MARKET NEWS

Dana SAL Jadi Sorotan, Analis Cermati Pendanaan Bank Besar

TIM RISET IDX CHANNEL 24/09/2026 06:29 WIB

Kondisi pendanaan perbankan mulai membaik sejak kuartal II-2026, tetapi biaya dana masih relatif tinggi.

Dana SAL Jadi Sorotan, Analis Cermati Pendanaan Bank Besar. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Kondisi pendanaan perbankan mulai membaik sejak kuartal II-2026, tetapi biaya dana masih relatif tinggi.

Di tengah kondisi tersebut, bank-bank BUMN menghadapi tantangan lebih besar untuk mempertahankan pertumbuhan kredit karena masih bergantung pada sumber pendanaan di luar dana murah serta likuiditas pemerintah.

Analis UOB Kay Hian Posmarito Pakpahan mengatakan tekanan likuiditas paling berat terjadi pada April-Juni 2026. Setelah periode tersebut, tekanan pendanaan mulai mereda, meski respons perbankan berbeda-beda.

“Bank swasta tetap relatif berhati-hati terhadap pertumbuhan kredit, sementara bank BUMN atau Himbara terus tumbuh lebih cepat, didukung penempatan likuiditas pemerintah atau Saldo Anggaran Lebih (SAL), deposito berjangka, serta sumber pendanaan lainnya,” tulis Posmarito dalam riset yang terbit 21 September 2026.

Posmarito mencatat kredit PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tumbuh 10,5 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Agustus 2026, sejalan dengan pertumbuhan dana murah atau current account and savings account (CASA) sebesar 10,8 persen. Loan to deposit ratio (LDR) BBCA berada di level 81 persen.

Sementara itu, kredit PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) tumbuh 17,6 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan CASA sebesar 8,2 persen. Deposito berjangka (time deposit/TD) BMRI bahkan melonjak 47,8 persen, dengan LDR mencapai 94,4 persen.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatat LDR lebih rendah, yakni 86,9 persen. Namun, pertumbuhan TD mencapai 63,7 persen.

Meski likuiditas membaik, biaya pendanaan belum sepenuhnya mencerminkan kondisi tersebut.

Beban bunga BBCA turun 3,8 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada Agustus 2026, tetapi masing-masing naik 1,2 persen di BMRI dan 5,8 persen di BBNI.

“Meski demikian, manajemen beberapa bank mengindikasikan bahwa suku bunga deposito khusus mulai turun,” ujar Posmarito.

Menurut dia, BMRI saat ini paling banyak mengandalkan sumber pendanaan non-deposito.

Hingga akhir Agustus 2026, BMRI memiliki sekitar Rp341 triliun dalam bentuk repo, pinjaman, liabilitas kepada bank lain, dan surat berharga yang diterbitkan. Nilai tersebut setara dengan sekitar 21 persen dari total kredit.

Sebagai perbandingan, BBCA hanya memiliki sekitar Rp28 triliun dari sumber pendanaan tersebut, atau kurang dari 3 persen dari kredit.

Kondisi itu memberi BMRI ruang tambahan untuk membiayai pertumbuhan neracanya meski LDR lebih tinggi.

Namun, sumber pendanaan tersebut umumnya lebih mahal dan lebih sensitif terhadap kondisi pasar dibandingkan CASA.

“BBCA berada dalam posisi berbeda karena CASA saja telah melampaui total kreditnya, sementara portofolio surat berharga sebesar Rp394 triliun memberikan tambahan penyangga (buffer) likuiditas,” kata Posmarito.

SAL Bikin Angka Likuiditas Bank BUMN Terlihat Lebih Longgar

UOB Kay Hian menilai penempatan SAL pemerintah juga membuat indikator pendanaan bank BUMN terlihat lebih kuat dari kondisi dasarnya.

BMRI memiliki SAL sekitar Rp104 triliun pada akhir Agustus 2026. Jika saldo tersebut dikeluarkan dari perhitungan, UOB Kay Hian memperkirakan LDR BMRI mencapai 101 persen, dibandingkan 94,4 persen sebagaimana yang dilaporkan.

Pertumbuhan TD BMRI juga diperkirakan hanya sekitar 17 persen yoy, dibandingkan 47,8 persen yang tercatat.

Di BBNI, penghapusan SAL sebesar Rp95,6 triliun dari perhitungan akan meningkatkan LDR dari 86,9 persen menjadi sekitar 95 persen. Pertumbuhan TD juga turun dari sekitar 64 persen menjadi 24 persen.

Secara industri, pemerintah saat ini menempatkan sekitar Rp299 triliun SAL di sistem perbankan, setara dengan sekitar 2,9 persen dari total dana pihak ketiga (DPK).

 Dari jumlah tersebut, sekitar Rp200 triliun diperkirakan tetap berada di perbankan hingga Juli 2027 berdasarkan pengumuman terbaru Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Berdasarkan diskusi kami dengan BBNI, saldo SAL di atas Rp200 triliun yang ingin dipertahankan pemerintah diperkirakan akan ditarik secara bertahap sepanjang kuartal IV-2026. Bank BUMN lainnya kemungkinan akan mengalami pola yang serupa.

Pada BBNI, sekitar Rp40,6 triliun dari saldo SAL Rp95,6 triliun per akhir Agustus diperkirakan ditarik, sehingga tersisa penempatan awal sekitar Rp55 triliun pada akhir tahun.

