Suahasil Tegaskan APBN Topang Stabilitas Moneter dan Redam Gejolak Global
Suahasil memegang peranan krusial dalam memperkuat kebijakan moneter guna menjaga stabilitas perekonomian nasional di tengah gejolak ekonomi global.
IDXChannel - Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memegang peranan krusial dalam memperkuat kebijakan moneter guna menjaga stabilitas perekonomian nasional di tengah gejolak ekonomi global.
Pemerintah terus memperkuat koordinasi antara instrumen fiskal dan otoritas moneter untuk menopang ketahanan pasar keuangan domestik. Langkah ini dipandang penting guna menjaga kecukupan likuiditas sekaligus mempertahankan kepercayaan investor terhadap surat utang negara.
"Kredibilitas adalah poin utama saya dalam mengelola APBN yang menumbuhkan, melindungi masyarakat, dan bisa dipercaya. Untuk menjaga ini, kita terus mengelola likuiditas di pasar dengan bekerja sama bersama Bank Indonesia," kata Suahasil dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (11/10/2026).
Kredibilitas fiskal tersebut tecermin dari pergerakan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) rupiah tenor 10 tahun yang berada di level 7,17 persen. Dengan yield obligasi Amerika Serikat (US Treasury) bertenor sama di level 5,28 persen, selisih imbal hasil (spread) yang ditawarkan Indonesia hanya bertengger di kisaran 188 basis poin (bps).
Penyusutan selisih imbal hasil ini menandai efisiensi pembiayaan negara yang kian membaik dibanding periode-periode sebelumnya. Indonesia kini tidak lagi perlu menawarkan premi risiko terlampau tinggi untuk menarik arus modal asing ke instrumen SBN.
"Kalau dilihat dari track record 20 tahun terakhir, selisih 188 basis poin ini adalah yang paling kecil. Dulu kita harus memberi spread 400, 500, bahkan 600 basis poin baru SBN kita laku," kata dia.
Ketahanan instrumen surat utang domestik ini berlangsung di tengah tekanan suku bunga global yang ekstrem. Posisi yield US Treasury 10 tahun di level 5,28 persen merupakan angka tertinggi dalam dua dekade terakhir dan jarang sekali tersentuh dalam catatan historis pasar finansial global.
Tekanan global tersebut menuntut pemerintah untuk terus bersiap menghadapi volatilitas pasar yang dinamis. Meski Indonesia berhasil menstabilkan spread dinbawah level 200 bps, disiplin pengelolaan ekonomi tetap harus dipertahankan.
"Kondisi ekonomi dunia sedang bergejolak dan bunga obligasi Amerika Serikat sedang tinggi-tingginya, tetapi kita mampu menjaga stabilitas. Namun, kita tidak boleh complacent dan menganggap kondisi ini akan bertahan tanpa kerja keras," ujarnya.
Daya tahan instrumen pembiayaan Indonesia kian terlihat saat disandingkan dengan kelompok negara berkembang (peer group), termasuk India. Sejumlah negara bahkan terpaksa menawarkan imbal hasil jauh lebih tinggi demi memikat likuiditas dari pasar global.
Posisi tawar SBN rupiah terbukti jauh lebih kuat dibanding negara-negara mitra di kawasan lain. Disiplin fiskal dan bauran kebijakan moneter yang solid menempatkan Indonesia pada posisi premi risiko yang jauh lebih kompetitif.
"Dibandingkan negara peer group, Filipina berada di kisaran 240-an basis poin, Afrika 370-an basis poin, bahkan Brasil harus membayar 765 basis poin di atas bunga Amerika. Keunggulan komparatif inilah yang harus terus kita jaga," ujar Suahasil. (Febrina Ratna Iskana)