MARKET NEWS

Demutualisasi BEI hingga Aturan Free Float Jadi Babak Baru Reformasi Pasar Modal

TIM RISET IDX CHANNEL 08/10/2026 06:29 WIB

Reformasi pasar modal Indonesia diperkirakan memasuki babak baru dengan dua agenda besar yang mulai mengemuka.

Demutualisasi BEI hingga Aturan Free Float Jadi Babak Baru Reformasi Pasar Modal. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Reformasi pasar modal Indonesia diperkirakan memasuki babak baru dengan dua agenda besar yang mulai mengemuka, yakni demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) dan peningkatan batas minimum free float emiten.

Keduanya dinilai berpotensi memperkuat tata kelola sekaligus meningkatkan daya tarik pasar saham Indonesia dalam jangka panjang, meski implementasinya dapat menimbulkan tekanan dalam jangka pendek.

Analis Bahana Sekuritas Raja Abdalla mengatakan demutualisasi BEI berpotensi menjadi langkah besar berikutnya dalam reformasi pasar modal Indonesia dan diperkirakan dapat berlangsung dalam 6-12 bulan ke depan.

Dalam proses tersebut, BEI diperkirakan dapat melepas saham minoritas hingga 40 persen. Danantara berpotensi mengambil peran utama dalam konsorsium pembeli bersama institusi strategis lainnya, termasuk Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan.

Raja menilai struktur konsorsium memungkinkan kepemilikan saham BEI didistribusikan kepada sejumlah institusi, terutama setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menetapkan batas kepemilikan maksimal 5 persen untuk satu entitas.

Menurut dia, demutualisasi akan memperkuat tata kelola dan transparansi sekaligus mengurangi potensi konflik kepentingan dalam ekosistem pasar modal.

"Demutualisasi akan memberikan dampak struktural positif bagi pasar modal Indonesia karena dapat memperkuat tata kelola, meningkatkan transparansi, serta mengurangi potensi konflik kepentingan," tulis Raja dalam riset yang terbit pada 6 Oktober 2026.

Di sisi lain, reformasi free float akan menjadi ujian yang lebih dekat bagi pasar.

Perusahaan dengan kapitalisasi pasar di atas Rp5 triliun dan free float di bawah ambang batas 12,5 persen dan 15 persen diwajibkan memenuhi ketentuan tersebut paling lambat Februari 2027.

Bahana memperkirakan sekitar Rp39 triliun hingga Rp75 triliun saham perlu diserap pasar untuk memenuhi ketentuan tersebut.

Dalam jangka pendek, tambahan pasokan saham berpotensi menciptakan overhang alias tekanan karena minat investor asing dan ritel domestik masih terbatas.

Kondisi tersebut terjadi di tengah pembekuan indeks Indonesia oleh MSCI dan kondisi pasar yang belum sepenuhnya mendukung.

Investor institusi domestik kemungkinan perlu melakukan rebalancing portofolio untuk menyerap saham tambahan tersebut.

Sementara itu, sebagian emiten dapat memilih rights issue atau private placement dengan harga diskon untuk memenuhi ketentuan free float.

Namun, dalam jangka panjang, Bahana menilai peningkatan free float akan memperbaiki likuiditas dan investabilitas pasar saham Indonesia.

Median effective free float Indonesia yang sekitar 20 persen saat ini masih termasuk yang terendah di ASEAN.

Tekanan penyerapan saham diperkirakan dapat berkurang apabila MSCI mencabut pembekuan terhadap Indonesia dan partisipasi investor institusi domestik kembali meningkat secara berkelanjutan.

Buka Opsi Privatisasi

Bahana juga melihat perlunya kerangka privatisasi yang lebih fleksibel untuk perusahaan yang tidak bersedia memenuhi ketentuan free float.

Salah satu opsi yang dipertimbangkan BEI adalah mekanisme squeeze-out melalui tender offer.

Dengan mekanisme tersebut, pemegang saham pengendali dapat membeli saham milik pemegang saham minoritas sebelum melakukan delisting, dengan tetap memperhatikan kewajaran harga dan perlindungan investor minoritas.

Menurut Raja, mekanisme tersebut dapat memberikan jalur yang lebih jelas bagi perusahaan untuk melakukan privatisasi sekaligus mengurangi jumlah perusahaan tercatat dengan likuiditas rendah.

“Kami meyakini BEI tengah mempertimbangkan mekanisme tersebut. Jika diterapkan, mekanisme ini dapat memberikan jalur privatisasi yang lebih jelas, mengurangi jumlah perusahaan tercatat yang tidak likuid, serta membuka nilai pada perusahaan yang sahamnya diperdagangkan jauh di bawah nilai intrinsiknya,” tulis Raja.

Secara keseluruhan, Bahana menilai rangkaian reformasi tersebut dapat meningkatkan kualitas dan investabilitas pasar modal Indonesia.

Perbaikan struktur pasar juga berpotensi menurunkan premi risiko ekuitas dan mendukung kenaikan valuasi dalam jangka panjang.

Bahana mempertahankan pandangan konstruktif terhadap pasar saham Indonesia dengan target IHSG akhir 2026 di level 7.100, yang mencerminkan potensi kenaikan sekitar 16 persen. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE