Dolar AS Catatkan Kenaikan Mingguan selama Tiga Minggu Berturut, Euro Bangkit dan Yen Menguat
Mata uang AS mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 1 persen didorong oleh aksi jual besar-besaran yang terus berlanjut di pasar obligasi Treasury AS.
IDXChannel – Mata uang AS mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 1 persen didorong oleh aksi jual besar-besaran yang terus berlanjut di pasar obligasi Treasury AS serta pelemahan euro.
Indeks tersebut membukukan tren penguatan selama tiga minggu berturut-turut untuk pertama kalinya sejak pertengahan Januari.
Meski begitu, indeks dolar AS mengakhiri tren penguatan empat hari berturut-turut pada Jumat (3/10/2026) setelah laporan ketenagakerjaan yang lebih lemah dari perkiraan mengurangi ekspektasi akan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.
Pada pukul 15.36 waktu setempat (19.36 GMT), indeks dolar AS—yang mengukur nilai mata uang utama dunia tersebut terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya—turun 0,2 persen ke level 101,93.
Di sisi lain, yen Jepang menguat karena data inflasi Tokyo yang tinggi meningkatkan kemungkinan pengetatan kebijakan Bank of Japan, sementara euro bangkit kembali dari penurunan terburuknya sejak pertengahan Juni.
Laporan Ketenagakerja Melemah Kurangi Spekulasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS), jumlah lapangan kerja non-pertanian (nonfarm payrolls) bertambah 29.000 pada bulan lalu, jauh di bawah perkiraan sebesar 89.000. Pertumbuhan bulanan ini merupakan yang paling lambat sepanjang tahun.
Selain itu, angka lapangan kerja non-pertanian gabungan untuk Juli dan Agustus direvisi turun sebanyak 60.000. Sementara itu, tingkat pengangguran naik tipis menjadi 4,2 persen pada September dari 4,1% persen pada Agustus.
Data ini muncul di tengah indikator-indikator lain yang menunjukkan ketahanan ekonomi AS dan sedikit pelonggaran pada tingkat inflasi yang sebelumnya sangat tinggi. Dalam situasi seperti ini, tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja biasanya membuat bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga tetap stabil; pengetatan kebijakan memang dapat meredam tekanan harga, namun berisiko semakin menghambat pertumbuhan ekonomi dan aktivitas ketenagakerjaan.
Reaksi pasar terhadap ekspektasi suku bunga The Fed pada Oktober mencerminkan hal tersebut. Berdasarkan perangkat CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin (quarter-point) pada akhir bulan ini turun hingga mendekati 23 persen, sementara peluang bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil melonjak hingga sekitar 77 persen.
Probabilitas kenaikan suku bunga sempat menurun di awal pekan setelah data terbaru mengenai indikator inflasi acuan The Fed menunjukkan angka yang lebih rendah dari perkiraan dan melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Meski demikian, angka utama sebesar 3,4 persen masih jauh di atas target tahunan The Fed yang sebesar 2 persen.
Lingkungan suku bunga rendah cenderung melemahkan nilai tukar dolar.
Aksi Jual Obligasi Berlanjut
Aksi jual di pasar obligasi AS sempat terhenti setelah rilis laporan ketenagakerjaan—di tengah menurunnya kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat—namun aksi jual kembali terjadi pada hari yang sama.
Berkurangnya probabilitas pengetatan kebijakan The Fed telah memberikan dampak positif bagi obligasi tenor pendek yang lebih sensitif terhadap suku bunga, seperti imbal hasil (yield) Treasury tenor 2 tahun, pada pekan ini.
Namun, obligasi tenor panjang justru tertekan akibat kombinasi kekhawatiran inflasi terkait harga minyak, kecemasan pasar terhadap besarnya penerbitan utang perusahaan untuk mendanai pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), serta membengkaknya utang fiskal.
Imbal hasil tenor 2 tahun telah turun 3,3 basis poin sepanjang pekan ini. Sebaliknya, imbal hasil tenor 10 tahun naik 10,7 basis poin, sementara tenor 30 tahun naik 13,6 basis poin. Pada Kamis, kedua instrumen tersebut masing-masing menyentuh level tertinggi sejak 1 April 2002 dan 20 Mei 2002.
