Mantan Menristek Bambang Ajak Last Energy Kembangkan SMNP di Indonesia
Energi nuklir memiliki porsi sebesar 10 persen terhadap elektrifikasi di dunia.
IDXChannel - Mantan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), Bambang Brodjonegoro, berkunjung ke Kantor Staf Kepresidenan RI dan bertemu dengan Kepala Staf Kepresidenan RI, Moeldoko, pada Selasa (12/4). Dalam pertemuan tersebut, Bambang mengajak juga sebuah penyedia teknologi pembangkit listrik modular skala kecil bertenaga nuklir (Small Modular Nuclear Power/SMNP), Last Energy.
Vice Presiden Last Energy Adam Zuckerman mengatakan, kedatangannya ke Kantor Staf Presiden untuk memperkenalkan sistem pembangkit listrik rendah emisi dan mengandung energi bersih, yakni berbasis modular modern nuclear.
“Dengan menggunakan desain modular yang terstandarisasi, kami (Last Energy) memberikan listrik yang nol emisi dan bisa mendekarbonisasi industri dengan cepat. Kami menggunakan teknologi reaktor air tekan atau Pressurized Water Reactor (PWR),” ujar Adam, di sela kunjungannya.
Adam mengklaim, dengan menggunakan teknologi modular, pembangunan dan pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir tidak membutuhkan lahan besar, tapi tetap menghasilkan daya yang sama. Selain itu, lanjut dia, teknologi modular juga bisa dengan mudah dikembangkan ke skala yang lebih besar.
Masih dalam audensi, mantan Menristek RI Bambang Brodjonegoro berharap, pemerintah Indonesia mulai memikirkan nuklir sebagai alternatif sumber energi ke depan, dan tidak lagi menempatkannya sebagai opsi terakhir. Mengutip data world-nuclear.org, Ia menyebut, setidaknya sebanyak 50 negara di dunia telah mengoperasikan PLTN untuk memasok kebutuhan listriknya.
"Energi nuklir memiliki porsi sebesar 10 persen terhadap elektrifikasi di dunia, dengan sebanyak 440 reaktor nuklir yang beroperasi," kata Bambang.
Menanggapi hal itu, Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko menegaskan, pemerintah sampai saat ini masih menjadikan PLTN sebagai opsi yang dimunculkan untuk mencapai target bauran energi baru terbarukan (EBT) sekitar 23 persen pada 2025.
Namun untuk mewujudkan itu, kata dia, memerlukan program pembangunan, yang sebelumnya harus melalui kajian secara mendalam. Terlebih sampai saat ini, kekhawatiran masyarakat soal reaksi nuklir masih sangat besar.
"Indonesia memang sedang transisi energi ke energi baru terbarukan. Termasuk potensi uranium dan thorium untuk pembangkit listrik tenaga nuklir. Tapi kita harus hati-hati menggunakan istilah nuklir di masyarakat. Butuh edukasi dan sosialisasi," ucap Moeldoko.
Mantan Panglima TNI ini juga mengakui, pembangkit listrik modular skala kecil bertenaga nuklir yang dikembangkan last energy sangat sesuai dengan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan, yang kebutuhan listriknya masih relatif kecil.
“Di mana banyak pulau-pulau kecil yang memerlukan energi listrik tidak terlalu besar dan tidak dapat terhubung dengan transmisi listrik utama. Sehingga butuh penyedia-penyedia listrik berskala kecil,” jelas Moeldoko. (TSA)