MARKET NEWS

BOJ Kerek Suku Bunga ke Level Tertinggi 31 Tahun, Ini Risikonya bagi Rupiah dan IHSG

TIM RISET IDX CHANNEL 18/09/2026 10:54 WIB

Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) dari 1 persen menjadi 1,25 persen pada Jumat (18/9/2026).

BOJ Kerek Suku Bunga ke Level Tertinggi 31 Tahun, Ini Risikonya bagi Rupiah dan IHSG. (Foto: Getty Images)

IDXChannel - Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) dari 1 persen menjadi 1,25 persen pada Jumat (18/9/2026).

Level tersebut merupakan yang tertinggi dalam 31 tahun, sekaligus menegaskan berlanjutnya normalisasi kebijakan moneter Jepang setelah puluhan tahun berada dalam era suku bunga ultra-rendah.

Keputusan tersebut menjadi kenaikan suku bunga keenam BOJ dalam sekitar 2,5 tahun sejak bank sentral Jepang mulai meninggalkan kebijakan suku bunga negatif.

Langkah ini dilakukan di tengah tekanan inflasi dan perubahan lingkungan moneter global yang semakin ketat akibat lonjakan harga energi dan ketidakpastian geopolitik.

Bagi pasar Indonesia, kenaikan suku bunga BOJ terutama perlu dicermati melalui potensi perubahan arus modal global.

BRI Danareksa menilai kenaikan suku bunga Jepang dapat mempersempit selisih imbal hasil antara aset berdenominasi yen dan aset di negara lain, sehingga meningkatkan risiko terjadinya unwind pada strategi yen carry trade.

Dalam strategi tersebut, investor memanfaatkan biaya pendanaan yang relatif rendah dalam yen untuk berinvestasi pada aset dengan imbal hasil lebih tinggi, termasuk di pasar negara berkembang.

Ketika suku bunga Jepang naik dan yen berpotensi menguat, insentif untuk mempertahankan posisi tersebut dapat berkurang.

Jika investor mulai menarik dana dari aset emerging market dan mengembalikannya ke Jepang, Indonesia berpotensi merasakan dampaknya melalui tekanan terhadap aliran modal asing.

Kondisi tersebut dapat menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) maupun obligasi domestik, sekaligus menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Risiko tersebut menjadi lebih relevan karena rupiah saat ini juga menghadapi tekanan dari tingginya harga minyak akibat konflik di Timur Tengah.

Kenaikan harga minyak meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor energi sehingga dapat memperberat tekanan eksternal terhadap rupiah.

Bank Indonesia (BI) sendiri masih menempatkan stabilitas nilai tukar sebagai salah satu fokus kebijakan.  (Aldo Fernando)

SHARE