ECONOMICS

Minyak Dunia Bergejolak, Bahlil Pastikan Harga BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir Desember 

Iqbal Dwi Purnama 15/09/2026 12:43 WIB

Ketegangan di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga minyak global.

Minyak Dunia Bergejolak, Bahlil Pastikan Harga BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir Desember (Foto: iNews Media Group) 

IDXChannel - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga 31 Desember 2026, meskipun harga minyak dunia masih berfluktuasi.

Bahlil menjelaskan, ketegangan di Timur Tengah yang menghambat rantai pasok perdagangan minyak dunia, termasuk akibat penutupan Selat Hormuz, menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga minyak global. Kondisi tersebut turut meningkatkan beban fiskal pemerintah dalam penyediaan BBM subsidi.

“Kita sudah berkomitmen untuk harga (BBM) subsidi sampai 31 Desember, berapa pun harganya (minyak) di dunia, tidak akan kita naikkan,” ujar Bahlil dalam acara InTech SEA 2026 di Jakarta, Senin (14/9/2026).

Menurut Bahlil, harga minyak dunia saat ini telah mencapai USD106 per barel. Sementara itu, rata-rata harga minyak acuan nasional sepanjang Januari-September 2026 berada di kisaran USD85–90 per barel. Angka tersebut masih berada di atas asumsi harga minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang ditetapkan sebesar USD70 per barel.

“Jadi bayangkan berapa subsidi kita. Saya katakan ke Presiden, energi ini urusan orang banyak. Kita harus mampu mengambil kebijakan, sekalipun kondisi global luar biasa, tapi kepastian harga harus kita jamin,” tutur Bahlil.

Lifting Minyak Menurun

Bahlil menambahkan, peningkatan beban subsidi energi juga dipengaruhi oleh penurunan produksi minyak nasional. Lifting minyak Indonesia terus mengalami penyusutan sejak mencapai puncaknya pada 1996-1997.

Saat ini, lifting minyak Indonesia berada di kisaran 600.000-610.000 barel per hari. Sementara itu, kebutuhan minyak nasional telah mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari.

Dengan demikian, Indonesia perlu mengimpor minyak sekitar 1 juta barel per hari. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah, terutama di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga minyak dunia.

Lebih lanjut, Bahlil menyampaikan, penutupan Selat Hormuz berpotensi memengaruhi pasokan minyak ke Indonesia. Pasalnya, sekitar 20-25 persen minyak yang masuk ke Indonesia berasal dari kawasan Timur Tengah dan sebagian di antaranya melewati jalur strategis tersebut.

Namun, Bahlil memastikan pemerintah telah mengupayakan penggantian pasokan minyak dari negara lain yang tidak bergantung pada jalur Selat Hormuz.

“Jadi begitu ditutup ada dua tantangannya, satu kepastian suplai dan harga,” kata Bahlil.

(DESI ANGRIANI)

SHARE