MARKET NEWS

AI, Laser, dan Satelit: Tiga Mata Digital AMMN demi Tambang Lebih Aman

Aldo Fernando 09/08/2026 14:02 WIB

Di balik tambang Batu Hijau AMMN, ada tiga teknologi yang bekerja diam-diam, yakni kecerdasan buatan (AI), laser, dan satelit.

AI, Laser, dan Satelit: Tiga Mata Digital AMMN demi Tambang Lebih Aman. (Foto: AMMN)

IDXChannel - Pada pertengahan Juli 2026, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) resmi mengantongi sertifikat kelulusan uji performa (performance guarantee test) untuk smelter tembaganya di Sumbawa Barat, fasilitas yang sudah beroperasi lebih dari setahun.

Presiden Direktur AMMN, Arief Sidarto, menilai rampungnya proyek tersebut menjadi tonggak penting bagi perusahaan.

Menurutnya, pencapaian itu tidak terlepas dari kerja keras dan kolaborasi berbagai pihak dalam membangun salah satu kompleks smelter tembaga dan pemurnian logam mulia terintegrasi yang canggih.

“Rampungnya proyek smelter ini merupakan pencapaian penting bagi AMMAN. Di baliknya terdapat kerja keras, ketangguhan, dan kolaborasi yang kuat dari seluruh karyawan serta para mitra kami dalam menghadapi berbagai tantangan selama proses pembangunan dan komisioning,” ujar Arief, dalam siaran pers pada 24 Juli 2026.

Menurut dia, beroperasinya smelter tersebut sekaligus menegaskan komitmen AMMAN dalam mendukung agenda hilirisasi nasional.

“Ke depan, kami berharap ekosistem kebijakan yang mendukung daya saing industri pengolahan dan pertambangan dalam negeri dapat terus diperkuat. Dengan demikian, Indonesia mampu memaksimalkan manfaat hilirisasi sekaligus tetap kompetitif di tengah dinamika global,” imbuh dia.

Sebagai informasi, smelter tembaga AMMAN yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut memiliki kapasitas pengolahan hingga 900 ribu metrik ton konsentrat per tahun. Konsentrat tersebut berasal dari tambang Batu Hijau dan ke depannya juga akan dipasok dari tambang Elang.

Rampungnya smelter AMMN hadir di tengah momentum lain yang tidak kalah penting, yakni lonjakan kebutuhan tembaga dunia akibat ekspansi pusat data kecerdasan buatan (AI) dan jaringan listrik.

Sejumlah analis, termasuk Andreas Yordan Tarigan dari Sucor Sekuritas dalam riset pada 7 Juli 2026, menyebut infrastruktur tersebut membutuhkan tembaga jauh lebih banyak dibandingkan infrastruktur konvensional.

Namun, kendati banyaknya sorotan pada AMMN sebagai pemasok tembaga di tengah revolusi AI global, atau meminjam istilah Andreas, super siklus tembaga di era AI, orang terbilang jarang membahas kecerdasan buatan yang justru sudah dipakai Amman sendiri di dalam operasional tambangnya.

Jauh sebelum konsentrat sampai ke smelter, di tambang Batu Hijau sudah berjalan rangkaian sistem digital yang jarang mendapat sorotan sebesar berita produksi atau pergerakan harga saham AMMN.

Setidaknya, ada tiga teknologi yang bekerja di titik berbeda dalam rantai operasional AMMN, masing-masing menyasar persoalan yang berbeda pula. Satu mengoptimalkan efisiensi proses lewat AI, satu menjaga keamanan dan kelancaran operasi lewat laser, dan satu lagi memantau kondisi lingkungan lewat citra satelit.

Meninjau ulang tiap empat jam bersama AI

Di pabrik pengolahan Batu Hijau, AMMN, melalui PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), yang notabene salah satu tambang tembaga dan emas terbesar di Indonesia, mengoperasikan sistem bernama Artificial Intelligence Dashboard Automation (AIDA).

Dibangun dari lebih dari 25 tahun data operasional perusahaan, AIDA menganalisis kondisi pabrik secara real-time dan merekomendasikan parameter proses yang optimal, seperti dosis reagen kimia dan laju aliran air, untuk memaksimalkan jumlah mineral yang berhasil dipulihkan dari bijih.

Sistem ini tidak dirancang untuk mengambil keputusan sendirian. Setiap empat jam, tim operasi dan metalurgi meninjau rekomendasi AIDA sebelum diterapkan di lapangan, memadukan hasil analisis mesin berbasis AI dengan pengalaman karyawan yang sudah bertahun-tahun memahami karakter pabrik.

Vice President Corporate Communications AMMAN Kartika Octaviana menyebut AIDA sebagai cermin budaya perbaikan berkelanjutan perusahaan.

“Melalui transformasi digital, kami tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga memperkuat komitmen terhadap konservasi sumber daya mineral. Keberhasilan inisiatif ini bukan hanya terletak pada teknologinya, melainkan pada sinergi antara data, inovasi, dan keahlian tim kami,” ujar Kartika, dalam keterangan resmi pada 8 Juli 2026.

Dia menambahkan, “Ketika teknologi dan pengalaman manusia berjalan beriringan, kami mampu menghasilkan keputusan yang lebih baik dan menciptakan nilai yang lebih besar."

Secara terukur, kombinasi optimasi berbasis AI ini mendongkrak perolehan mineral (mineral recovery) sekitar 2,5 persen. Angka tersebut, di skala operasi sebesar Batu Hijau, berarti nilai ekonomi tambang yang signifikan sekaligus lebih sedikit logam berharga yang tertinggal di tailings.

