ECONOMICS

Produksi Biofuel Global Diprediksi Melonjak 70 Persen di Tengah Konflik Timteng

Wahyu Dwi Anggoro 25/09/2026 15:02 WIB

Produksi biofuel global diproyeksikan melonjak hampir 70 persen pada 2030, dipicu gejolak pasokan minyak bumi dan gas alam global.

Produksi Biofuel Global Diprediksi Melonjak 70 Persen di Tengah Konflik Timteng. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Produksi biofuel global diproyeksikan melonjak hampir 70 persen pada 2030, dipicu gejolak pasokan minyak bumi dan gas alam global.

Dilansir dari Oilprice pada Jumat (25/9/2026), negara-negara produsen utama meningkatkan penggunaan buofuel sebagai respons terhadap krisis energi yang dipicu oleh konflik Timur Tengah.

Menurut studi yang ditulis bersama oleh lembaga think tank Chatham House dan Forest Stewardship Council, biofuel menjadi lebih kompetitif secara biaya karena harga minyak bumi melonjak. 

Beberapa negara produsen utama, termasuk Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, Brasil, India, dan Indonesia telah mengadopsi atau mengusulkan mandat pencampuran biofuel yang lebih tinggi sejak pecahnya konflik di Timur Tengah pada akhir Februari.

Di AS, Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) meningkatkan volume minimum bahan bakar terbarukan untuk dicampur ke dalam pasokan bahan bakar transportasi nasional.

EPA meningkatkannya menjadi 5,4 miliar galon untuk 2026 dan 5,7 miliar galon untuk 2027, naik tajam dari 3,35 miliar galon pada 2025.

Di Uni Eropa, blok tersebut mungkin akan segera mewajibkan anggotanya untuk meningkatkan penggunaan bahan bakar nabati.

Brasil bergerak lebih cepat. Pada Juli, Dewan Kebijakan Energi Nasional (CNPE) untuk sementara menaikkan kandungan etanol wajib dalam bensin menjadi 32 persen dari 30 persen. Hukum Brasil mengizinkan pemerintah untuk menaikkan mandat etanol hingga 35 persen.

Brasil merupakan produsen biofuel terbesar kedua di dunia setelah AS, dan bersama-sama kedua negara tersebut memasok sekitar 80 persen etanol bahan bakar di dunia.

Skenario serupa terjadi di Indonesia, di mana pemerintah meluncurkan program biosolar B50 pada Juli 2026 untuk mendukung kemandirian energi. 

Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar di dunia, memproduksi lebih dari 45 juta metrik ton komoditas tersebut setiap tahunnya. Jumlah ini dua kali lipat lebih tinggi dari yang diproduksi oleh Malaysia, produsen terbesar kedua di dunia. (Wahyu Dwi Anggoro)

SHARE