ECONOMICS

Mentan Singgung Adanya Peran Mafia di Balik Kenaikan Harga Beras

Tangguh Yudha 21/09/2026 15:10 WIB

Mentan menyinggung adanya peran mafia di balik kenaikan harga beras yang terjadi di tengah kondisi stok yang dinilai melimpah.

Mentan Singgung Adanya Peran Mafia di Balik Kenaikan Harga Beras (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel - Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menyinggung adanya peran mafia di balik kenaikan harga beras yang terjadi di tengah kondisi stok yang dinilai melimpah.

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya melaporkan harga beras nasional pada pekan ketiga September berada di atas Harga Eceran Pemerintah (HET) atau Harga Acuan Pemerintah (HAP).

"Beras kenapa naik? Kenapa naik padahal stok banyak? Ada mafia. Ini yang bikin ribut," kata ungkap Amran dalam konferensi pers di Jakarta pada Senin (21/9/2026).

Amran bahkan menyebut dugaan praktik tersebut merugikan masyarakat hingga Rp90 triliun. Dia mencontohkan adanya beras yang dibeli dengan harga Rp13.000, namun kemudian dijual hingga Rp57.000 per kg.

"Tahu nggak? Itu Rp90 triliun diambil haknya rakyat. Itu penipuan. Haknya rakyat kan? Benar nggak? Ya itu yang diberitakan. Benar. Bayangkan harganya Rp13.000. Dia jual Rp57.000. Adil nggak itu? Menurutmu apa dia? Orang baik? Penipu," katanya.

Menurut Amran, kenaikan harga beras saat ini tidak seharusnya terjadi karena pemerintah memiliki stok beras dalam jumlah besar. Dia menegaskan tidak akan memberikan ruang bagi praktik mafia beras.

"Enggak ada ruang bagi mafia beras di Indonesia. Kita berhadapan," ujar Amran. Terkait kelangkaan beras premium di sejumlah ritel akibat temuan beras fortifikasi tak sesuai standar, Amran mengatakan pemerintah telah memerintahkan Perum Bulog untuk menyalurkan beras ke pasar. Ia menyebut stok beras pemerintah saat ini mencapai sekitar 4,6 juta ton.

Amran juga menilai kondisi harga beras di pasar tradisional dapat menjadi pembanding dengan harga di ritel. Menurut dia, ketika stok beras melimpah tetapi harga tetap meningkat, pemerintah perlu mencari penyebab di luar persoalan ketersediaan pasokan.

"Dulu kalau tidak ada stok, harga naik kan? 'Wah menterinya salah nih, impor.' Begitu sekarang banyak beras, apa alasannya lagi? Tidak impor, apa alasannya lagi? Berarti memang ada mafia dari dulu. Ini yang harus diberesin," tutur dia.

Dalam upaya menekan harga beras, pemerintah, kata Amran terus menggelar operasi pasar serta menyalurkan bantuan pangan. Ia menyebut bantuan pangan serta Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) terus diberikan ke masyarakat di seluruh Indonesia.

"Sekarang, kita saya kira dalam waktu dekat. Kita sekarang operasi pasar. Kemudian bantuan pangan untuk 33,4 juta orang seluruh Indonesia. Kemudian SPHP ada 1 juta. Sudah, insyaallah turun (harga)," katanya.

(kunthi fahmar sandy)

SHARE