Aksi jual obligasi ini menjadi salah satu faktor utama yang mendorong penguatan dolar pada pekan ini.
Euro Bangkit Kembali
Mata uang dolar AS juga mendapat keuntungan dari pelemahan euro. Mata uang tunggal Eropa tersebut menguat 0,1 persen ke level USD1,1258 pada Jumat—sebuah pemulihan tipis sehari setelah mencatat penurunan harian (intraday) terdalam sejak 17 Juni.
Meski demikian, secara keseluruhan euro mencatat penurunan sebesar 1,2 persen sepanjang pekan ini. Sentimen di Eropa berada di bawah tekanan setelah dirilisnya rancangan anggaran Prancis untuk tahun 2027. Negara tersebut menargetkan defisit publik sebesar 5 persen dari produk domestik bruto (PDB) melalui usulan pemangkasan belanja sebesar 54 miliar euro (USD60,79 miliar).
Anggaran ini muncul di saat Prancis sedang terbebani oleh masalah fiskal yang berat; defisitnya diproyeksikan mencapai 5,4 persen dari PDB tahun ini dan utang publik mendekati 120 persen dari PDB. Imbal hasil obligasi pemerintah Prancis (OAT) melonjak—dengan biaya pinjaman acuan tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak Juli 2002—dan selisih imbal hasil (spread) antara obligasi tersebut dengan obligasi pemerintah Jerman (Bund) pun melebar.
"USD naik tajam terhadap sebagian besar mata uang utama kemarin, namun dorongan utamanya berasal dari anjloknya EUR. Meski demikian, kami tidak terkejut; kami telah menyatakan kemarin pagi bahwa penurunan EUR/USD tidak sedalam penurunan beberapa indikator kredit pemerintah Prancis... yang telah mencapai level tertinggi seperti saat krisis utang Eropa tahun 2010-2013," ujar ahli strategi valuta asing (FX) dan suku bunga global di Macquarie, Thierry Wizman.
Lebih lanjut, dia mengatkaan Kenaikan premi risiko utang pemerintah Prancis kini kemungkinan besar meniadakan kemungkinan kenaikan suku bunga oleh ECB pada 29 Oktober merujuk pada Bank Sentral Eropa (European Central Bank).
"Kami juga menduga bahwa narasi yang muncul dari Prancis dan Zona Euro dapat meredam kecenderungan The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga. Jika kawasan Euro atau negara-negara UE secara umum terpaksa menerapkan langkah-langkah penghematan demi meredam kekhawatiran pasar obligasi, permintaan agregat global akan terdampak negatif," tambah Wizman.
Di sisi lain, data menunjukkan inflasi utama Zona Euro naik tajam menjadi 3,8 persen pada September dari 3,2 persen pada bulan sebelumnya, melampaui perkiraan sebesar 3,6 persen. Lonjakan ini terutama didorong oleh biaya gas alam dan bahan bakar. Angka inflasi inti yang menjadi sorotan—yang tidak memperhitungkan harga energi dan pangan yang fluktuatif—naik tipis menjadi 2,5 persen dari 2,4 persen, didorong oleh kenaikan biaya di sektor jasa.
Yen Menguat Menyusul Data Inflasi Tokyo
Di Asia, yen Jepang mencatatkan penguatan, naik ke level 157,82 terhadap dolar AS. Kenaikan ini dipicu oleh data harga konsumen Tokyo yang menunjukkan bahwa inflasi umum maupun inflasi inti sama-sama melonjak ke tingkat tertinggi sejak November 2025—jauh melampaui target 2 persen Bank of Japan (BOJ).
Data tersebut memperkuat keyakinan pasar bahwa BOJ akan melanjutkan langkah pengetatan kebijakan moneter dalam beberapa bulan mendatang, menyusul kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin pada bulan September. Prospek kenaikan suku bunga lebih lanjut memicu aksi beli terhadap surat utang pemerintah Jepang, sehingga menurunkan biaya pinjaman acuan tenor 10 tahun sebesar 1,2 basis poin setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam 30 tahun pada awal pekan ini. (Febrina Ratna Iskana)