MARKET NEWS

Bursa Asia Rontok, KOSPI Jatuh 7 Persen Usai Inflasi AS Memanas

TIM RISET IDX CHANNEL 15/10/2026 09:05 WIB

Bursa Asia turun tajam pada perdagangan Kamis (15/10/2026) setelah inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) pada September meningkat lebih cepat.

Bursa Asia Rontok, KOSPI Jatuh 7 Persen Usai Inflasi AS Memanas. (Foto: Reuters)

IDXChannel – Bursa Asia turun tajam pada perdagangan Kamis (15/10/2026) setelah inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) pada September meningkat lebih cepat dari perkiraan.

Data tersebut kembali memicu kekhawatiran bahwa Federal Reserve atau The Fed masih membuka peluang menaikkan suku bunga tahun ini.

Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang turun 1,2 persen. Tekanan paling besar datang dari Korea Selatan, dengan indeks KOSPI anjlok 7,89 persen.

Indeks Nikkei 225 Jepang juga merosot 4,64 persen.

Di pasar Asia lainnya, Shanghai Composite China turun 1,64 persen, Hang Seng Hong Kong melemah 1,06 persen, Straits Times Index (STI) Singapura turun 0,91 persen, sedangkan ASX 200 Australia relatif datar dengan penurunan 0,08 persen.

S&P 500 e-mini futures juga turun 0,3 persen.

Kepala Riset Pepperstone Group di Melbourne Chris Weston mengatakan, seperti dikutip Reuters, pasar Asia menghadapi sesi perdagangan yang kembali sulit.

Menurut dia, kontrak berjangka KOSPI dan Nikkei menunjukkan tekanan baru pada saham teknologi.

Arus dana pada leveraged exchange-traded fund (ETF) serta risiko kredit di sektor infrastruktur kecerdasan buatan (AI) menjadi perhatian utama investor.

Tekanan di Asia mengikuti kinerja bursa Wall Street yang mencatat penurunan untuk hari ketiga berturut-turut pada perdagangan sebelumnya.

S&P 500 turun 1,1 persen, Nasdaq Composite anjlok 1,9 persen, sementara indeks saham semikonduktor memperpanjang penurunan untuk hari keenam.

Saham teknologi dan AI menjadi sumber tekanan utama setelah data inflasi AS September menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dari perkiraan.

Prospek suku bunga yang lebih tinggi menekan saham Oracle, CoreWeave dan sejumlah perusahaan AI lain yang sensitif terhadap biaya pendanaan.

Analis JPMorgan mengatakan meski aksi jual awal dipicu oleh data inflasi AS yang lebih panas dari perkiraan, sektor teknologi menjadi pendorong utama pelemahan pasar.

Risiko pembiayaan dan jadwal penawaran umum perdana (IPO) perusahaan AI masih menjadi perhatian investor.

Data inflasi tersebut juga meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Berdasarkan CME FedWatch, pasar kini memperkirakan probabilitas 31,6 persen untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed 28 Oktober, naik dari 22,1 persen sehari sebelumnya.

Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury 10 tahun turun 4,4 basis poin menjadi 5,144 persen.

Sementara itu, dolar AS melemah 0,2 persen terhadap yen menjadi 157,925 yen per USD, sedangkan euro menguat 0,3 persen menjadi USD1,1194.

Dolar Australia turun 0,2 persen menjadi USD0,6956 setelah data menunjukkan jumlah tenaga kerja Australia turun 39.300 pada September.

Angka tersebut berbanding terbalik dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 20.000 tenaga kerja.

Investor selanjutnya mencermati pidato sejumlah pejabat The Fed di Bangkok, termasuk Ketua The Fed Kevin Warsh, untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS.

Pasar juga menantikan rilis data harga produsen dan penjualan ritel AS pada Kamis. Selain itu, perusahaan chip AI Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC) dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartal III-2026 pada perdagangan Asia. (Aldo Fernando)

 

SHARE