Eropa Kembali Terancam Krisis Utang, Prancis Jadi Sorotan
Para pedagang kini juga memantau gejolak di Eropa, khususnya Prancis.
IDXChannel - Aksi jual besar-besaran di pasar obligasi Amerika Serikat (AS) telah mengguncang investor dalam beberapa bulan terakhir, tetapi para pedagang kini juga memantau gejolak di Eropa, khususnya Prancis.
Dilansir dari Business Insider pada Selasa (6/10/2026), negara dengan ekonomi terbesar ketiga di Eropa ini berada di ambang krisis utang, mengancam keresahan sosial dan pergolakan politik.
Imbal hasil obligasi pemerintah Prancis telah melonjak dalam seminggu terakhir, dipicu keraguaj investor terhadap situasi fiskal negara tersebut.
Risiko Inflasi dan potensi instabilitas politik di Eropa memperburuk reaksi pasar, memicu aksi jual besar-besaran obligasi Eropa yang berlanjut hingga akhir pekan.
Obligasi Prancis paling terdampak oleh aksi jual tersebut, dan investor menuntut imbal hasil yang semakin tinggi untuk memegang utang tersebut dibandingkan dengan obligasi pemerintah Jerman.
Imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Prancis 10 tahun melonjak hingga hampir 5 persen pada Jumat lalu, level tertinggi sejak 2002.
Selain itu, selisih atau spread antara imbal hasil obligasi Prancis dan Jerman melebar ke level terbesar dalam hampir 15 tahun.
Kekhawatiran bahwa kesulitan negara Itu dapat memicu penularan ke negara lain di kawasan semakin meningkat.
Kesulitan sudah dirasakan sejumlah negara pengguna zona euro lainnya. Yield obligasi pemerintah Italia bertenor 10 tahun melonjak hingga 4,74 persen, naik 18 basis poin dalam seminggu terakhir.
Yunani, yang telah bergumul dengan masalah fiskal dan krisis utang selama sebagian besar abad ke-21, melihat imbal hasil obligasi bertenor 10 tahunnya melonjak hingga 4,57 persen, juga naik 18 basis poin selama seminggu terakhir.
Yunani dan sejumlah negara Eropa lainnya mengalami krisis utang pada dekade 2010-an, memicu pemberian dana talangan dan langkah penghematan besar-besaran.
Prancis mengumumkan rancangan anggaran 2027 pada Kamis lalu, menarik perhatian investor pada konfisi utang negara, yang diperkirakan meningkat ke rekor tertinggi sepanjang masa sebesar 119 persen dari produk domestik bruto (PDB) tahun ini.
Prancis juga mengatakan pihaknya berencana untuk menjual obligasi dalam jumlah rekor tahun depan, memicu kekhawatiran di kalangan investor obligasi bahwa kondisi fiskal menjadi tidak berkelanjutan.
Ketidakstabilan politik di Eropa juga berperan. Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, menyerukan pemilihan umum sela pada November setelah protes baru-baru ini tentang keterjangkauan perumahan. Ketidakstabilan geopolitik juga dapat menjadi alasan bagi investor untuk menjual obligasi. (Wahyu Dwi Anggoro)