Bangkit Pascakebakaran, PNM Bersama BRINS Beri Bantuan untuk Nyalakan Harapan Warga Desa Adat Sade
Di tengah suasana duka itu, bantuan datang bukan sekadar untuk mengganti apa yang telah hilang, tetapi untuk membantu warga kembali memiliki alasan memulai.
IDXChannel – Kebakaran yang terjadi di Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, pada Agustus lalu tidak hanya berdampak pada kehidupan sehari-hari, tetapi juga aktivitas usaha yang menjadi sumber penghidupan keluarga.
Sebagian warga merasakan yang hilang bukan hanya bangunan, alat kerja dan ruang untuk mencari nafkah juga ikut hilang.
Di tengah proses pemulihan, menjaga masyarakat agar dapat kembali produktif menjadi bagian penting untuk membantu mereka bangkit.
“Yang paling berat bukan hanya kehilangan tempat tinggal atau tempat berjualan. Kami kehilangan tempat untuk bekerja. Padahal dari menenun dan menjual kain inilah kebutuhan keluarga sehari-hari dipenuhi,” cerita salah satu korban di Desa Sade bernama Heppy Susanti, Rabu (30/9/2026).
Heppy merupakan nasabah PNM Mekaar yang telah bergabung sejak lima tahun lalu dan sempat merasa hilang harapan setelah rumahnya hangus menjadi abu.
Di tengah suasana duka itu, bantuan datang bukan sekadar untuk mengganti apa yang telah hilang, tetapi untuk membantu warga kembali memiliki alasan memulai.
“Saya terharu saat PNM datang dua hari setelah kebakaran dan langsung kasih bantuan. Sekarang PNM datang kembali dengan bantuan yang lebih bermakna. Terima kasih karena sudah merangkul kami sejak awal sampai sekarang,” kata Heppy.
PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM bersama BRI Insurance (BRINS) melanjutkan pendampingan bagi nasabah terdampak melalui program Madani Tanggap Desa Adat Sade.
Setelah sebelumnya membantu pemenuhan kebutuhan dasar, dukungan kini diarahkan pada penguatan usaha agar nasabah dapat kembali menjalankan aktivitas ekonominya.
Pada tahap awal pemulihan, PNM telah menyalurkan peralatan dapur dan kebutuhan keluarga. Dukungan kemudian dilanjutkan dengan pemberian alat tenun, mesin jahit industrial, serta gawangan yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan produksi masyarakat.
Pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga dan anak-anak turut diberikan untuk memastikan pemulihan tidak hanya menyentuh sisi ekonomi, tetapi juga kondisi keluarga.
Bagi para perajin, alat tenun dan mesin jahit mungkin terlihat sederhana. Namun, di tengah puing-puing musibah, benda-benda itu berarti kesempatan untuk kembali bekerja.
“Alat tenun ini sangat berarti bagi kami. Mudah-mudahan setelah ini kami bisa mulai menenun lagi, punya penghasilan lagi, dan perlahan mengembalikan kehidupan seperti sebelumnya. Bantuan dari asuransi juga sudah saya terima dan sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata Heppy.
Di Desa Sade sendiri terdapat 56 nasabah binaan PNM Mekaar yang selama ini mengandalkan usaha tenun, kerajinan, hingga penjualan kain khas Sade sebagai sumber penghasilan keluarga.
Direktur Utama PNM, Kindaris, mengatakan pemulihan tidak cukup hanya dengan membantu memenuhi kebutuhan sesaat, tetapi juga perlu membuka kembali jalan bagi masyarakat untuk membangun sumber penghidupannya.
Selain pendampingan dari PNM, perlindungan dari BRINS turut menjadi bagian dari proses pemulihan nasabah melalui pembayaran klaim asuransi. Dukungan tersebut membantu nasabah memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus menata kembali aktivitas usaha setelah kebakaran.
“PNM berharap bantuan ini menjadi langkah awal agar ibu-ibu di Desa Adat Sade dapat kembali menjalankan usahanya," katanya.
"Ketika alat kerja kembali tersedia, harapan untuk menghidupkan kembali ekonomi keluarga juga ikut tumbuh. Dan dalam kesempatan ini kami menggandeng BRI Insurance untuk menyalakan harapan itu," lanjut Kindaris.
Sade bukan sekadar destinasi wisata. Desa adat yang dikenal dengan rumah tradisional dan kerajinan tenunnya itu merupakan ruang hidup bagi masyarakat yang selama bertahun-tahun menjaga tradisi sekaligus menggantungkan ekonomi dari aktivitas pariwisata dan kerajinan.
Karena itu, menghidupkan kembali Sade berarti juga membantu memastikan tradisi tetap memiliki ruang untuk tumbuh. Ketika seorang ibu kembali menenun, yang dipulihkan bukan hanya pendapatan keluarga, tetapi juga keterampilan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
PNM turut menyiapkan pendampingan lanjutan bagi para nasabah melalui berbagai program pemberdayaan.
Mulai dari penguatan usaha melalui klasterisasi, pengembangan Ruang Pintar untuk pendidikan anak-anak, hingga membuka akses pasar yang lebih luas agar produk warga tidak berhenti pada pasar lokal.
“Ini bagian dari misi pemberdayaan PNM, membuka akses dan kesempatan agar nasabah mampu untuk kembali berdiri setelah bencana, mengembangkan usaha, dan melihat pasar yang lebih luas,” kata Kindaris.
Di antara rumah-rumah yang masih menyisakan jejak musibah, suara alat tenun mungkin belum terdengar seperti sebelumnya. Tetapi bagi warga Sade, kesempatan untuk kembali menenun adalah tanda bahwa kehidupan perlahan bisa dimulai lagi.
(Nur Ichsan Yuniarto)