ECONOMICS

Hashim Sebut MBG Jadi Pondasi RI Menuju Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Tim IDXChannel 14/10/2026 00:28 WIB

Hashim menyoroti strategi pemerintah dalam mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen. Salah satu strateginya yaitu program MBG.

Hashim Sebut MBG Jadi Pondasi RI Menuju Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Dewan Penasihat Prasasti, Hashim Djojohadikusumo, menyoroti strategi pemerintah dalam mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen. Salah satu strateginya yaitu program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Hashim menyoroti ketimpangan kualitas modal manusia Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara seperti Korea Selatan. Rendahnya skor PISA Indonesia yang berada pada peringkat 62 dari 70 negara, serta tingginya angka stunting pada anak di Indonesia menjadi tantangan serius yang berdampak pada produktivitas tenaga kerja nasional.

"Kualitas gizi yang buruk bukan sekadar masalah kesehatan, melainkan hambatan struktural yang berisiko mengubah bonus demografi menjadi beban perekonomian," ujar Hashim pada Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Hotel Ritz Carlton, Jakarta Pusat pada Selasa (13/10/2026).

Gagasan mengenai intervensi gizi ini sejatinya telah dipikirkan oleh Presiden Prabowo Subianto sejak 2006 lalu. Berdasarkan riset internal pemerintah, sekitar 41 persen anak sekolah di Indonesia melangkah ke sekolah tanpa sarapan.

Kondisi perut kosong ini dinilai sangat mengganggu tingkat konsentrasi dan daya tangkap siswa saat menerima materi pelajaran.

Oleh karena itu, keberlanjutan program MBG diposisikan sebagai langkah krusial untuk mengatasi masalah kekeringan gizi dan stunting. Penjaminan nutrisi dan sarapan yang layak bagi anak-anak sekolah dinilai akan menjadi pondasi utama untuk meningkatkan kapasitas SDM cerdas dan sehat untuk menuju pertumbuhan ekonomi 8 persen.

Menanggapi berbagai kritik di media sosial, Hashim menegaskan bahwa program makan gratis bukanlah hal yang mutakhir atau eksperimental. Praktik semacam ini telah lama diimplementasikan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Inggris, sehingga langkah Indonesia saat ini tergolong sebagai upaya mengejar ketertinggalan. 

Reporter: Birru Aisyah Shabrina

Editor: Febrina Ratna Iskana

SHARE