ECONOMICS

China dan AS Sepakati Pemangkasan Tarif USD30 Miliar dan Bahas AI

Nia Deviyana 27/09/2026 18:44 WIB

Penurunan tarif tersebut akan berlaku untuk ekspor AS seperti produk pertanian, kayu, dan kosmetik, serta impor AS yang mencakup peralatan rumah tangga kecil.

China dan AS Sepakati Pemangkasan Tarif USD30 Miliar dan Bahas AI. Foto: AP.

IDXChannel - Amerika Serikat (AS) dan China sepakat menurunkan tarif atas barang senilai USD30 miliar dan membuka dialog mengenai kecerdasan buatan (AI). Melansir Reuters, hal itu diungkapkan kedua negara dalam pernyataan setelah kunjungan Presiden Xi Jinping ke Washington.

Penurunan tarif tersebut akan berlaku untuk ekspor AS seperti produk pertanian, kayu, dan kosmetik, serta impor AS yang mencakup peralatan rumah tangga kecil, mainan, dan dekorasi, menurut pernyataan Gedung Putih pada Jumat.

“Kedua negara mencapai konsensus mengenai rekomendasi perlakuan tarif yang lebih menguntungkan untuk barang-barang non-sensitif senilai USD30 miliar dari masing-masing arah,” kata Gedung Putih.

KTT selama tiga hari antara Xi dan Presiden Donald Trump yang berakhir pada Jumat tersebut menampilkan diplomasi personal kedua pemimpin, alih-alih terobosan besar yang diumumkan kepada publik.

Kedua pihak juga sepakat membentuk dewan perdagangan dan memperpanjang hasil dari pembicaraan sebelumnya di Kuala Lumpur, menurut Kementerian Luar Negeri China.

Kesepakatan tersebut menyusul langkah dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu untuk memperpanjang gencatan perdagangan selama dua bulan yang sebelumnya akan berakhir pada 10 November.

“Kunjungan bersejarah ini memperkaya hubungan China-AS yang konstruktif dan stabil, menjaga stabilitas hubungan bilateral secara keseluruhan, membuka babak baru dalam hubungan China-AS, serta akan memberikan dampak luas terhadap perdamaian dan pembangunan dunia,” kata Menteri Luar Negeri China Wang Yi dalam sebuah pernyataan.

Dialog Terkait AI

Dalam bidang kecerdasan buatan, kedua negara sepakat menggelar dialog mengenai risiko dan manfaat teknologi tersebut. Putaran pembicaraan berikutnya dijadwalkan pada November. Kedua pihak juga sepakat membentuk saluran komunikasi untuk menangani insiden terkait AI, menurut Kementerian Luar Negeri China dan Gedung Putih.

Gedung Putih mengatakan kedua pemimpin sepakat menggunakan istilah “super intelligence” sebagai pengganti istilah “artificial intelligence”.

Dalam pernyataan terpisah, Kementerian Luar Negeri China mengatakan Beijing menghargai penggunaan istilah baru tersebut oleh Washington.

Seiring teknologi AI terus berkembang, kedua pihak harus meningkatkan pertukaran dan berupaya mencapai konsensus sejalan dengan perkembangan baru.

Kedua negara juga sepakat untuk saling mendukung dalam menjadi tuan rumah pertemuan para pemimpin Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) dan KTT G20. Kedua pemimpin berencana menghadiri pertemuan yang diselenggarakan oleh negara masing-masing.

Dalam kebijakan luar negeri, kedua pemimpin sepakat bahwa Iran harus memenuhi komitmennya untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Kedua negara juga menyatakan bahwa tidak ada negara atau entitas yang boleh mengenakan biaya transit di jalur perairan internasional.

(NIA DEVIYANA)

SHARE