ESG Risk Rating Terus Membaik, Begini Prospek Bisnis Mitratel (MTEL) Versi Analis
MTEL berada di peringkat ke-28 secara global, pada sektor telekomunikasi, berdasarkan penilaian Morningstar Sustainalytics.
IDXChannel - PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), atau Mitratel, terus berupaya mempertahankan tren perbaikan tata kelola dan praktik environmental., social & governance (ESG) yang telah berjalan dalam sedikitnya tiga tahun terakhir.
Langkah tersebut terkonfirmasi lewat data ESG Risk Rating Sustainalytics Perseroan, yang terus mengalami peningkatan signifikan, di mana pada 2022, MTEL masih berada pada kategori High Risk dengan skor 34,5.
Setahun kemudian, anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) itu berhasil menurunkan risikonya ke kategori Medium Risk dengan skor 22,4, sebelum mencapai kategori Low Risk pada 2024 dengan skor 19,3 dan pada 2025 skor terus menanjak hingga mencapai 18,8.
Pada 2026, Mitratel mencatat ESG Risk Rating sebesar 18,6 dengan kategori Low Risk, membaik dari 18,8 pada 2025, yang sekaligus menempatkan Perseroan di peringkat ke-28 secara global, pada sektor telekomunikasi, berdasarkan penilaian Morningstar Sustainalytics.
"Dengan tren rating yang terus meningkat ini, menunjukkan bahwa posisi ESG di MTEL telah berkembang, dari sekadar fungsi kepatuhan menjadi salah satu pendorong keunggulan kompetitif perusahaan," ujar Analis Sinarmas Sekuritas, Yosua Zisokhi, dalam keterangan resminya, Selasa (11/8/2-2026).
Menurut Yosua, tren perbaikan ESG Risk Rating dalam kurun waktu tiga tahun merupakan pencapaian yang menunjukkan adanya konsistensi implementasi, dan bukan sekadar inisiatif jangka pendek.
Hal ini diyakini Yosua berpotensi memperkuat persepsi investor terhadap kualitas tata kelola dan keberlanjutan bisnis MTEL.
Dengan posisi MTEL sebagai perusahaan dengan ESG Risk Rating terbaik di industri menara telekomunikasi nasional, Yosua juga menilai bahwa hal tersebut bakal mampu memberikan nilai tambah di tengah meningkatnya perhatian investor terhadap faktor keberlanjutan.
"Investor kini semakin mempertimbangkan kualitas ESG sebagai bagian dari penilaian risiko jangka panjang. Emiten yang mampu menunjukkan perbaikan secara konsisten umumnya memiliki daya tarik lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang hanya berfokus pada kinerja finansial," ujar Yosua.
Selain memperkuat reputasi perusahaan di mata investor, implementasi ESG juga dinilai memberikan manfaat nyata terhadap efisiensi operasional.
Penggunaan energi yang lebih efisien, digitalisasi proses, serta penguatan tata kelola diyakini dapat membantu perusahaan menjaga profitabilitas sekaligus meningkatkan ketahanan bisnis di tengah perubahan lanskap industri telekomunikasi.
Sementara, dalam kesempatan terpisah, Direktur Utama Mitratel, Theodorus Ardi Hartoko, menyatakan bahwa pihaknya secara konsisten terus memperkuat tata kelola dan praktik ESG, sebagai bagian dari upaya transformasi yang sejalan dengan program strategis Danantara Indonesia dan TelkomGroup.
Perjalanan ESG MTEL ditandai dengan transformasi yang berjalan sejak Perseroan menggelar Initial Public Offering (IPO), di mana Perseroan senantiasa melakukan penyempurnaan tata kelola, pengelolaan lingkungan, hingga aspek sosial sehingga berhasil meningkatkan profil ESG secara bertahap dari tahun ke tahun.
Selain menempatkan MTEL di peringkat Risiko ESG Terbaik di antara perusahaan menara dan telekomunikasi, capaian tersebut juga menopang Perseroan guna menempati peringkat 12 untuk ESG Score for Listed Companies in Indonesia serta tercatat dalam Indeks IDX ESG Leaders.
Mitratel juga memperkuat penerapan prinsip keberlanjutan melalui ISO 26000, dengan pencapaian pada level tertinggi, yaitu Optimizing & Excellent, berdasarkan asesmen TÜV SÜD.
Bagi Theodorus, kerja keras seluruh pihak di Mitratel untuk mencapai target risiko ESG rendah kini telah berbuah positif dengan adanya pengakuan secara global melalui ESG Risk Rating oleh Sustainalytics.
"Namun, perjalanan ESG kami tidak berhenti sampai di sini. Kami terus berkomitmen untuk semakin memprioritaskan dan mengintegrasikan prinsip prinsip keberlanjutan ke dalam operasi bisnis serta keputusan strategis kami," ujar Theodorus.
Dengan upaya tersebut, menurut Theodorus, pihaknya diharapkan dapat lebih berdampak serta memberikan manfaat dan nilai tambah kepada lingkungan, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan.
Meski berhasil meraih Low Risk ESG Rating hanya dalam beberapa tahun, transformasi ESG Mitratel disebut Thedorus telah berjalan lancar dan instan, di mana pada tahap awal, MTEL fokus menggarap ESG pada penguatan kepatuhan melalui berbagai sertifikasi internasional, peningkatan efisiensi energi, pemanfaatan energi hijau, hingga penyusunan strategi keberlanjutan yang menjadi acuan perusahaan dalam jangka panjang.
Selanjutnya, MTEL memperkuat fondasi tata kelola melalui penerapan sistem manajemen keamanan informasi, penguatan kode etik perusahaan, implementasi mekanisme whistleblowing, serta peningkatan kualitas keterbukaan informasi dan pengawasan dewan terhadap aspek ESG.
Penguatan tersebut juga berjalan beriringan dengan aspek standar kesehatan dan keselamatan kerja (K3) serta berbagai sertifikasi ISO untuk memastikan operasional perusahaan memenuhi standar yang berlaku.
Di lingkungan kerja, MTEL juga berkomitmen membuka kesempatan yang setara serta mendukung keberagaman dan inklusifitas.
Memasuki fase berikutnya, ESG mulai menjadi bagian dari strategi bisnis perusahaan.
MTEL memperkuat implementasi sistem manajemen lingkungan, menerapkan praktik anti-suap, meningkatkan transparansi tata kelola, serta berhasil masuk dalam indeks SRI-KEHATI sebagai pengakuan atas komitmennya terhadap praktik bisnis berkelanjutan.
"Ke depan, kami menargetkan untuk mempertahankan status Low Risk sekaligus memperluas dampak implementasi ESG terhadap operasional yang sejalan dengan arah strategis Danantara Indonesia maupun TLKM," ujar Theodorus.
(taufan sukma)