ECONOMICS

BI Proyeksikan Ekonomi Aceh 2026 Tumbuh 4,6 Persen Ditopang Konsumsi dan Investasi

Desi Angriani 06/11/2026 07:15 WIB

BI memproyeksikan ekonomi Provinsi Aceh tumbuh 4,6 persen hingga 5,1 persen sepanjang 2026.

BI Proyeksikan Ekonomi Aceh 2026 Tumbuh 4,6 Persen Ditopang Konsumsi dan Investasi (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Bank Indonesia (BI) memproyeksikan ekonomi Provinsi Aceh tumbuh 4,6 persen hingga 5,1 persen sepanjang 2026. 

Pertumbuhan tersebut didukung oleh proses pemulihan aktivitas ekonomi masyarakat pascabencana banjir dan longsor yang terjadi pada akhir 2025, serta konsumsi rumah tangga dan investasi swasta yang masih cukup kuat.

"Perlu kita lihat bahwa bencana yang terjadi sebelumnya berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat. Banyak UMKM terdampak, begitu juga dengan para petani yang kehilangan kemampuan untuk bekerja dan memperoleh pendapatan," kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Aceh, Agus Chusaini dalam pelatihan wartawan Bank Indonesia Semester II-2026 di Sabang, Aceh, Kamis (5/11/2026).

Menurut Agus, proses rehabilitasi dan rekonstruksi mulai membantu memulihkan sumber penghidupan masyarakat, khususnya petani yang terdampak bencana. Sebagian petani telah kembali memperoleh penghasilan, meskipun masih bekerja secara serabutan.

Pemulihan ini turut mengembalikan aktivitas ekonomi masyarakat sekaligus mendukung penyerapan tenaga kerja di daerah.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi Aceh masih ditopang oleh konsumsi masyarakat dan investasi swasta. Meski mengalami perlambatan dibandingkan tahun sebelumnya, kedua komponen tersebut masih memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Agus mengaku sempat memperkirakan investasi swasta akan mengalami penurunan lebih dalam akibat dampak bencana. Namun, realisasinya masih cukup kuat sehingga mampu menopang aktivitas ekonomi Aceh.

Di sisi lain, BI mencermati pelaku UMKM yang masih menghadapi kesulitan keuangan akibat dampak bencana, mulai dari kesulitan memenuhi kewajiban pembiayaan hingga terpaksa menutup usaha.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, BI telah berdiskusi dengan perbankan mengenai sejumlah langkah pemulihan pembiayaan UMKM dengan memberikan penundaan pembayaran, penjadwalan ulang kredit (rescheduling), hingga penambahan pembiayaan bagi usaha yang masih memiliki prospek.

"Tentu, tidak semua UMKM dapat memperoleh tambahan pembiayaan. Perbankan tetap harus mempertimbangkan kondisi usaha dan kemampuan debitur agar tidak menimbulkan masalah baru," tuturnya

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, ekonomi Aceh tumbuh sebesar 4,13 persen dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp71,17 triliun di kuartal III-2026. Angka ini melambat dibandingkan kuartal II yang sempat tumbuh 4,86 persen.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh lapangan usaha konstruksi yang naik 13,40 persen, perdagangan naik 6,45 persen, serta konsumsi pemerintah dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB/investasi).

(DESI ANGRIANI)

SHARE