MARKET NEWS

Harga CPO Turun Lebih dari 1 Persen, Stok Melimpah Tekan Pasar

TIM RISET IDX CHANNEL 27/10/2026 15:52 WIB

Harga minyak sawit mentah (CPO) Malaysia turun lebih dari 1 persen pada Selasa (27/10/2026), memperpanjang pelemahan untuk hari kedua berturut-turut.

Harga CPO Turun Lebih dari 1 Persen, Stok Melimpah Tekan Pasar. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Harga minyak sawit mentah (CPO) turun lebih dari 1 persen pada Selasa (27/10/2026), memperpanjang pelemahan untuk hari kedua berturut-turut.

Penurunan CPO seiring melemahnya harga minyak nabati di Bursa Dalian, China, serta tingginya persediaan minyak sawit.

Kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Januari di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 1,71 persen menjadi 4.707 ringgit per ton pada pukul 15.27 WIB.

Seorang trader yang berbasis di Kuala Lumpur mengatakan, seperti dikutip Reuters, pergerakan pasar saat ini mengikuti pelemahan harga minyak nabati di Dalian.

Dalam laporan Oktober, LSEG Agriculture Research menyebut harga CPO menguat sepanjang bulan ini, didukung kekhawatiran berlanjut mengenai risiko penurunan produksi akibat fenomena El Nino serta meningkatnya permintaan domestik seiring program biodiesel Indonesia.

Namun, laporan tersebut menilai persediaan minyak sawit Malaysia yang mencapai rekor tertinggi berpotensi membatasi kenaikan harga lebih lanjut.

Stok minyak sawit Malaysia melonjak menjadi 3,51 juta ton pada September.

Kenaikan ini terjadi ketika produksi mencapai rekor tertinggi sepanjang masa, melampaui ekspektasi pasar sekaligus membawa persediaan ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Tekanan terhadap harga juga datang dari pasar minyak nabati lainnya. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian turun 2,4 persen, sedangkan kontrak minyak sawit di bursa yang sama melemah 3,15 persen.

Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade turun 0,34 persen.

Harga CPO cenderung mengikuti pergerakan minyak nabati pesaing karena komoditas tersebut bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.

Dari pasar energi, harga minyak mentah bergerak melemah di tengah harapan penyelesaian konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran yang meredakan kekhawatiran gangguan pasokan.

Meski demikian, harga Brent masih bertahan di dekat level tertinggi dalam enam bulan terakhir setelah serangan kelompok Houthi Yaman terhadap Arab Saudi mengurangi harapan tercapainya stabilitas kawasan dalam waktu dekat.

Pelemahan harga minyak mentah membuat minyak sawit kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel, sehingga berpotensi menambah tekanan terhadap harga CPO.

Dari sisi mata uang, ringgit Malaysia, yang digunakan dalam transaksi CPO, menguat 0,02 persen terhadap dolar AS. Penguatan ini membuat minyak sawit sedikit lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.

Di tengah tekanan harga, ekspor minyak sawit Malaysia justru menunjukkan pertumbuhan.

Lembaga survei kargo memperkirakan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada periode 1-25 Oktober meningkat antara 46,9 persen hingga 67,7 persen dibandingkan bulan sebelumnya. (Aldo Fernando)

SHARE