Bursa Asia Menguat, Inflasi AS Redakan Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga
Bursa saham Asia menguat pada Jumat (14/8/2026) pagi setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) menunjukkan tekanan harga yang mulai mereda.
IDXChannel - Bursa saham Asia menguat pada Jumat (14/8/2026) pagi setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) menunjukkan tekanan harga yang mulai mereda.
Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) tidak akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, sehingga meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko.
Indeks harga produsen (PPI) AS tercatat tidak berubah pada Juli dibandingkan bulan sebelumnya, jauh di bawah ekspektasi analis yang memperkirakan kenaikan 0,2 persen.
Data ini melengkapi laporan indeks harga konsumen (CPI) Juli yang dirilis sebelumnya dan sama-sama menunjukkan moderasi tekanan inflasi.
Kondisi tersebut mendorong investor mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September.
Berdasarkan pelaku pasar yang dikutip dalam laporan tersebut, probabilitas kenaikan suku bunga pada September sekitar 34 persen, sedangkan sekitar 66 persen memperkirakan suku bunga tetap.
Analis pasar senior XS.com Antonio Di Giacomo menilai data PPI memperkuat persepsi bahwa tekanan inflasi mulai kembali mereda setelah sempat meningkat dalam beberapa bulan sebelumnya.
"Gabungan CPI yang lebih terkendali dan PPI yang berada di bawah ekspektasi memperkuat kemungkinan Federal Reserve mengambil sikap lebih sabar pada pertemuan berikutnya," ujarnya, dikutip The Wall Street Journal.
Sentimen positif turut mendorong saham-saham teknologi dan semikonduktor di Asia. Kospi Korea Selatan menjadi indeks dengan kenaikan terbesar, mencapai 1,37 persen. SK Hynix melonjak 5,5 persen, sementara LG Electronics naik 4,8 persen.
Di Jepang, Nikkei 225 menguat 0,89 persen. Kioxia Holdings melesat 6,7 persen dan Advantest naik 5,3 persen.
Analis IG Chris Beauchamp mengatakan kebangkitan saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) kembali berlanjut.
Menurutnya, data PPI yang lebih rendah dari ekspektasi memperkuat kesan bahwa inflasi masih terkendali, sehingga investor kembali memburu saham-saham pertumbuhan yang memiliki valuasi relatif tinggi.
Sementara itu, S&P/ASX 200 Australia turun 0,7 persen, sedangkan Hang Seng Hong Kong melemah 0,59 persen. (Aldo Fernando)