DBS Bantah Rumor Merger, Saham BBCA Balik Jatuh 5 Persen
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami aksi ambil untung (profit taking) pada perdagangan Kamis (29/10/2026).
IDXChannel – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami aksi ambil untung (profit taking) pada perdagangan Kamis (29/10/2026), dengan harga terkoreksi hampir 6 persen setelah DBS Group membantah rumor merger antara anak usahanya, PT Bank DBS Indonesia, dan BCA.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham BBCA turun 5,78 persen ke level Rp4.970 per saham hingga pukul 15.05 WIB.
Koreksi ini terjadi sehari setelah saham bank swasta terbesar di Indonesia tersebut melonjak 7,65 persen pada perdagangan Rabu (28/10/2026), di tengah beredarnya rumor merger di media sosial.
Mengutip The Straits Times, Kamis (29/10/2026), juru bicara DBS menegaskan bahwa kabar mengenai potensi merger tersebut tidak benar.
“Tidak ada kebenaran dalam rumor tersebut,” kata juru bicara DBS menanggapi pertanyaan mengenai spekulasi yang beredar.
Rumor itu menyebutkan Bank DBS Indonesia berpotensi dilebur ke dalam BCA, dengan BCA menjadi entitas yang bertahan setelah merger.
Dalam skema yang beredar, pemegang saham DBS Indonesia dikabarkan akan menerima saham baru BBCA sebagai kompensasi melalui transaksi inbreng atau penyetoran modal dalam bentuk non-tunai.
Spekulasi tersebut turut menyebar melalui media sosial X. Akun Ricky Ho (@rickyho_1989), misalnya, mengunggah kemungkinan transaksi itu dan mengaitkannya dengan lonjakan saham BBCA pada Rabu.
Namun, unggahan tersebut juga menegaskan bahwa kabar itu masih berupa rumor pasar dan belum dikonfirmasi sebagai aksi korporasi resmi.
Dari sisi kepemilikan, menurut Ricky Ho, DBS Bank Ltd menguasai 99 persen saham Bank DBS Indonesia, sedangkan 1 persen sisanya dimiliki BCA.
Bank DBS Indonesia merupakan anak usaha DBS Group yang menyediakan layanan perbankan korporasi, usaha kecil dan menengah, konsumer, serta pengelolaan kekayaan di Indonesia.
Di tengah koreksi saham, kinerja fundamental BCA masih menunjukkan pertumbuhan.
Perseroan membukukan laba bersih Rp45,2 triliun sepanjang Januari-September 2026, meningkat 4,2 persen secara tahunan (year-on-year/YoY).
Pada kuartal III-2026, laba bersih BCA mencapai Rp15,7 triliun, naik 5,6 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) juga pulih 30 basis poin secara kuartalan menjadi 5,6 persen.
Rasio dana murah atau current account and savings account (CASA) mencapai rekor 84,8 persen per September 2026, sedangkan biaya kredit (cost of credit) bertahan di level 40 basis poin.
Manajemen menaikkan target pertumbuhan kredit tahun ini menjadi 10-11 persen dari sebelumnya 8-10 persen.
Meski demikian, pertumbuhan kredit secara tahun berjalan hingga September 2026 baru mencapai 7,1 persen.
Di sisi lain, CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) memangkas target harga BBCA menjadi Rp5.600 dari sebelumnya Rp8.000. Saham BBCA telah terkoreksi 21,6 persen dalam sebulan dan 41,3 persen dalam setahun.
CGSI menilai potensi pertumbuhan kredit dan pemulihan NIM yang melampaui ekspektasi dapat menjadi katalis bagi saham BBCA. Namun, persaingan kredit masih menjadi salah satu risiko yang berpotensi membatasi prospek kinerja perseroan. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.