Inflasi Belum Jinak, Suku Bunga The Fed Diproyeksi Bertahan 4,25 Persen hingga 2027
Lonjakan harga energi akibat konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi salah satu faktor kejutan yang mengubah arah ekspektasi inflasi global.
IDXChannel - Suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) diperkirakan bertahan di level 4,25 persen sepanjang 2027.
Proyeksi tersebut sejalan dengan tekanan inflasi AS yang masih persisten, sehingga ruang pelonggaran kebijakan moneter belum terbuka meskipun inflasi mulai turun secara bertahap.
Lead Economist Bank Danamon Irman Faiz mengatakan, lonjakan harga energi akibat konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi salah satu faktor kejutan yang mengubah arah ekspektasi inflasi global sepanjang 2026.
Sebelumnya, pelaku pasar memperkirakan inflasi global akan terus mereda sehingga membuka ruang bagi bank sentral untuk menurunkan suku bunga acuan. Namun, kenaikan harga energi justru membuat tekanan inflasi kembali meningkat dan memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga pada level tinggi.
"Yang tadinya di 2025 orang-orang mulai memproyeksikan inflasi mereda sehingga ekspektasinya kebanyakan suku bunga di global bisa lebih rendah. Tapi dengan kejutan ini, arah yang berbalik justru inflasi yang lebih tinggi. Mau tidak mau suku bunga pasti mengikuti juga," ujar Faiz dalam pelatihan wartawan Bank Indonesia Semester II-2026 di Sabang, Aceh, Kamis (5/11/2026).
Faiz menjelaskan, perubahan ekspektasi inflasi tersebut tercermin dari kenaikan imbal hasil US Treasury yang meningkat dari sekitar 4,2 persen pada 2025 menjadi 5 persen pada 2026.
Memasuki 2027, Faiz memperkirakan perekonomian dunia akan menunjukkan perbedaan laju pertumbuhan antara satu kawasan dan kawasan lainnya. Divergensi tersebut dipengaruhi oleh karakteristik ekonomi, tingkat ketergantungan terhadap energi, serta kondisi inflasi di masing-masing negara.
Amerika Serikat dan Eropa, misalnya, lebih rentan terhadap perubahan harga energi karena harga energi di kedua kawasan tersebut mengikuti mekanisme pasar. Sementara itu, sejumlah negara Asia, seperti China yang secara ekonomi relatif lemah membuat kebijakan moneternya cenderung lebih akomodatif.
"Perbedaan kondisi tersebut perlu dicermati karena dinamika ekonomi negara-negara besar akan memengaruhi prospek perekonomian negara lain, termasuk Indonesia," tutur Faiz.
Dari sisi inflasi, Amerika Serikat masih menjadi salah satu acuan penting dalam membaca arah perekonomian global. Faiz menyoroti inflasi konsumen AS yang meningkat menjadi 3,7 persen secara tahunan (yoy) pada September 2026, dari 3,4 persen pada bulan sebelumnya.
Pada periode yang sama, inflasi di tingkat produsen juga meningkat menjadi 6,3 persen, terutama didorong oleh kenaikan harga energi.
Tekanan inflasi yang masih tinggi tersebut membuka peluang bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Desember 2026 sehingga suku bunga acuan diperkirakan mencapai 4,25 persen.
Persistensi inflasi AS akan membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter pada 2027 semakin terbatas. Meskipun inflasi diperkirakan turun secara bertahap, kenaikan biaya pada produk hilir masih berpotensi menahan laju penurunan harga.
"Dengan melihat persistensi inflasi AS ini, kami juga memperkirakan pada Desember suku bunga acuan The Fed masih akan naik 25 basis poin. Kemudian, pada tahun depan, karena inflasinya turun perlahan, belum ada ruang untuk memangkas suku bunga acuan," tutur Faiz.
(DESI ANGRIANI)