BEI Catat Penerbitan Obligasi dan Green Sukuk Berbasis ESG Tembus Rp89,46 Triliun
BEI mencatat akumulasi penerbitan obligasi dan sukuk berwawasan ESG tembus Rp89,46 triliun sepanjang periode 2018 hingga 2026.
IDXChannel - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat akumulasi penerbitan obligasi dan sukuk berwawasan lingkungan, sosial, dan tata kelola atau environmental, social, and governance (ESG) tembus Rp89,46 triliun sepanjang periode 2018 hingga 2026.
Capaian ini menunjukkan pesatnya perkembangan instrumen pembiayaan hijau di pasar modal domestik guna menjembatani kebutuhan ekspansi korporasi dengan agenda pembangunan berkelanjutan.
Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi memaparkan bahwa penerbitan surat utang bertema keberlanjutan ini terus mencatatkan pertumbuhan nilai yang solid sejak pertama kali diperkenalkan ke pasar modal.
"Kita lihat sejak 2018 hingga 2026 akumulasi penerbitan obligasi dan green sukuk lingkungan sosial dan keberlanjutan atau green, social, and sustainable growth telah mencapai Rp89,46 triliun," ujar Iding dalam acara Capital Market Summit di kantor BEI, Jakarta, Jumat (6/11/2026).
Iding menjelaskan, tingginya serapan instrumen pembiayaan tersebut didorong oleh kebutuhan korporasi untuk melakukan efisiensi energi, mengadopsi teknologi bersih, serta memperluas dampak positif kegiatan usahanya bagi masyarakat.
Di saat bersamaan, komunitas investor global maupun domestik kian selektif menaruh modal pada portofolio efek yang memiliki komitmen lingkungan nyata dan risiko terukur.
Menurut Iding, bursa memegang mandat penting untuk menyalurkan likuiditas pemodal ke korporasi yang aktif menjalankan transformasi bisnis ramah lingkungan.
"Di sisi lain, investor tentu membutuhkan investasi yang kredibel, pilihan instrumen yang beragam dan acuan yang berguna, nah di sinilah pasar modal Indonesia berperan mempertemukan perusahaan yang membutuhkan pembiayaan berbasis ESG dan investor untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan," kata Iding.
Kematangan ekosistem keberlanjutan di pasar modal juga tecermin dari kepatuhan emiten dalam menyampaikan keterbukaan informasi. BEI mencatat sebanyak 85 persen perusahaan tercatat telah menyampaikan laporan keberlanjutan (sustainability report), serta lebih dari 51 perusahaan di jajaran Indeks IDX-30 telah mendeklarasikan komitmen integrasi ESG.
Kendati demikian, Iding mengingatkan bahwa tantangan berikutnya adalah memastikan informasi keberlanjutan tersebut memiliki kualitas tinggi, dapat diperbandingkan, dan diterjemahkan dalam kemajuan bisnis yang dapat diukur.
Standardisasi ini dinilai krusial agar pelaku pasar memiliki landasan kuat untuk menilai profil risiko dan prospek jangka panjang emiten.
Di luar instrumen efek utang, BEI juga mencatatkan diversifikasi portofolio investasi berbasis ekuitas hijau yang kian diminati oleh para pemodal.
"Hingga September 2026, dana pengelolaan ESG Fund yang mencakup seperti ETF mencapai sekitar Rp5,85 triliun, dan Bursa Efek Indonesia juga akan memberikan green equity designation pada tiga perusahaan yang di dalamnya termasuk kategori transisi," ujarnya.
(Febrina Ratna Iskana)