MARKET NEWS

Harga CPO Melemah, Biaya Ekspor Sawit Indonesia Lebih Murah

TIM RISET IDX CHANNEL 02/11/2026 15:08 WIB

Harga minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia melemah pada perdagangan Senin (2/11/2026).

Harga CPO Melemah, Biaya Ekspor Sawit Indonesia Lebih Murah. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Harga minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia melemah pada perdagangan Senin (2/11/2026).

Tekanan datang dari penurunan biaya ekspor sawit Indonesia yang meningkatkan persaingan harga, di tengah pelemahan harga minyak mentah dan kekhawatiran meningkatnya persediaan.

Kontrak acuan CPO untuk pengiriman Januari di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 0,66 persen menjadi 4.650 ringgit per ton pada pukul 14.41 WIB.

Pasar mengawali perdagangan pertama November dengan pelemahan setelah Indonesia menurunkan harga referensi CPO dan pungutan ekspor untuk November.

Kondisi tersebut mendorong harga CPO Malaysia ikut terkoreksi agar tetap kompetitif di pasar global.

Seorang trader berbasis di Kuala Lumpur mengatakan penyesuaian harga tersebut dilakukan untuk mempertahankan daya saing produk sawit Malaysia terhadap pasokan dari Indonesia.

Kepala Riset Sunvin Group, Anilkumar Bagani, mengatakan kontrak CPO juga terkoreksi mengikuti pelemahan harga energi serta belum adanya kepastian mengenai pembebasan pajak ekspor minyak sawit Malaysia.

"Tanpa katalis positif, perhatian pasar kembali tertuju pada kondisi pasokan dan permintaan yang sebenarnya. Saat ini, pasokan masih lebih besar dibandingkan permintaan," ujar Bagani, dikutip Reuters.

Di sisi lain, data survei kargo Intertek Testing Services memperkirakan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada Oktober meningkat 45,4 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Sementara itu, AmSpec Agri Malaysia dijadwalkan merilis estimasi ekspornya pada Senin.

Tekanan juga datang dari pasar energi. Harga minyak mentah turun lebih dari 3 persen setelah pejabat Iran dan Qatar menggelar pembicaraan selama tiga hari berturut-turut untuk mendorong kesepakatan mengakhiri perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.

Pelemahan harga minyak mentah membuat minyak sawit relatif kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel, sehingga mengurangi salah satu sumber dukungan permintaan terhadap komoditas tersebut.

Meski demikian, pergerakan minyak nabati pesaing menunjukkan tren beragam. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian naik 0,59 persen, sedangkan kontrak minyak sawitnya menguat 0,72 persen.

Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade naik tipis 0,02 persen.

Harga minyak sawit umumnya mengikuti pergerakan minyak nabati pesaing karena ketiganya bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.

Dari sisi nilai tukar, ringgit Malaysia melemah 0,25 persen terhadap dolar AS.

Kondisi ini membuat harga minyak sawit sedikit lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing. (Aldo Fernando)

SHARE