Energy Information Administration (EIA).
Stok minyak mentah AS turun 8,6 juta barel menjadi 415,6 juta barel pada pekan yang berakhir 9 Oktober.
Penurunan tersebut jauh lebih besar dibandingkan perkiraan analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan penurunan 288.000 barel.
Harga minyak juga mendapat dukungan dari meningkatnya konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman serta kembali terjadinya serangan terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut.
Sebuah kapal kontainer dan kapal pengangkut muatan curah kering tenggelam di dekat Selat Hormuz setelah terkena proyektil dalam dua insiden terpisah, menurut pejabat maritim pada Rabu.
Serangan di sekitar jalur perairan tersebut meningkat dalam 10 hari terakhir.
Iran mengatakan pihaknya meningkatkan serangan sebagai respons terhadap blokade AS terhadap pelabuhannya serta sanksi yang lebih ketat yang diberlakukan bulan lalu.
"Konflik yang masih berlangsung antara Arab Saudi dan Houthi menjaga premi geopolitik di pasar minyak, tetapi infrastruktur energi belum menjadi sasaran serangan dalam beberapa hari terakhir," kata analis MUFG dalam sebuah catatan. (Aldo Fernando)