MARKET NEWS

Bayan Resources (BYAN) Tetapkan Keadaan Kahar usai Gagal Dapat Persetujuan RKAB

Rahmat Fiansyah 14/09/2026 18:38 WIB

PT Bayan Resources Tbk (BYAN) beserta sejumlah entitas usahanya mengumumkan keadaan kahar (force majeure) terhadap pemenuhan batu bara kepada para pelanggannya.

PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mengumumkan keadaan kahar (force majeure) terhadap pemenuhan batu bara kepada pelanggan. (Foto: Ist)

IDXChannel - PT Bayan Resources Tbk (BYAN) beserta sejumlah entitas usahanya mengumumkan keadaan kahar (force majeure) terhadap pemenuhan batu bara kepada para pelanggannya.

Pengumuman ini dibuat setelah perseroan beserta anak-anaknya usahanya, yakni PT Tiwa Abadi (TA) dan PT Fajar Sakti Prima (FSP) gagal mendapatkan persetujuan atas perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Dengan demikian, perseroan tidak dapat memenuhi kewajibannya terkait penyediaan batu bara sesuai kontrak.

"Dengan belum diterbitkannya persetujuan perubahan RKAB mengakibatkan dampak yang cukup material terhadap kelangsungan usaha perseroan," kata Direktur PT Bayan Resources Tbk, Low Yi Ngo dalam keterbukaan informasi, Senin (14/9/2026).

Perseroan berharap pengumuman ini dapat meminimalis risiko atau konsekuensi yang berpotensi berdampak pada perseroan dan anak-anak usahanya.

Sebagai informasi, sepanjang tahun 2025, BYAN memproduksi sebanyak 68,0 juta ton batu bara. Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 56,9 juta ton.

Sementara untuk pedoman (guidance) 2026, perseroan menargetkan dapat memproduksi batu bara antara 30-76 juta ton, tergantung persetujuan RKAB dari pemerintah.

Pada semester I-2026, perusahaan batu bara milik Low Tuck Kwong itu mencatat pendapatan konsolidasi sebesar USD1,74 miliar dengan porsi penjualan batu bara USD1,73 miliar dan USD9,65 juta nonbatu bara.

Sebagian besar batu bara BYAN diekspor ke luar Indonesia dengan rincian sebesar USD666 juta ke Asia Timur (China, Jepang, Korea, dan Taiwan), USD616 juta ke Asia Tenggara, dan USD193 juta ke Asia Selatan (India, Pakistan, dan Bangladesh). Sementara untuk pasar domestik sebesar USD263 juta.

(Rahmat Fiansyah)

SHARE