Sementara itu, BMRI telah mengalami penarikan sekitar Rp19 triliun dari saldo SAL Rp104 triliun per akhir Agustus.

Jika pola ini berlaku di seluruh bank BUMN, dana SAL tambahan diperkirakan akan ditarik lebih dulu, sementara dana yang ditempatkan sejak awal masih memiliki kepastian penempatan yang lebih panjang.

Besarnya kebutuhan pendanaan pengganti nantinya akan bergantung pada pertumbuhan kredit dan neraca masing-masing bank.

Pertumbuhan Kredit Mulai Jadi Tantangan

UOB Kay Hian melihat perlambatan pertumbuhan kredit justru dapat membantu memperbaiki keseimbangan pendanaan bank.

Kredit BBNI tumbuh 27,1 persen yoy, atau sekitar 20 persen jika tidak memperhitungkan Agrinas. Sementara itu, kredit BMRI tumbuh 17,6 persen, jauh di atas pertumbuhan CASA masing-masing sebesar 16,4 persen dan 8,2 persen.

Setelah mencatat pertumbuhan kredit yang kuat pada semester I-2026, BBNI disebut mulai lebih memprioritaskan penetapan loan pricing (harga kredit) dan net interest margin (NIM) dibandingkan mengejar volume.

Meski demikian, pertumbuhan kredit masih berpotensi berada di atas panduan 8-10 persen.

“Dengan SAL yang mulai berkurang, mempertahankan pertumbuhan kredit secara material di atas CASA berarti bank harus lebih bergantung pada deposito berjangka atau pendanaan wholesale,” tulis Posmarito.

Karena itu, perlambatan pertumbuhan kredit dapat mengurangi kebutuhan pendanaan pengganti sekaligus memberi ruang bagi bank untuk lebih selektif menyalurkan kredit baru.

“Pertanyaan utamanya bukan lagi sekadar mempertahankan pertumbuhan kredit yang tinggi, melainkan apakah pertumbuhan tambahan tersebut mampu menghasilkan imbal hasil yang memadai setelah memperhitungkan risiko,” imbuh dia.

Selain pendanaan, kebutuhan modal juga menjadi faktor yang semakin penting bagi keberlanjutan pertumbuhan kredit bank BUMN.

Rasio modal turun cukup signifikan pada semester I 2026. Rasio Tier 1 PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turun 199 basis poin menjadi 20,4 persen, sementara rasio common equity tier 1 (CET1) BMRI turun 180 basis poin menjadi 16,4 persen dan BBNI turun 270 basis poin menjadi 15,5 persen.

UOB Kay Hian memperkirakan sebagian penurunan tersebut dapat dipulihkan melalui laba pada semester II-2026, mengingat rasio semester I telah memperhitungkan pembayaran dividen 2025.

Namun, jika pertumbuhan kredit terus melampaui kemampuan bank menghasilkan modal secara internal, bank perlu menahan porsi laba yang lebih besar.

BBRI sebelumnya telah mengarahkan penurunan dividend payout ratio (DPR), sementara BBNI memperkirakan mempertahankan DPR 2026 sekitar 65 persen sebelum berpotensi menurunkannya pada tahun berikutnya.

KopDes Tambah Ketidakpastian

Di sisi lain, program Koperasi Desa Merah Putih (KopDes) menjadi sumber ketidakpastian tambahan bagi bank BUMN.

Fasilitas senilai Rp175 triliun tersebut disalurkan melalui BBRI sebesar 3,8 persen, BMRI sebesar Rp3,4 persen, BBNI sebesar 5,6 persen, dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) sebesar 3 persen.

Pembayaran tahunan pertama sekitar Rp38 triliun dijadwalkan pada 25 September 2026.

BBNI menyebut proses verifikasi masih jauh dari target. Baru tiga dari sekitar 24.000 bangunan yang diverifikasi dan belum ada yang secara resmi diserahterimakan. Kondisi ini berpotensi menunda pembayaran pertama hingga Oktober.

Manajemen juga menyatakan keterlambatan pembayaran berdasarkan perjanjian yang ada dapat membuat eksposur masuk ke kolektabilitas 2 dan meningkatkan kebutuhan pencadangan.

Namun, dana KopDes yang belum dicairkan masih dapat menjadi jembatan sementara untuk pembayaran cicilan pertama.

Dengan mempertimbangkan tekanan pendanaan, kebutuhan modal, serta ketidakpastian terkait SAL dan KopDes, UOB Kay Hian mempertahankan rekomendasi market weight untuk sektor perbankan.

Posmarito mempertahankan rekomendasi beli untuk BBCA serta hold untuk BBRI, BMRI, dan BBNI.

Menurut dia, valuasi saham perbankan memang relatif murah, tetapi pertumbuhan kredit bank BUMN yang tinggi semakin menuntut dari sisi pendanaan dan modal.

Untuk BMRI, tekanan tersebut lebih terasa setelah memperhitungkan SAL. Meski demikian, akses terhadap beragam sumber pendanaan dan rasio likuiditas regulator yang memadai masih memberikan bantalan.

UOB Kay Hian menilai penguatan pendanaan organik, stabilisasi rasio modal, serta bukti yang lebih jelas bahwa pertumbuhan neraca mampu menghasilkan imbal hasil yang memadai setelah memperhitungkan risiko menjadi faktor penting yang perlu dicermati. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE