ECOTAINMENT

Daya Beli Tertekan, BOGA Group Optimistis Industri F&B Masih Punya Prospek Pertumbuhan

Kurnia Nadya 03/11/2026 16:29 WIB

BOGA Group melihat sektor mamin masih berpeluang tumbuh, seiring dengan munculnya berbagai konsep restoran baru dan perubahan preferensi konsumen.

Daya Beli Tertekan, BOGA Group Optimistis Industri F&B Masih Punya Prospek Pertumbuhan. (Foto: Istimewa)

IDXChannel—Di tengah berbagai pandangan mengenai tekanan daya beli masyarakat Indonesia, industri makanan dan minuman justru masih menunjukkan geliat pertumbuhan. Salah satu yang membuktikannya adalah BOGA Group dengan mengakuisisi Sukiyaki Rin. 

BOGA Group melihat sektor tersebut masih memiliki peluang pertumbuhan, seiring dengan munculnya berbagai konsep restoran baru dan perubahan preferensi konsumen.

Presiden Direktur BOGA Group, Kusnadi Rahardja, mengatakan kondisi ekonomi yang kurang kondusif memang menjadi salah satu tantangan bagi pelaku industri F&B. Namun, dinamika pasar menunjukkan bisnis kuliner masih terus berkembang.

Hal tersebut terlihat dari munculnya beragam restoran baru di sejumlah kawasan, seperti Blok M dan Gading Serpong. Kehadiran pemain baru tersebut menunjukkan bahwa pasar kuliner Indonesia masih menawarkan ruang bagi pengembangan konsep bisnis yang berbeda.

"Setiap minggu atau setiap dua minggu pasti ada sesuatu yang baru. Ada yang muncul lagi. Jadi, daya beli memang menjadi concern, tetapi tidak menghambat perkembangan industri F&B sendiri," kata Kusnadi di Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Di tengah persaingan tersebut, BOGA Group menilai diferensiasi produk menjadi salah satu faktor penting untuk mempertahankan daya tarik bisnis. Perusahaan selama ini mengembangkan berbagai merek dengan konsep dan karakteristik berbeda, mulai dari restoran Jepang, makanan Nusantara, hingga toko roti.

Strategi tersebut sejalan dengan visi BOGA untuk memperkaya pilihan kuliner masyarakat Indonesia melalui konsep bersantap yang memiliki keunikan tersendiri. BOGA melihat konsep yang ditawarkan kepada konsumen harus memiliki keunikan dan potensi untuk dikembangkan dalam skala bisnis yang lebih besar.

Di sisi lain, pengembangan bisnis F&B juga menghadapi tantangan dalam memperoleh bahan baku berkualitas, khususnya untuk kebutuhan restoran Jepang. BOGA mengakui ketersediaan bahan baku dengan standar yang diinginkan tidak selalu mudah ditemukan di pasar domestik.

Meski menghadapi berbagai tantangan tersebut, perusahaan tetap melihat peluang pertumbuhan industri kuliner yang masih terbuka. Melalui inovasi konsep, penguatan kualitas produk, dan ekspansi merek, BOGA optimistis dapat terus mengembangkan bisnisnya di tengah dinamika ekonomi.

(Birru Aisyah)

SHARE