MARKET NEWS

Emiten Batu Bara Tawarkan Dividend Yield 9 Persen, Dua Saham Ini Disorot

TIM RISET IDX CHANNEL 29/10/2026 06:26 WIB

Saham sektor batu bara diproyeksikan menawarkan imbal hasil dividen rata-rata sekitar 9 persen per tahun pada 2026-2028.

Emiten Batu Bara Tawarkan Dividend Yield 9 Persen, Dua Saham Ini Disorot. (Foto: iStock)

IDXChannel - Saham sektor batu bara diproyeksikan menawarkan imbal hasil dividen rata-rata sekitar 9 persen per tahun pada 2026-2028.

Potensi pendapatan dividen ini dapat menjadi bantalan bagi investor di tengah ketidakpastian pasar saham, meski keberlanjutannya akan bergantung pada pengendalian biaya, arus kas, dan kebijakan pemerintah.

Analis CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI), Rut Yesika Simak dan Juan Christian Abimanyu, memperkirakan harga batu bara Newcastle secara bertahap melandai dari USD133 per ton pada 2026 menjadi USD131 per ton pada 2027 dan USD125 per ton pada 2028.

Meski demikian, proyeksi tersebut masih lebih tinggi dibandingkan level harga pada 2025.

Dalam riset yang terbit pada 23 Oktober 2026, keduanya menilai harga gas alam cair (LNG) yang masih tinggi di Asia dapat menopang permintaan batu bara.

Pembangkit listrik yang memiliki fleksibilitas bahan bakar berpeluang beralih ke batu bara ketika harga gas mahal, sehingga membantu menjaga arus kas perusahaan tambang.

Namun, dukungan tersebut diperkirakan berangsur berkurang seiring pulihnya pasokan LNG dan batu bara.

Karena itu, kemampuan perusahaan menjaga efisiensi operasional dan mengonversi pendapatan menjadi arus kas akan semakin menentukan besaran dividen yang dapat dibagikan.

Permintaan domestik batasi pertumbuhan ekspor

Dari sisi pasokan, CGSI memperkirakan produksi batu bara Indonesia meningkat 2,9 persen menjadi 720 juta ton pada 2027.

Pada saat yang sama, konsumsi domestik diproyeksikan bertambah 15 juta ton menjadi 275 juta ton.

Dengan demikian, sekitar tiga perempat dari tambahan produksi akan terserap oleh kebutuhan dalam negeri.

Ketersediaan batu bara untuk ekspor diperkirakan hanya bertambah sekitar 5 juta ton secara tahunan, sebelum memperhitungkan penyesuaian lainnya.

Permintaan listrik dari pusat data atau data center turut berkontribusi terhadap kenaikan konsumsi tersebut.

CGSI mengestimasi sektor ini menyerap sekitar 900 ribu ton batu bara pada 2027, setara 6,3 persen dari tambahan permintaan domestik. Selebihnya terutama berasal dari pertumbuhan kebutuhan listrik dan aktivitas industri yang lebih luas.

Meski ruang pertumbuhan ekspor Indonesia relatif terbatas, pemulihan produksi batu bara di China dan India tetap menjadi risiko bagi harga global.

“Pemulihan produksi di China dan India dapat mengurangi impor batu bara kedua negara tersebut dan menekan harga batu bara seaborne, meski pertumbuhan ekspor Indonesia diperkirakan terbatas,” tulis analis CGSI.

Kebijakan pemerintah jadi risiko

Selain pergerakan harga komoditas, perusahaan tambang batu bara menghadapi ketidakpastian regulasi.

CGSI mencatat pemerintah memperkenalkan 24 kebijakan utama terkait batu bara sepanjang Januari 2025 hingga Oktober 2026.

Sejumlah kebijakan berlaku bagi seluruh industri, termasuk kuota produksi dan kewajiban pemenuhan kebutuhan batu bara domestik atau domestic market obligation (DMO), yang dapat memengaruhi harga jual dan operasional perusahaan.

Di sisi lain, ketentuan khusus bagi masing-masing perusahaan, seperti persetujuan kontraktor terafiliasi, kewajiban penempatan devisa hasil ekspor, serta potensi pungutan ekspor melalui entitas baru pengelola ekspor batu bara, PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), dapat menimbulkan dampak berbeda terhadap biaya dan arus kas setiap emiten.

Kondisi tersebut membuat besaran dividen tidak hanya ditentukan oleh harga jual batu bara, tetapi juga oleh kemampuan perusahaan beradaptasi dengan aturan baru dan menjaga fleksibilitas keuangan.

AADI sebagai pilihan utama

Di tengah kondisi tersebut, CGSI mempertahankan rekomendasi Add untuk PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan Hold untuk PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).

Sementara itu, rekomendasi saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dinaikkan dari Hold menjadi Add.

CGSI masih menggunakan target rasio harga terhadap laba atau price-to-earnings ratio (P/E) sebesar 0,5 standar deviasi di bawah rata-rata historis masing-masing perusahaan pada periode 2008-2025, ketika harga batu bara Indonesian Coal Index 3 (ICI3) berada di kisaran USD70-90 per ton.

Pendekatan valuasi tersebut mencerminkan risiko siklus komoditas, ketidakpastian regulasi, dan risiko eksekusi bisnis yang masih membayangi sektor batu bara.

AADI menjadi pilihan utama CGSI karena potensi imbal hasil dividen dan fleksibilitas permodalan setelah perusahaan memperoleh sekitar USD661 juta dari penjualan kepemilikannya di Kestrel Coal, perusahaan batu bara Australia.

Kenaikan rekomendasi PTBA didukung basis biaya yang lebih rendah serta peningkatan kapasitas angkutan batu bara melalui jalur kereta api Keramasan.

Sementara itu, pemulihan kinerja ITMG dinilai masih bergantung pada keberhasilan penghematan biaya dalam skala besar dan ekspansi tambang.

CGSI melihat potensi kenaikan bagi sektor batu bara apabila harga komoditas lebih kuat dari perkiraan, kinerja operasional melampaui ekspektasi, atau perusahaan membagikan dividen lebih besar.

Sebaliknya, normalisasi harga yang lebih cepat, pembengkakan biaya, keterlambatan perizinan atau pengiriman, serta penurunan dividen menjadi risiko yang perlu dicermati investor. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE