ECONOMICS

Pergantian Menkeu Jadi Sorotan Pasar, Mirae Asset Tekankan Kredibilitas Fiskal

Shifa Nurhaliza Putri 15/09/2026 20:25 WIB

Pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara menjadi perhatian pelaku pasar keuangan Indonesia.

Pergantian Menkeu Jadi Sorotan Pasar, Mirae Asset Tekankan Kredibilitas Fiskal. (Foto: Ilustrasi)

IDXChannel – Pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara menjadi perhatian pelaku pasar keuangan Indonesia. Investor dinilai tidak hanya mencermati sosok Menteri Keuangan yang baru, tetapi juga arah kebijakan fiskal serta konsistensi pemerintah dalam menjaga kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai penunjukan Suahasil Nazara memberikan sinyal positif bagi pasar karena memiliki latar belakang di bidang kebijakan fiskal dan pengalaman di Kementerian Keuangan.

“Pergantian Menteri Keuangan ini menjadi sinyal positif bagi pasar, apalagi dengan latar belakang Suahasil Nazara di bidang kebijakan fiskal dan pengalamannya di Kementerian Keuangan. Namun, yang paling penting tetap implementasi dan konsistensi kebijakan, khususnya dalam menjaga kredibilitas APBN dan disiplin fiskal,” ujar Rully.

Menurut Rully, respons pasar terhadap pergantian tersebut juga perlu dilihat dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). IHSG ditutup relatif datar di level 6.461 setelah sempat terkoreksi lebih dari 1 persen.

Pergerakan tersebut menunjukkan investor masih mencermati arah kebijakan fiskal setelah pergantian Menteri Keuangan. Dalam kondisi tersebut, kredibilitas fiskal dan komunikasi kebijakan pemerintah menjadi faktor penting dalam menentukan sentimen pasar ke depan.

Di sisi eksternal, Rully memperkirakan Federal Reserve akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September. Kenaikan tersebut dinilai relatif telah diperhitungkan oleh pasar.

“Kenaikan 25 basis poin dari The Fed relatif sudah priced in. Bagi Indonesia, perhatian berikutnya akan tertuju pada pergerakan rupiah karena menjadi salah satu faktor utama yang menentukan ruang dan respons kebijakan Bank Indonesia,” kata Rully.

Menurut dia, penguatan rupiah saat ini masih ditopang kondisi eksternal yang lebih kondusif serta capital inflows. Namun, keberlanjutan penguatan tersebut tetap bergantung pada kesinambungan arus dana masuk.

Sementara di pasar Surat Berharga Negara (SBN), koordinasi kebijakan dinilai penting untuk menjaga kenaikan yield tetap berlangsung secara gradual. Perubahan persepsi investor terhadap kredibilitas kebijakan maupun peringkat Indonesia menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan.

“Yang perlu diwaspadai adalah apabila terjadi perubahan persepsi terhadap kredibilitas kebijakan atau rating, karena itu bisa menghasilkan repricing yang lebih tajam,” jelas Rully.

Dari sisi pasar saham, IHSG telah mengalami re-rating sekitar 18 persen sejak awal paruh kedua 2026. Rully menilai kenaikan berikutnya akan membutuhkan dukungan dari kinerja fundamental perusahaan serta arus dana asing yang lebih luas.

“Setelah re-rating yang cukup cepat, investor tidak bisa hanya mengandalkan kenaikan indeks. Next leg dari pasar akan membutuhkan earnings delivery dan foreign flows yang lebih luas. Karena itu, pasar akan semakin selektif,” ujar Rully.

Saat ini, arus dana asing masih cenderung terkonsentrasi pada saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan dan sejumlah saham komoditas. Kondisi tersebut menunjukkan investor mulai lebih selektif dalam menentukan aset yang memiliki fundamental dan katalis yang kuat.

(Shifa Nurhaliza Putri)

SHARE