ECONOMICS

Rupiah Melemah Tembus Rp18.180 per USD, BI Stabilisasi Lewat NDF hingga Beli SBN

Rohman Wibowo 28/10/2026 17:11 WIB

Otoritas moneter terus melancarkan aksi stabilisasi terpadu guna menahan gejolak di pasar uang maupun pasar surat utang negara.

Rupiah Melemah Tembus Rp18.180 per USD, BI Stabilisasi Lewat NDF hingga Beli SBN. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Bank Indonesia (BI) memastikan komitmennya untuk mengawal ketat stabilitas nilai tukar rupiah yang mengalami pelemahan hingga bergerak di kisaran level Rp18.180 per USD dalam beberapa hari perdagangan terakhir.

Menghadapi volatilitas tersebut, otoritas moneter terus melancarkan aksi stabilisasi terpadu guna menahan gejolak di pasar uang maupun pasar surat utang negara. Bauran kebijakan intervensi ini diperkuat lewat koordinasi erat bersama para pelaku usaha agar kebutuhan valas di dalam negeri tetap terkelola dengan tertib.

"Langkah stabilisasi kami lakukan secara konsisten melalui transaksi NDF, DNDF, dan pasar spot, serta pembelian SBN di pasar sekunder yang diimbangi komunikasi intensif bersama korporasi dan pelaku pasar," ujar Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, dalam keterangan resmi, Rabu (28/10/2026).

Adapun depresiasi rupiah dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah yang melambungkan harga minyak mentah dunia serta memicu penguatan dolar AS secara global.

"Bank Indonesia terus hadir di pasar untuk menjaga mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga sesuai fundamentalnya," ujarnya.

Dinamika pasar valas belakangan ini memperlihatkan tren koreksi mata uang garuda, di mana merujuk kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) dan transaksi pasar spot harian, rupiah tergelincir dari posisi Rp18.156 menjadi Rp18.184 per USD.

Pelemahan ini terjadi seiring harga minyak global yang bertahan tinggi di atas level USD115 per barel, lonjakan imbal hasil (yield) obligasi, serta meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.

"Sentimen risk-off yang memburuk telah mendorong penguatan dolar AS dan memicu arus keluar modal dari pasar emerging markets, di tengah kenaikan harga minyak yang meningkatkan risiko fiskal ke depan," kata Erwin.

Di pasar domestik, tekanan terhadap rupiah kian bertambah akibat lonjakan kebutuhan likuiditas valas korporasi menjelang akhir bulan serta sentimen kekhawatiran atas wacana penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI.

Kendati demikian, daya tahan eksternal Indonesia dinilai tetap kokoh berkat posisi cadangan devisa yang mencapai USD146,3 miliar pada akhir September 2026, dengan depresiasi bulanan rupiah sebesar 1,15 persen yang secara umum masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan.

"Secara umum pergerakan rupiah masih sejalan dengan pelemahan mata uang regional lainnya, dan posisi cadangan devisa kita tetap terjaga kuat untuk menopang ketahanan sektor eksternal," tuturnya.

(NIA DEVIYANA)

SHARE