ECONOMICS

BI Sebut Volatilitas Rupiah Terjaga Dibanding Korea dan Malaysia, Meski Terdepresiasi 7,74 Persen

Anggie Ariesta 30/09/2026 13:28 WIB

BI menegaskan gejolak atau volatilitas pergerakan nilai tukar rupiah masih jauh lebih stabil dan terkendali dibandingkan dengan mata uang negara-negara Asia.

BI Sebut Volatilitas Rupiah Terjaga Dibanding Korea dan Malaysia, Meski Terdepresiasi 7,74 Persen. (Foto: Anggie Ariesta/iNews Media Group)

IDXChannel - Bank Indonesia (BI) menegaskan gejolak atau volatilitas pergerakan nilai tukar rupiah masih jauh lebih stabil dan terkendali dibandingkan dengan mata uang negara-negara sejawat (peers) di kawasan Asia, meskipun secara kumulatif terdepresiasi 7,74 persen secara year-to-date (ytd) hingga 29 September 2026.

Direktur Eksekutif sekaligus Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia Erwin Gunawan Hutapea mengatakan tekanan pada nilai tukar pada dasarnya berakar dari struktur fundamental ekonomi domestik, khususnya kinerja defisit transaksi berjalan (current account deficit).

“Kalau boleh rekan-rekan sekalian, mungkin sedikit menambahkan apa yang sudah dijelaskan Bu Gubernur (Destry) sebenarnya di Raker kemarin. Nilai tukar itu kan tidak bisa dipisahkan dari struktur ekonomi atau fundamental ekonomi, khususnya ketika kita bicara transaksi berjalan ini,” kata Erwin dalam taklimat media, Rabu (30/9/2026).

Menurut dia, secara teoretis dan fundamental, ketika transaksi berjalan suatu negara mencatatkan defisit, tingkat kebutuhan valuta asing (valas) secara alami akan melampaui kemampuan produksi valas di dalam negeri. Kondisi ini yang kemudian menuntut bank sentral untuk mengawal agar pergerakan nilai tukar tetap terukur dan terkendali.

“Sebuah negara ketika transaksi berjalannya itu defisit, artinya kan kebutuhan valasnya kan lebih gede daripada produksinya. Jika memang pergerakan nilai tukarnya akan bergerak mengikuti situasi itu, jadi tugas kita adalah menjaga stabilitas,” kata Erwin.

Di tengah tekanan dolar AS yang melanda kawasan regional, volatilitas rupiah tercatat berada di level 7,30 persen. Angka ini dinilai jauh lebih tenang dibandingkan volatilitas mata uang Won Korea Selatan yang menyentuh 15,6 persen, Peso Filipina sebesar 8,7 persen, serta Ringgit Malaysia yang berada di level 8,59 persen.

“In terms of stabilitas, in terms of volatility, kita sebenarnya better off dibandingkan peers kita: 7,30 persen volatility kita dibandingkan dengan beberapa negara, Korea itu 15,6 persen, Filipina itu 8,7 persen, kemudian even Malaysia itu 8,59 persen volatilitasnya,” jelas Erwin.

Adapun dari sisi laju pelemahan, pergerakan mata uang Garuda dipastikan masih bergerak searah dengan tren depresiasi kawasan akibat faktor eksternal global.

“Kita bergerak beriringan dengan peers kita. Memang kita secara year to date di posisi tanggal 29 September kita terdepresiasi 7,74 persen dibandingkan posisi kita akhir tahun,” tuturnya.

Untuk mengimbangi celah defisit pada neraca transaksi berjalan, Bank Indonesia terus mengoptimalkan strategi penyeimbang (balancing) dari pos transaksi modal (capital account). Langkah ini ditempuh melalui penguatan bauran kebijakan untuk menarik aliran masuk modal asing (capital inflow) demi mengamankan pasokan valas di pasar domestik.

“Tentu saja dalam konteks mencoba balancing neraca pembayaran dengan kondisi neraca transaksi berjalan seperti itu, selain koordinasi dengan otoritas terkait kementerian/lembaga untuk perbaikan kondisi struktur, tentu saja Bank Indonesia juga mencoba mem-balancing ini dengan mendorong aliran masuk modal asing di capital account sebagai balancing agar keseimbangan supply dan demand valutan asing itu tetap bisa terjaga dengan kebijakan-kebijakan yang kita lakukan,” kata Erwin.

Erwin menambahkan, komitmen menjaga stabilitas nilai rupiah tetap menjadi prioritas utama BI guna memberikan kepastian dan kepercayaan bagi pelaku usaha maupun investor dalam mengambil tindakan ekonomi.

“Dan tentu di antara itu, upaya kita untuk menjaga stabilitas nilai rupiah terus menjadi bagian dari komitmen Bank Indonesia agar stabilitas tetap terjaga, memberikan kepastian kepada seluruh pelaku ekonomi untuk melakukan keputusan-keputusan ekonominya,” kata dia. (Febrina Ratna Iskana)

SHARE