Danantara dan Swasta Ko-investasi di Migas AS, Analis: Strategis untuk Energi dan Teknologi
Danantara melakukan investasi senilai USD250 juta atau sekitar Rp4,5 triliun (asumsi kurs Rp18.000 per USD) pada pada perusahaan migas Amerika Serikat (AS).
IDXChannel - Danantara melalui Danantara Investment Management (DIM) melakukan investasi senilai USD250 juta atau sekitar Rp4,5 triliun (asumsi kurs Rp18.000 per USD) pada perusahaan migas Amerika Serikat (AS), HighPeak Energy Inc.
Investasi tersebut dilakukan melalui penerbitan saham preferen konvertibel dalam beberapa tahap.
Analis Sinarmas Sekuritas Yosua Zisokhi menilai aksi investasi tersebut dapat dilihat dari dua perspektif. Di satu sisi, Danantara sebagai sovereign wealth fund (SWF) memiliki kepentingan untuk membangun portofolio investasi sekaligus masuk ke aset-aset strategis, khususnya di sektor energi.
“Danantara sebagai sovereign wealth fund (SWF) punya kepentingan untuk investasi portofolio maupun investasi ke aset strategis terutama di sektor energi”, kata Yosua.
Menurutnya, investasi minoritas tersebut tetap memiliki nilai strategis, terutama di tengah kondisi geopolitik Timur Tengah yang masih memanas. AS dinilai memiliki posisi penting dalam industri migas global, tidak hanya karena besarnya cadangan minyak, tetapi juga penguasaan teknologi.
“Memang aset-aset migas AS banyak dilirik saat konflik Timur Tengah. AS bukan hanya negara dengan cadangan minyak yang terbesar tetapi mereka juga punya teknologi. Ini jadi alasan kenapa aset-aset migas di sana diincar banyak pihak secara global”, imbuh dia.
HighPeak Energy merupakan perusahaan berbasis di Texas yang tercatat (listing) di Nasdaq dengan kapitalisasi pasar sekitar USD1 miliar.
Perseroan bergerak di bidang akuisisi, pengembangan, eksplorasi, serta eksploitasi minyak dan gas bumi di Permian Basin.
Permian Basin sendiri merupakan wilayah penghasil minyak mentah terbesar di AS.
Berdasarkan data Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA), wilayah tersebut menyumbang sekitar 48 persen dari total produksi minyak AS pada 2025.
Pertumbuhan produksi di Permian Basin sejak 2007 terutama didorong oleh penerapan teknik pengeboran horizontal dan rekahan hidrolik atau hydraulic fracturing (fracking).
Apabila kondisi reservoir mendukung, kedua teknik tersebut juga dapat diterapkan pada lapangan migas tua di darat untuk meningkatkan produktivitas sumur dan perolehan migas.
Yosua menilai investasi DIM tidak semata memberikan akses terhadap cadangan minyak, tetapi juga membuka akses terhadap teknologi dan keahlian di industri hulu migas.
Hal tersebut tercermin dari adanya mekanisme pertukaran keterampilan melalui pelatihan dan penugasan kerja dalam investasi tersebut.
Selain aspek strategis, skema investasi melalui penerbitan saham preferen konvertibel juga dinilai mencerminkan pendekatan yang lebih berhati-hati dalam mengelola investasi.
Menurut Yosua, saham preferen memiliki karakteristik yang berbeda dari saham biasa.
“Ada aspek perlindungan dari penurunan nilai investasi tetapi juga membuka akses upside ke depan jangka panjang. Skema seperti ini memang lazim untuk dilakukan ke perusahaan migas yang aktif dalam melakukan eksplorasi maupun eksploitasi,” tutur Yosua.
Dalam siaran persnya, DIM menyebut investasi tersebut tidak hanya ditujukan untuk transfer pengetahuan, tetapi juga mendukung pengembangan sektor energi Indonesia serta memperkuat hubungan energi dan ekonomi yang telah terjalin antara Indonesia dan AS.
Investasi DIM di HighPeak Energy juga menambah daftar investor besar yang masuk ke aset migas AS.
Sejumlah perusahaan Jepang seperti Mitsubishi, JAPEX, dan Osaka Gas telah melakukan investasi serupa. Beberapa lembaga investasi negara, seperti GIC, Mubadala, dan ADIA, juga tercatat memiliki investasi pada aset migas di AS.
Di saat yang sama, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) juga mengumumkan keterbukaan informasi terkait investasinya di HighPeak Energy.
Nilai investasi ENRG mencapai USD200 juta atau sekitar Rp3,6 triliun, dengan skema transaksi yang sama-sama melibatkan penerbitan saham preferen konvertibel.
Yosua menilai terdapat perbedaan kepentingan strategis antara Danantara dan ENRG dalam melakukan investasi tersebut.
Sebagai SWF, Danantara lebih berfokus pada pembangunan portofolio yang terdiversifikasi di sektor strategis sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.
Sementara itu, bagi ENRG sebagai perusahaan migas, investasi tersebut lebih berkaitan dengan ekspansi geografis dan penguasaan teknologi yang diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi kegiatan usaha perseroan.
“Ko-investasi pada dasarnya sangat umum dilakukan. Danantara dan ENRG menjadi salah satunya. Danantara dari sisi SWF, sementara ENRG sebagai pelaku migas asal Indonesia. Besar harapannya manfaat itu dirasa oleh sektor migas Indonesia juga dari investasi ini,” katanya. (Aldo Fernando)