Akuisisi Dua Perusahaan Nikel, PACK Rancang Rights Issue Jumbo Rp8,2 Triliun
Dana tersebut akan digunakan untuk mengakuisisi dua perusahaan yang bergerak di bisnis nikel.
IDXChannel - PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) merancang rights issue jumbo senilai USD463 juta atau setara Rp8,2 triliun.
Dana tersebut akan digunakan untuk mengakuisisi dua perusahaan yang bergerak di bisnis nikel.
Dalam PMHMETD II ini, PACK akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 100 miliar saham baru. Pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya berpotensi mengalami dilusi kepemilikan hingga 74,6 persen.
Berdasarkan rencana penggunaan dana, PACK akan mengalokasikan Rp1,40 triliun untuk mengakuisisi PT Bukit Makmur Istindo Nikeltama (Bumanik) dan Rp5,74 triliun untuk mengambil alih Denway Development Limited (DDL).
"Sisa dana hasil rights issue akan digunakan untuk melunasi pinjaman serta memenuhi kebutuhan modal kerja perseroan dan/atau entitas anak," tulis manajemen PACK dalam prospektus terbaru, Jumat (23/10/2026).
Akuisisi Bumanik akan dilakukan secara tidak langsung melalui dua anak usaha PACK, yakni PT Daya Unggul Raya dan PT Gemilang Padma Raya. Kedua anak usaha tersebut akan membeli saham Bumanik dari pemilik sebelumnya, yaitu PT Merlot Grup Indonesia dengan kepemilikan 98,99 persen dan Pure Venture Capitol Limited sebesar 1,01 persen.
Bumanik memiliki konsesi tambang bijih nikel seluas 4.778 hektare di Morowali Utara, Sulawesi Tengah.
Sementara itu, PACK akan mengakuisisi 100 persen saham DDL atau sebanyak 10.000 lembar saham milik Hanking (Indonesia) Mining Limited. DDL merupakan perusahaan investasi atau holding yang didirikan di Hong Kong dan memiliki portofolio penjualan serta kepemilikan aset tambang nikel aktif di Indonesia.
Transaksi akuisisi DDL tersebut dikategorikan sebagai transaksi afiliasi karena melibatkan jaringan perusahaan terafiliasi.
Untuk mendukung pelaksanaan rights issue, PT Eco Energi Perkasa akan melaksanakan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) yang diterimanya sekaligus bertindak sebagai pembeli siaga (standby buyer).
Perusahaan tersebut akan menjamin pembelian saham baru yang tidak diambil oleh pemegang saham lainnya, dengan nilai penjaminan maksimum USD418 juta atau setara Rp7,4 triliun.
Rencana PMHMETD II ini akan dimintakan persetujuan pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 30 November 2026.
(DESI ANGRIANI)