Bukan Saham HSC, tapi Transaksi Tipis: CASA dan SMMA Kini Jadi Pemain Besar di IHSG
Era baru Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tanpa saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) resmi dimulai pada Senin (2/11).
IDXChannel – Era baru Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tanpa saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) resmi dimulai pada Senin (2/11/2026).
Namun, di balik rapinya komposisi indeks, ada dua saham non-HSC dengan transaksi sangat seret yang kini duduk di jajaran bobot terbesar IHSG, yakni PT Capital Financial Indonesia Tbk (CASA) dan PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA).
Berdasarkan proyeksi BRI Danareksa Sekuritas, Senin (2/11/2026), bobot SMMA naik dari 2,9 persen menjadi 3,6 persen setelah saham-saham HSC dikeluarkan dari perhitungan indeks. Bobot CASA naik dari 1,6 persen menjadi 2,0 persen.
Dengan bobot tersebut, SMMA naik dari urutan kedelapan ke urutan keenam, tepat di bawah lima saham besar lainnya, yakni BBCA, BBRI, BMRI, ASII, dan TLKM.
SMMA bahkan melampaui PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang berbobot 3,5 persen dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dengan 2,7 persen.
Sementara, CASA naik dari urutan ke-11 ke urutan kesembilan, mengungguli PT United Tractors Tbk (UNTR) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang masing-masing berbobot 1,7 persen dan 1,6 persen.
Kenaikan bobot ini terjadi karena kapitalisasi pasar untuk perhitungan indeks kedua saham tidak berubah. Kapitalisasi CASA untuk pembobotan indeks tercatat Rp34,86 triliun, sedangkan SMMA Rp61,85 triliun.
Bukan HSC
Status keduanya tidak termasuk dalam daftar HSC. Per 26 Oktober 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat 82 emiten HSC, dan nama CASA maupun SMMA tidak ada di dalamnya. Dengan kata lain, secara aturan keduanya tetap sah menjadi konstituen IHSG.
Penyesuaian kriteria BEI yang berlaku mulai 2 November 2026 menambahkan HSC sebagai kategori yang dikecualikan, di samping saham Papan Akselerasi.
Metode penghitungan IHSG tetap sama, yaitu kapitalisasi pasar yang disesuaikan free float dengan batas bobot 9 persen per saham.
Transaksi sangat tipis
Masalahnya, mengutip data perdagangan setahun terakhir, bobot besar kedua saham tidak diimbangi aktivitas transaksi.
Pada SMMA, nilai transaksi harian tercatat hanya Rp73,1 juta (median) selama 239 hari bursa terakhir, dengan frekuensi median 20 kali sehari.
Dalam 60 hari bursa terakhir, median nilai transaksinya turun menjadi Rp25 juta dengan frekuensi 7,5 kali per hari, atau sekitar 13 lot per hari.
Selama setahun, saham ini sama sekali tidak bertransaksi pada 12 hari bursa. Pada perdagangan Senin (2/11/2026), SMMA ditutup naik 0,61 persen ke Rp20.650 per saham dengan nilai transaksi Rp36,95 juta, 18 lot, dan 9 kali frekuensi.
Secara akumulasi, total nilai transaksi SMMA sepanjang 239 hari bursa hanya Rp48,7 miliar. Angka itu setara kurang dari 0,1 persen dari kapitalisasi pasarnya untuk pembobotan indeks sebesar Rp61,85 triliun.
Kondisi CASA serupa, meski lebih bervariasi. Median nilai transaksi hariannya Rp107,1 juta, namun turun menjadi Rp19,2 juta dalam 60 hari bursa terakhir dengan frekuensi median 17,5 kali per hari.
Saham ini tidak diperdagangkan sama sekali pada empat hari bursa, termasuk 21 dan 22 Oktober 2026 secara berturut-turut.
Pada 2 November 2026, CASA ditutup menguat 4,42 persen ke Rp1.890 per saham dengan nilai transaksi hanya Rp74,57 juta, 399 lot, dan 51 kali frekuensi.
Rata-rata nilai transaksi harian CASA memang terlihat besar, yaitu Rp1,2 miliar, tetapi angka ini terdistorsi oleh segelintir hari. Sepuluh hari dengan transaksi terbesar menyumbang 56 persen dari total nilai transaksi setahun.
Salah satunya terjadi pada 28 Oktober 2026, ketika nilai transaksi mencapai Rp18,11 miliar dengan frekuensi hanya 13 kali, yang hampir seluruhnya tercatat sebagai pembelian asing.
Pola transaksi dengan frekuensi serendah itu tidak lazim untuk perdagangan pasar reguler.
Dampak ke indeks
Dengan bobot pascarebalancing, pergerakan harga kedua saham kini lebih terasa bagi IHSG.
Menggunakan basis indeks 5.030 seperti yang dipakai BRI Danareksa, kenaikan 1 persen pada SMMA setara dengan sekitar 1,8 poin IHSG, sedangkan CASA sekitar 1 poin.
Secara kasar, lonjakan 4,42 persen CASA pada Senin setara dengan kontribusi sekitar 4,5 poin terhadap indeks, padahal ditopang transaksi senilai Rp74,57 juta.
Harga kedua saham memang telah bergerak jauh dalam setahun. Sejak 3 November 2025, CASA naik 73,4 persen dari Rp1.090 ke Rp1.890 per saham, sedangkan SMMA naik 58,8 persen dari Rp13.000 ke Rp20.650 per saham.
Dengan transaksi setipis itu, harga kedua saham dinilai mudah bergeser oleh transaksi dalam jumlah kecil.
Karena itu, risiko pergerakan indeks akibat saham tidak likuid kini menjadi sorotan tersendiri di tengah upaya BEI membuat IHSG lebih kredibel.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik sebelumnya menegaskan saham HSC tetap bisa diperdagangkan, tetapi harganya tidak lagi memengaruhi IHSG.
Selain itu, BEI menyesuaikan divisor sehingga level pembukaan IHSG pada 2 November 2026 setara dengan penutupan 30 Oktober 2026. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.