Harga Emas Tertekan, The Fed Jadi Penentu Arah Harga Pekan Ini
Harga emas dunia tertekan sepanjang pekan lalu, meski sempat menguat pada perdagangan Jumat (11/9/2026).
IDXChannel – Harga emas dunia tertekan sepanjang pekan lalu, meski sempat menguat pada perdagangan Jumat (11/9/2026).
Namun, sentimen pasar mulai kembali bullish menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada pekan ini.
Harga emas spot naik 0,75 persen pada Jumat lalu menjadi USD4.349,42 per troy ons. Kendati demikian, secara keseluruhan harga emas masih turun sekitar 1,82 persen sepanjang pekan.
Tekanan terhadap emas terutama datang dari meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed setelah sejumlah data inflasi Amerika Serikat (AS) menunjukkan tekanan harga yang lebih kuat.
Harga emas sempat anjlok hampir 2 persen pada Kamis (10/9), setelah data Producer Price Index (PPI) AS menunjukkan harga produsen meningkat pada Agustus sesuai dengan ekspektasi pasar.
Tekanan berlanjut setelah data Consumer Price Index (CPI) AS menunjukkan inflasi meningkat 0,4 persen pada Agustus, setelah hanya naik 0,1 persen pada Juli, berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS.
Data tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed bakal menaikkan suku bunga pada pertemuan pekan ini.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga mencapai 87 persen, naik dari 67 persen sebelum data inflasi dirilis.
Meski demikian, survei mingguan Kitco News menunjukkan pandangan Wall Street kembali bullish setelah harga emas bangkit pada akhir pekan.
Sementara itu, investor ritel atau Main Street memangkas porsi pandangan bullish mereka setelah emas kembali mencatat penurunan mingguan.
“Emas kemungkinan diperdagangkan lebih tinggi menjelang pertemuan FOMC,” ujar Managing Director Bannockburn Global Forex, Marc Chandler.
Menurut dia, area USD4.460-USD4.510 dapat menjadi sasaran teknikal yang masuk akal. Namun, hasil pertemuan The Fed tetap menjadi faktor penentu utama arah emas.
Sementara itu, Head of Currency Strategy investingLive, Adam Button, memperkirakan harga emas bergerak turun.
“The Fed akan menaikkan suku bunga, dan itu memberikan bias negatif bagi emas. Namun, jika pernyataan dan konferensi pers The Fed tidak cukup hawkish, emas dapat dengan cepat kembali menguat,” kata Button.
Pandangan bullish disampaikan President dan COO Asset Strategies International, Rich Checkan.
Menurut dia, data inflasi AS memberikan sinyal yang beragam karena PPI sedikit turun sementara CPI meningkat.
“Inflasi memberikan gambaran yang beragam. PPI sedikit turun dan CPI sedikit naik,” ujar Checkan.
Senada, Senior Commodities Broker StoneX Group, Bob Haberkorn, menilai ruang penurunan harga logam mulia mulai terbatas karena suku bunga kemungkinan tidak dapat naik jauh lebih tinggi.
Survei Kitco News yang melibatkan 14 analis menunjukkan sentimen Wall Street kembali condong bullish, meskipun emas mencatat penurunan dalam sepekan terakhir. Sebanyak sembilan analis atau 64 persen memperkirakan harga emas menguat pada pekan ini.
Sebanyak dua analis atau 14 persen memperkirakan emas kembali turun, sedangkan tiga analis atau 21 persen memproyeksikan harga emas bergerak sideways dengan volatilitas.
Dari sisi investor ritel, hasil jajak pendapat Kitco yang diikuti 218 responden juga masih menunjukkan mayoritas bullish, meski dengan selisih tipis. Sebanyak 115 investor atau 53 persen memperkirakan harga emas naik pada pekan ini.
Sebanyak 52 investor atau 24 persen memperkirakan harga emas turun, sementara 51 investor atau 23 persen memproyeksikan emas berkonsolidasi.
Perhatian pasar pekan ini akan tertuju pada sejumlah keputusan bank sentral, dengan The Fed menjadi agenda utama. Bank of England (BoE) dan Bank of Japan (BoJ) juga dijadwalkan mengumumkan kebijakan moneternya dalam kalender ekonomi yang padat.
Pada Rabu (16/9), pelaku pasar terlebih dahulu mencermati data penjualan ritel AS untuk Agustus. Setelah itu, perhatian beralih ke keputusan kebijakan moneter The Fed pada pukul 14.00 waktu AS atau Kamis dini hari WIB.
Pasar saat ini memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Karena kenaikan tersebut telah banyak diperhitungkan, arah emas kemungkinan lebih banyak ditentukan oleh sinyal The Fed mengenai kebijakan selanjutnya, terutama melalui pernyataan dan konferensi pers.
Sehari setelahnya, BoE dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan moneternya. Sejumlah data ekonomi AS juga akan dirilis, termasuk klaim pengangguran mingguan, survei manufaktur Philadelphia Fed, housing starts, building permits, serta pending home sales untuk Agustus.
Pekan ini kemudian ditutup dengan keputusan kebijakan moneter BoJ pada Kamis malam hingga Jumat dini hari WIB. (Aldo Fernando)