MARKET NEWS

Bursa Asia Melemah, Investor Waspadai Inflasi dan Suku Bunga

TIM RISET IDX CHANNEL 26/10/2026 09:21 WIB

Bursa saham Asia bergerak melemah pada awal perdagangan Senin (26/10/2026), setelah harga minyak mentah turun dari level tertinggi dalam enam bulan.

Bursa Asia Melemah, Investor Waspadai Inflasi dan Suku Bunga. (Foto: Reuters)

IDXChannel - Bursa saham Asia bergerak melemah pada awal perdagangan Senin (26/10/2026), setelah harga minyak mentah turun dari level tertinggi dalam enam bulan.

Investor mencermati perkembangan harga energi serta agenda bank sentral dan laporan keuangan perusahaan yang berpotensi menguji sentimen pasar.

Indeks Shanghai Composite China turun 0,42 persen, sedangkan Straits Times Index (STI) Singapura melemah 0,33 persen.

Kospi Korea Selatan turun 1,00 persen dan Nikkei 225 Jepang terkoreksi 0,34 persen.

Indeks Hang Seng Hong Kong justru naik tipis 0,12 persen, sementara S&P/ASX 200 Australia menguat 0,08 persen. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang juga turun 0,1 persen.

Pergerakan pasar terjadi setelah harga minyak mentah Brent turun 1,0 persen menjadi USD115,48 per barel.

Harga minyak sebelumnya melonjak 6,2 persen sepanjang pekan lalu dan mencatat penutupan mingguan tertinggi sejak pertengahan 2022.

Penurunan harga minyak pada awal pekan dipengaruhi laporan mengenai upaya deeskalasi ketegangan di Timur Tengah.

Mediator Qatar dilaporkan berada di Teheran pada Minggu sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan regional yang dikoordinasikan dengan Amerika Serikat.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 1,1 persen menjadi USD102,08 per barel.

Kenaikan harga minyak sebelumnya memicu kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dan prospek suku bunga global. Sejumlah bank sentral dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan moneter pekan ini.

Bank sentral Selandia Baru diperkirakan menaikkan suku bunga pada Rabu.

Di sisi lain, pasar memperkirakan Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat (AS) akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober, tetapi peluang kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan mencapai sekitar 80 persen.

Ekspektasi serupa juga tercermin pada kebijakan Bank of Japan (BOJ) dan Bank Sentral Eropa (ECB), dengan pasar memperkirakan kenaikan suku bunga pada Desember.

"Pesan utama dari bank sentral global yang menghadapi berbagai kejutan makroekonomi tahun ini adalah siklus kenaikan suku bunga yang relatif dangkal sedang berlangsung," kata Global Head of Economics JPMorgan, Bruce Kasman, seperti dikutip Reuters.

Pasar juga menantikan data inflasi inti Amerika Serikat yang diperkirakan menunjukkan tekanan harga masih tinggi pada September, yakni sekitar 3,1 persen.

Ekonomi AS diperkirakan tumbuh 3,2 persen secara tahunan pada periode tersebut, salah satunya ditopang oleh tingginya belanja untuk pusat data.

Goldman Sachs memperkirakan The Fed menahan kenaikan suku bunga pada Oktober, tetapi kembali menaikkannya pada Desember.

"Risiko terpenting adalah harga minyak berjangka berada di atas proyeksi kami, terutama karena kekhawatiran terhadap potensi konflik lebih lanjut dengan Iran," tulis Goldman Sachs dalam catatannya.

Di tengah perkembangan tersebut, investor juga bersiap menghadapi musim laporan keuangan perusahaan teknologi besar. Alphabet, Microsoft, dan Amazon termasuk perusahaan yang dijadwalkan menyampaikan kinerja kuartalan pekan ini.

Hasil laporan keuangan perusahaan teknologi tersebut akan menjadi perhatian karena dapat memberikan petunjuk mengenai keberlanjutan investasi kecerdasan buatan (AI) dan menopang atau justru menguji sentimen terhadap saham-saham terkait AI. (Aldo Fernando)

SHARE