INSPIRATOR

Tiga Kali Gagal, Mahasiswa Indonesia Ini Akhirnya Kuliah Master di Empat Negara Eropa

Armydian Kurniawan 03/11/2026 17:39 WIB

Mahasiswa asal Indonesia ini akhirnya mendapat kesempatan melalui Erasmus Mundus Joint Masters (EMJM).

Tiga Kali Gagal, Mahasiswa Indonesia Ini Akhirnya Kuliah Master di Empat Negara Eropa. (Foto: Istimewa)

IDXChannel—Impian kuliah di Eropa tak selalu berujung pada keberhasilan dalam sekali mencoba. Andrew Dwi Permana membuktikannya setelah tiga kali gagal mendaftar. 

Mahasiswa asal Indonesia ini akhirnya mendapat kesempatan melalui Erasmus Mundus Joint Masters (EMJM). Program tersebut membawanya belajar di sejumlah universitas Eropa sejak 2022.

Perjalanan itu bermula pada 2015, ketika Andrew mengunjungi European Higher Education Fair (EHEF) di Bali. Saat itu, ia masih menempuh Teknik Elektro di Universitas Udayana. 

Pameran tersebut memberinya gambaran tentang pilihan universitas, studi lanjutan, dan beasiswa. Swedia menjadi salah satu negara tujuan yang menarik minat untuk melanjutkan pendidikan magister.

Namun, tiga kali mencoba belum membuahkan hasil.  “Enggak semuanya keberhasilan dalam satu shot,” kata Andrew, menggambarkan proses panjang yang harus dilaluinya.

Ia mengibaratkan perjuangan tersebut seperti melamar pekerjaan yang belum tentu langsung mendapat panggilan. Karena itu, kegagalan tidak seharusnya membuat calon mahasiswa berhenti mencoba. “Daripada ngoyo, lebih baik fokus mempersiapkan diri,” ujarnya.

Andrew kemudian menjajal EMJM, program yang memungkinkan mahasiswa belajar lintas universitas dan negara. Kesempatan itu akhirnya datang pada 2022 melalui program Medical Imaging and Applications (MAIA).

Lintas Negara, Beradaptasi dengan Budaya

Dalam program tersebut, Andrew menjalani perkuliahan di Prancis, Italia, dan Spanyol. Ia kemudian menyelesaikan tesis magisternya di Karolinska Institutet, Swedia. Setiap semester memiliki fokus berbeda, mulai dari pencitraan medis dasar hingga pengenalan kecerdasan buatan (AI). Materi berlanjut ke bidang spesialisasi dan persiapan tesis akhir.

Pengalaman internasionalnya juga terasa di ruang kelas. Sebanyak 28 mahasiswa dari 21 negara mengikuti program tersebut. Bahasa Inggris menjadi bahasa utama selama perkuliahan. 

Selain pengetahuan akademik, Andrew belajar memahami kebiasaan masyarakat dengan latar budaya berbeda.

Di Prancis, ia pernah tersenyum kepada orang yang lebih tua di kereta. Respons yang diterimanya berbeda dari kebiasaan yang dikenalnya di Indonesia. Pengalaman sederhana itu mengajarkannya bahwa keramahan bisa dimaknai berbeda. 

“Bukan hanya gelar yang didapatkan, tetapi juga belajar hidup di lingkungan yang berbeda,” ujarnya.

Kini, Andrew melanjutkan studi doktoral di Department of Biomedical Engineering and Health Systems, KTH Royal Institute of Technology. Ia menyarankan calon mahasiswa untuk mempersiapkan diri dan memilih studi sesuai minat. Menurutnya, kegagalan bukan alasan untuk berhenti mencoba.

Pengalaman Andrew bisa menjadi referensi bagi calon mahasiswa yang ingin menjajaki pendidikan Eropa. EHEF Indonesia 2026 hadir di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada 4 November. 

Pameran berlanjut di Catur Dharma Hall, Menara Astra, Jakarta, pada 7–8 November. Acara ini gratis dan terbuka untuk umum, dengan informasi program studi, beasiswa, serta peluang dari 90 institusi pendidikan tinggi Eropa.


(Nadya Kurnia)

SHARE