Danantara Siap Perkuat Daya Saing Industri Tekstil dan Sepatu Nasional
Danantara bersama BP BUMN menekankan komitmennya untuk memperkuat industri tekstil dan alas kaki nasional dari hulu hingga hilir.
IDXChannel - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) bersama Badan Pengelola Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) menekankan komitmennya untuk memperkuat industri tekstil dan alas kaki nasional dari hulu hingga hilir.
Langkah ini diarahkan untuk mendongkrak kembali daya saing manufaktur padat karya dalam negeri di tengah tekanan persaingan pasar global. Agenda tersebut difokuskan untuk merumuskan langkah pemulihan yang konkret agar industri padat karya nasional mampu bangkit menghadapi serbuan produk impor dan tekanan ekspor.
Pada tahun 2024, kedua industri ini terus tumbuh secara moderat namun ekspansif. Tekstil mencapai nilai tertinggi di angka Rp203,95 triliun, sementara alas kaki melaju ke Rp49,24 triliun. Kontribusi industri tekstil sendiri tercatat berada di kisaran 0,97-0,99 persen terhadap total PDB nasional.
"Danantara Indonesia dan BP BUMN berkomitmen penuh memperkuat daya saing industri tekstil dan sepatu nasional dari hulu hingga hilir. Penguatan ini sangat krusial agar industri padat karya kita mampu menghadapi persaingan globalbyang ketat dengan negara-negara kompetitor," ujar Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, dalam keterangan resmi dikutip Kamis (24/9/2026).
Dalam pertemuan yang digelar baru-baru ini, pelaku industri tekstil dan sepatu membeberkan sejumlah tantangan struktural yang dihadapi operasional pabrik. Berbagai persoalan mendasar yang disoroti mencakup tingginya beban produksi, kendala pada sistem kerja, hingga inefisiensi pada struktur pembiayaan harian.
Menanggapi keluhan pengusaha, Danantara menekankan perlunya audit menyeluruh terhadap rantai pasok agar pembenahan struktur biaya berjalan terarah dan terukur. Efisiensi tersebut bakal didorong melalui pemanfaatan ekosistem kawasan industri yang terhubung langsung dengan simpul infrastruktur logistik utama.
"Kami meminta persoalan industri tekstil maupun sepatu dipetakan secara komprehensif, mulai dari kapasitas produksi, tren jangka panjang, ekspor, hingga perbandingan produktivitas dengan negara kompetitor agar beban produksi semakin efektif dan efisien. Ke depan, Danantara dan BP BUMN siap mendukung dengan mengintegrasikan pabrik ke kawasan industri yang terhubung pelabuhan, dry port, jalan tol, dan energi untuk memangkas biaya operasional," tuturnya.
Untuk menjaga stabilitas penjualan di tingkat produsen, BUMN juga diwajibkan memaksimalkan penyerapan produk tekstil dan sepatu dalam negeri. Penyerapan belanja pengadaan internal BUMN ini diharapkan dapat menjamin kepastian permintaan di pasar lokal saat pesanan ekspor mengalami pelambatan.
Penataan ekosistem manufaktur ini juga memerlukan sinkronisasi kebijakan antar-instansi pemerintah guna membendung hambatan tata niaga serta memperluas akses modal kerja. Integrasi lintas sektor tersebut dinilai krusial untuk melindungi jutaan tenaga kerja yang menggantungkan hidup pada industri padat karya.
"Danantara dan BP BUMN akan berkoordinasi erat dengan kementerian dan lembaga terkait untuk mengurai hambatan lintas sektor, mulai dari perdagangan, investasi, hingga pembiayaan. Upaya terpadu ini diharapkan dapat membangun kembali fondasi manufaktur nasional, menyerap lapangan kerja secara luas, sertabmengembalikan daya saing Indonesia di pasar domestik maupun global," kata Dony.
(Rahmat Fiansyah)