ECONOMICS

Ekspor Hilirisasi Komponen Baterai Litium Diprediksi Tembus USD50 Miliar hingga Akhir 2026

Tangguh Yudha 21/10/2026 11:45 WIB

Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memperkirakan nilai ekspor produk hilirisasi Indonesia mencapai USD50 miliar hingga akhir 2026.

Ekspor Hilirisasi Komponen Baterai Litium Diprediksi Tembus USD50 Miliar hingga Akhir 2026. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memperkirakan nilai ekspor produk hilirisasi Indonesia mencapai USD50 miliar hingga akhir 2026. Angka tersebut meningkat sekitar 45 persen dibandingkan nilai ekspor hilirisasi pada 2024 yang sebesar USD34,5 miliar.

Anggota DEN Septian Hario Seto mengatakan, peningkatan ekspor tersebut ditopang oleh perkembangan industri hilirisasi nikel, aluminium, serta komponen baterai litium di Indonesia.

"Hitungan dari Dewan Ekonomi Nasional, sampai dengan akhir tahun ini hilirisasi nikel, hilirisasi aluminium, dan hilirisasi tadi komponen-komponen litium baterai itu nilainya akan mencapai sekitar USD50 miliar atau naik hampir sekitar 45 persen dibandingkan ekspor kita pada tahun 2024," ujarnya usai pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Rabu (21/10/2026).

Septian menjelaskan, hasil kajian terbaru DEN tersebut telah disampaikan kepada Presiden. Menurutnya, perkembangan industri hilirisasi Indonesia kini tidak hanya bertumpu pada komoditas nikel, tetapi juga mulai meluas ke aluminium dan komponen baterai litium.

Salah satu sektor yang mencatat pertumbuhan signifikan adalah hilirisasi aluminium. DEN memperkirakan nilai ekspor produk aluminium Indonesia mencapai USD7 miliar hingga USD7,2 miliar pada tahun ini, meningkat dari sekitar USD3,5 miliar pada 2024.

Selain aluminium, Septian menyoroti perkembangan industri komponen baterai litium. Indonesia kini telah menjadi salah satu produsen komponen baterai, seperti anoda dan katoda, bahkan memiliki fasilitas pemurnian litium atau lithium refinery.

Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia mulai mampu membangun industri pengolahan berbasis bahan baku yang tidak tersedia di dalam negeri.

"Artinya Indonesia sudah bisa melakukan industrialisasi dari sumber daya alam yang kita tidak miliki. Tapi industrialisasi ini merupakan bagian dari ekosistem tadi yang lebih lengkap," kata Septian.

Septian menilai peningkatan ekspor hilirisasi tersebut menjadi capaian positif selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo. Selain memperkuat sektor industri, pertumbuhan ekspor juga berpotensi memberikan tambahan devisa bagi Indonesia.

"Jadi ini merupakan prestasi yang tadi kami sampaikan sangat baik kepada Bapak Presiden karena selama dua tahun periode pemerintahan beliau ekspor hilirisasi kita itu bisa meningkat sekitar 45 persen," katanya.

Ke depan, kata dia, DEN memperkirakan nilai ekspor produk aluminium masih berpotensi meningkat hingga melampaui USD10 miliar. Proyeksi tersebut sejalan dengan bertambahnya investasi pada pembangunan smelter aluminium baru di Indonesia.

"Jadi ini juga akan menjadi sumber tambahan devisa yang sangat baik buat Indonesia. Ke depannya kita perkirakan untuk aluminium ini ekspornya bisa melebihi sekitar USD10 miliar seiring dengan penambahan investasi dari smelter-smelter aluminium yang baru di Indonesia," ujar dia.

(Dhera Arizona)

SHARE