Kisah Sukses Mirzad Mlekiki, dari Dagang Bakmi Gerobakan hingga Manggung Campursari
Sebelum dikenal publik, Mirzad sudah lama menyukai musik. Kegemarannya menyanyikan lagu-lagu Didi Kempot kemudian membuatnya dikenal luas.
IDXChannel—Kisah sukses Mirzad Mlekiki menarik untuk diikuti. Pria asal Cilacap ini membangun perjalanan musiknya sendiri. Sebelumnya dia menjajakan bakmi gerobakan di kaki lima Yogyakarta, tetapi kini dia menapaki panggung campur sari dan pop-dangdut.
Bahkan, sejumlah lagu ciptaannya dipersiapkan untuk sebuah album. Targetnya, memperkenalkan karya musik Jawa dengan identitas yang lebih personal. Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam.
Sebelum dikenal publik, Mirzad sudah lama menyukai musik. Kegemarannya menyanyikan lagu-lagu Didi Kempot kemudian membuatnya dikenal luas. Kemiripan wajah dengan sang maestro turut membuka kesempatan manggung.
Pandemi COVID-19 membuat usahanya yang sudah dirintis sejak 2012 terpaksa tutup. Mirzad pun saat itu semakin serius menekuni karier musik. Pada 22 Oktober 2021, ia mendapat tawaran untuk tampil di hadapan ribuan penonton. Sejak itu, panggilan berdatangan dari berbagai daerah.
Rekam jejaknya juga tercatat dalam sejumlah pertunjukan musik. Pada 2022, Mirzad tampil bersama komunitas Sobat Ambyar. Beberapa lagunya pun menjadi hits di Apple Music dan Spotify, antara lain Ayo Sholat (2023), Ora Keduman Tresno (2023), Balen (2026) dan Kere Ayu (2026).
Mirzad lalu mengembangkan kemampuan bersama komposer lintas genre. Salah satunya adalah komposer musik campursari Yogyakarta, Merlisto. Lagu Kere Ayu adalah hasil kolaborasi dengan Merlisto sekaligus menjadi pijakan kokoh untuk membangun identitas musikalnya sendiri.
Kini, ia tengah menyiapkan sejumlah lagu dengan cerita berbeda. Salah satunya adalah Duda Kentir, tentang pria berstatus duda yang tetap bahagia. Ada pula Jomblo Lilo, yang menggambarkan penantian seseorang untuk menemukan pasangan.
Sementara itu, Pungkas mengangkat kisah luka akibat hubungan percintaan. Ketiganya tetap membawa karakter musik Jawa bernuansa patah hati. “Duda itu bukan akhir segalanya, harus tetap bahagia,” ujarnya.
Tak berhenti pada perilisan single, Mirzad juga menyiapkan album penuh. Album bertajuk Patah Hati tersebut dirancang dengan sentuhan campursari modern. Lagu-lagu yang telah diproduksi akan dikumpulkan dalam album tersebut.
Ia menargetkan proses pengerjaannya rampung pada 2027. Harapannya, karya-karyanya dapat menjangkau pendengar musik Jawa lebih luas. “Saya ingin karya ini diterima oleh semua pendengar Jawa,” katanya.
Kemiripan dengan Didi Kempot mungkin menjadi pintu masuk perjalanan Mirzad. Namun, ia kini berusaha membangun nama melalui karya orisinal. Baginya, warisan musik sang maestro bisa menjadi inspirasi berkarya. Bukan sekadar bayang-bayang yang terus melekat pada dirinya.
(Nadya Kurnia)