ECONOMICS

Tak Hanya Bahan Mentah, Pemanfaatan Batu Bara Butuh Hilirisasi Demi Maksimalkan Nilai Tambah

Taufan Sukma Abdi Putra 09/10/2026 20:21 WIB

yang menjadi tantangan adalah bagaimana kemudian pola konsumsi batu bara ke depan dapat didorong menjadi lebih efisien dan memberikan nilai tambah.

Tak Hanya Bahan Mentah, Pemanfaatan Batu Bara Butuh Hilirisasi Demi Maksimalkan Nilai Tambah (foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Gencarnya pengembangan energi bersih dalam beberapa waktu terakhir seolah menempatkan keberadaan batu bara sebagai salah satu bahan bakar fosil yang kotor dan layak ditinggalkan.

Padahal, sebagai salah satu penghasil batu bara terbesar di dunia, Indonesia sudah seharusnya dapat memaksimalkan upaya inovasi demi memaksimalkan kontribusinya terhadap perekonomian nasional.

Salah satunya dengan menempatkan batu bara tidak hanya sebagai bahan mentah, melainkan komoditas strategis yang membutuhkan pemaksimalan nilai tambah melalui hilirisasi, dukungan teknologi bersih, hingga adanya diversifikasi produk.

"Batu bara masih memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan energi nasional. Tantangannya adalah bagaimana komoditas ini bisa dimanfaatkan secara lebih maksimal dan efisien, serta memberikan lebih banyak lagi nilai tambah," ujar Komisaris PT Andalan Artha Primanusa, Ivan Victor Salim, dalam keterangan resminya, Jumat (9/10/2026).

Menurut Ivan, data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sumber daya batu bara sebesar 97,96 miliar ton, dengan cadangan sekitar 31,9 miliar ton. Dengan pola penggunaan yang lebih efisien, diyakini dapat mendorong konsumsi batu bara secara stabil dalam jangka panjang.

Salah satunya lewat penggunaan batu bara sebagai bahan bakar pembangkit energi nasional, di mana dengan melimpahnya stok yang tersedia, membuat harga batu bara menjadi relatif terjangkau dan mampu menjaga daya beli masyarakat tetap dalam kondisi baik.

Penggunaan batu bara juga mampu menjaga tumbuhnya kinerja industri nasional, mengingat sejumlah sektor industri, seperti tekstil, semen serta makanan dan minuman, sangat bergantung pada pasokan listrik murah.

"Jika tarif listrik melonjak karena peralihan secara masif ke sumber energi yang lebih mahal, industri akan membebankan biaya tersebut pada harga produk jadi," ujar Ivan.
 
Sementara, di lain pihak, Indonesia juga tercatat berada di peringkat ke-4 dalam peringkat konsumsi batu bara terbesar secara global, dengan total konsumsi mencapai 5,15 exajoule (EJ) berdasarkan data Statistical Review of World Energy.

Hal ini tak lepas dari peran penting batu bara dalam memenuhi kebutuhan energi nasional. Yang kemudian menjadi tantangan adalah bagaimana kemudian pola konsumsi batu bara ke depan dapat didorong menjadi lebih efisien dan memberikan nilai tambah.

"Hilirisasi dan penambahan nilai dapat dilakukan dengan mengubah bentuk batu bara menjadi cair (Coal to Liquid / CTL). Proses ini mengolah batu bara berkalori rendah menjadi bahan bakar minyak (BBM) atau solar sintetis. Tujuannya adalah untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi," ujar Ivan.

Langkah selanjutnya, dikatakan Ivan, adalah melalui gasifikasi batu bara, yaitu dengan mengubah batu bara menjadi syngas yang bisa diproses lebih lanjut menjadi Dimetil Eter (DME).

Dalam hal ini, DME berfungsi sebagai pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG), metanol, amonia untuk pupuk, hingga bahan baku industri petrokimia.

Sementara, dukungan teknologi bersih dapat dilakukan melalui dekarbonisasi dan penggunaan teknologi pembakaran.

Keduanya dapat diterapkan dengan CCS/CCUS (Carbon Capture, Utilization, and Storage) lewat penggunaan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), yang bertujuan untuk menekan emisi gas rumah kaca.

Menggunakan teknologi pembakaran yang lebih efisien dan ramah lingkungan pada fasilitas industri dan pembangkit listrik juga merupakan alternatif yang dapat dilakukan.

Sedangkan, langkah lain juga bisa dilakukan dan juga tak kalah penting, adalah melalui penguatan regulasi dan kebijakan dalam negeri.

"Penerapan kebijakan DPO (Domestic Market Obligation) dapat membantu memberikan kepastian pasokan harga dan kuota batu bara bagi kebutuhan dalam negeri. Kebijakan ini penting supaya fluktuasi harga pasar global tidak berdampak pada stok dan harga di dalam negeri," ujar Ivan.

Bagi Ivan, langkah mengadaptasi masuknya batu bara ke dalam transisi energi secara bertahap juga turut membantu tercapainya target Net Zero Emission (Nol Bersih Emisi) pada 2060 mendatang.
 
Hal ini pernah ditegaskan oleh Kementerian ESDM, dengan mengungkap bahwa ketersediaan energi masih akan didominasi oleh sumber daya berbasis fosil, salah satunya adalah batu bara.

Dalam arti lain, batu bara belum akan ditinggalkan sepenuhnya karena belum ada sumber energi pengganti yang sama secara jumlah pasokan dan keandalannya dalam menopang kinerja industri dan juga perekonomian nasional.

"Tantangannya sekarang bukan lagi sekadar bagaimana memproduksi batu bara, tetapi bagaimana mengolah dan memanfaatkannya dengan lebih efisien serta memberikan nilai tambah bagi kebutuhan dalam negeri," ujar Ivan.

(taufan sukma)

SHARE