Laser yang menjaga kelancaran di jalur conveyor

Titik kedua ada di ban berjalan (conveyor) menuju SAG Mill, mesin penggiling yang menghancurkan hampir 100 ribu ton bijih setiap hari. Di antara aliran bijih yang tampak seragam, sesekali terselip material berukuran terlalu besar atau ekstrem atau benda asing bukan bebatuan.

Jika lolos, material semacam ini bisa merusak peralatan dan mengganggu jalannya proses pengolahan.

Sistem kamera dua dimensi (2D) yang lama punya keterbatasan mendeteksi hal ini, terutama saat kondisi pencahayaan berubah atau warna material mirip dengan bijih di sekitarnya.

Tim metalurgi AMMAN kemudian mengembangkan sendiri sistem bernama 3D Particle Size Measurement (3DPM), berbasis laser triangulation yang dipasang di sepanjang jalur conveyor.

Sistem ini memindai bentuk, ukuran, dan volume material secara real-time dalam tiga dimensi, memberi operator waktu lebih awal untuk menghentikan aliran sebelum material bermasalah mencapai SAG Mill, sehingga risiko penanganan darurat di titik yang lebih berbahaya bisa ditekan.

Menurut Victor dari tim AMMAN, inovasi tersebut mencerminkan budaya perusahaan yang mendorong karyawan untuk terus mengembangkan solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi dalam operasional sehari-hari.

“Implementasi teknologi 3DPM menunjukkan bagaimana inovasi dapat lahir dari kebutuhan nyata di lapangan. Kami tidak hanya mengadopsi teknologi baru, tetapi juga mengembangkannya agar sesuai dengan kondisi operasional kami. Hasilnya adalah proses yang lebih andal, efisien, dan mampu mendukung pengelolaan risiko operasional yang lebih baik,” kata Victor, dalam keterangan resmi pada 8 Juni 2026.

Satelit yang mengukur kehijauan dari atas

Teknologi ketiga bekerja di luar pabrik, mengawasi keberhasilan reklamasi lahan bekas tambang.

Sejak 2024, AMMAN memanfaatkan citra satelit dan pesawat nirawak (UAV) untuk memantau kondisi vegetasi di area reklamasi, lalu menganalisisnya dengan metode bernama Normalized Difference Vegetation Index (NDVI).

Metode tersebut mengukur rasio panjang gelombang cahaya kanal merah dan inframerah dekat dari citra satelit atau foto udara untuk menghitung tingkat kerapatan dan kesehatan vegetasi suatu wilayah, dengan skala -1 hingga 1. Artinya, semakin mendekati 1, semakin lebat dan sehat tutupan vegetasinya.

Ketika teknologi ini diperkenalkan, Vice President Corporate Communications AMMAN, Kartika Octaviana menjelaskan, dalam keterangan 23 April 2024, metode ini resmi digunakan untuk memandu program reklamasi supaya lebih presisi dan efektif, termasuk menentukan jenis tanaman yang cocok ditanam di suatu area berdasarkan data yang terus diperbarui.

Klaim ini turut mendapat validasi dari luar perusahaan. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Julmansyah, menyebut AMMAN sebagai pelopor penerapan NDVI untuk pelestarian lingkungan di provinsi tersebut.

Head of Environment Department AMMAN Jorina Waworuntu, yang sudah lebih dari dua dekade bekerja di Batu Hijau, menyebut, dalam keterangan resmi pada 26 Juni 2026, lingkungan sebagai ‘tanggung jawab bersama,’ bukan sekadar dokumen atau laporan kepatuhan.

Sepanjang 2025, luas lahan yang direklamasi menyentuh capaian tahunan terbesar sepanjang sejarah operasional Batu Hijau, yaitu 92,67 hektare, membawa total reklamasi kumulatif menjadi 859,61 hektare hingga akhir tahun itu.

Berkat rangkaian inisiatif lingkungan, AMMAN pun meraih predikat PROPER Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup pada April 2026.

Tiga sistem, satu pola

AIDA, 3DPM, dan citra satelit sebenarnya menyasar tiga persoalan berbeda, yakni optimalisasi proses, keandalan dan keselamatan operasional, dan pemantauan lingkungan.

Ketiganya menjadi contoh bagaimana AMMN mulai menggeser proses pengambilan keputusan yang sebelumnya banyak mengandalkan pengamatan manual dan pengalaman di lapangan, menuju keputusan yang didukung oleh data yang terus diperbarui secara real-time.

Meski, tentu saja, predikat PROPER Hijau yang diraih perusahaan juga tak lepas dari inisiatif non-digital, seperti energi terbarukan dan pengolahan limbah yang berjalan berdampingan.

Dalam ketiga kasus sistem digital itu, teknologi juga sengaja tidak diposisikan untuk menggantikan peran manusia sepenuhnya, melainkan memberi karyawan informasi lebih baik untuk mengambil keputusan lebih cepat, baik itu insinyur yang meninjau rekomendasi AIDA, operator yang merespons peringatan 3DPM, maupun tim lingkungan yang menindaklanjuti data perubahan lahan dari citra satelit.

Signifikansinya akan semakin terasa seiring rencana ekspansi AMMN ke depan. Setelah smelter tembaga Sumbawa Barat resmi lulus uji performa pada Juli lalu, perusahaan juga bersiap mengembangkan Elang, proyek tembaga-emas raksasa sekitar 54 kilometer dari Batu Hijau yang dijadwalkan, mengutip Sucor, mulai berproduksi pada 2031. (Aldo Fernando)

SHARE