Pacu Ekonomi Nasional, Kemenperin Dorong Industri Pengolahan Tembus 20 Persen PDB
Wamenperin menekankan pentingnya penguatan sektor industri pengolahan sebagai motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional hingga 20 persen PDB.
IDXChannel - Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menekankan pentingnya penguatan sektor industri pengolahan sebagai motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional, dengan target kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mampu melampaui angka 20 persen.
Pemerintah memandang ekspansi sektor manufaktur sebagai pilar strategis untuk mengakselerasi roda perekonomian di tengah ketidakpastian pasar global. Ambisi peningkatan porsi tersebut diposisikan sebagai mandat langsung kepala negara untuk mengukuhkan struktur ekonomi domestik.
"Ke depan, kita ingin kontribusi industri pengolahan terhadap PDB melampaui 20 persen. Ini merupakan mandat dan arahan langsung dari Bapak Presiden," ujar Faisol saat ditemui di Rapat Koordinasi Nasional Kamar Dagang dan Industri (Kadin) di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Menurut Faisol, penguatan sektor industri tersebut didukung oleh tren kinerja manufaktur yang terus berada di zona positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri manufaktur pada triwulan II-2026 mencatatkan pertumbuhan 5,32 persen secara tahunan dan menyumbang Rp1.102,88 triliun terhadap PDB nasional.
Sektor ini juga menyerap porsi realisasi investasi yang sangat signifikan, yakni mencapai 38,19 persen, sekaligus mendominasi kinerja perdagangan luar negeri dengan menyumbang 82,40 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia.
Berdasarkan data resmi BPS, industri pengolahan secara konsisten menjadi kontributor lapangan usaha terbesar bagi perekonomian nasional dengan pangsa berkisar antara 18,50 persen hingga 19,07 persen terhadap PDB.
Dominasi ini ditopang kuat oleh subsektor industri makanan dan minuman (mamin) sebagai penyumbang terbesar berkat tingginya konsumsi olahan pangan, kelapa sawit (crude palm oil/CPO), dan produk turunannya.
Selain komoditas pangan, kinerja moncer manufaktur turut didorong oleh lonjakan pertumbuhan industri logam dasar seiring keberhasilan program hilirisasi mineral besi dan baja, serta sokongan industri kimia, farmasi, dan obat tradisional.
Kekuatan fundamental manufaktur nasional dinilai memiliki fondasi yang kokoh berkat sokongan basis konsumen dalam negeri yang masif. Kemenperin menilai perputaran belanja masyarakat menjadi modal penopang yang efektif untuk menyerap hasil produksi industri lokal.
"Kita memiliki modal kuat karena pasar domestik dengan 287,2 juta jiwa mampu menggerakkan konsumsi rumah tangga sekitar Rp12,834 triliun yang bisa menjadi kontribusi terbesar untuk meningkatkan perekonomian sekaligus produktivitas industri," kata Faisol.
Kendati permintaan pasar domestik terus bergerak, pemerintah mencatat tingkat keterisian kapasitas produksi atau utilisasi industri pengolahan saat ini masih berada di level 61,81 persen atau belum menyentuh batas ideal 70 persen.
Kapasitas yang belum terpakai tersebut tidak dipandang sebagai kendala struktural, melainkan peluang ekspansi terpendam yang siap dipacu melalui penguatan substitusi impor dan penetrasi pasar ekspor baru.
Pemerintah meyakini percepatan serapan kapasitas pabrikan yang tersisa bakal melipatgandakan output manufaktur secara terukur. Upaya terus digencarkan agar utilisasi mesin produksi dapat terungkit secara bertahap dalam beberapa tahun mendatang.
"Walaupun utilisasi industri pengolahan saat ini masih di bawah 70 persen, tepatnya 61,81 persen, ruang ekspansi yang tersedia bagi pelaku usaha masih sangat besar," tutur Faisol.
(Febrina Ratna Iskana)