Hubungan Dagang dengan Singapura Perlu Seimbang, Ekonom Nilai Indonesia Banyak Ruginya
Ekonom menilai hubungan dagang Indonesia dengan Singapura perlu diperbaiki agar lebih seimbang. Sebab, Indonesia selama ini masih banyak dirugikan.
IDXChannel - Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Didin S. Damanhuri menilai hubungan dagang Indonesia dengan Singapura perlu diperbaiki agar lebih seimbang. Itu lantaran Indonesia selama ini masih banyak dirugikan.
Salah satu contohnya, ekspor minyak mentah Indonesia ke Singapura. Namun Indonesia kembali melakukan impor BBM untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri.
Pada 2025, berdasarkan data Badan Pusat Statistik Nasional ekspor minyak mentah RI ke Singapura tembus 54 ribu ton. Sementara impor BBM dari Singapura ke Indonesia mencapai 14,63 juta ton pada periode yang sama.
"Hubungan kita dengan Singapura itu saling tergantung. Misalnya, kita mengimpor minyak olahan, tetapi bahan bakunya berasal dari Indonesia. Singapura memiliki kilang untuk mengolah minyak mentah tersebut sehingga Indonesia membutuhkan hasil pengolahannya," ujar Didin saat dihubungi MNC Portal, Minggu (1/11/2026).
Kementerian Perdagangan mencatat, secara keseluruhan nilai ekspor Indonesia ke Singapura pada 2025 mencapai USD13,44 miliar. Nilai ini termasuk ekspor minyak mentah, peralatan listrik, timah, produk kimia, besi dan baja, nikel, hingga berbagai macam makanan olahan.
Sementara itu, nilai impor Indonesia dari negara tersebut tercatat sebesar USD19,06 miliar. Jumlah ini termasuk BBM, perangkat optik, barang dari plastik, produk olahan kimia, barang olahan dari besi dan baja, hingga mesin dan peralatan listrik.
Dengan demikian, Indonesia mengalami defisit perdagangan dengan Singapura sekitar USD5,62 miliar sepanjang tahun lalu.
"Dengan segala posisi geografi, sumber daya alam, jadi harus saling ketergantungan dan win-win, yang menurut saya sekarang ini masih win-lose, Indonesia banyak dirugikan," kata Didin.
Menurutnya, Indonesia selama ini lebih banyak berada pada posisi sebagai pemasok bahan baku, sementara Singapura memiliki posisi strategis dalam pengolahan, perdagangan, dan distribusi produk bernilai tambah. Kondisi tersebut membuat Indonesia belum memiliki posisi tawar yang kuat dalam menentukan harga komoditas yang diperdagangkan.
"Indonesia ekspor bahan baku, tetapi kita besar mengimpor barang jadi, misalnya BBM. Tetapi kemudian dalam penentuan harga tidak dianggap apa-apa. Dalam migas juga market diatur di sana, kita kan bukan penentu harga," kata dia.
Dihubungi secara terpisah, Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini menilai konflik sentimen yang tengah terbangun antara Indonesia dan Singapura seharusnya menjadi titik koreksi bagi pemerintah.
Ia menilai defisit neraca dagang yang terjadi antara Indonesia dan Singapura disebabkan oleh ketidakmampuan pemerintah untuk menghadirkan fasilitas produksi sendiri di dalam negeri. Akhirnya banyak perusahaan yang hanya sekedar melakukan ekspor ke luar dan ujungnya tidak ada penciptaan nilai tambah di dalam negeri.
"Selama ini Singapura lebih banyak memanfaatkan sumber daya alam kita, dan dia mengelolanya mendapatkan nilai tambah yang tinggi dan lebih dari Indonesia. Itu karena dia menggunakan teknologi," kata Didik.
(Febrina Ratna Iskana)