ECONOMICS

Bahlil Ajak Daerah Manfaatkan Lahan Tidur Produksi Etanol, Pertamina Siaga Jadi Pembeli

Iqbal Dwi Purnama 16/10/2026 03:03 WIB

Bahlil Lahadalia mendorong pemerintah daerah memanfaatkan lahan tidur untuk mengembangkan tanaman penghasil bahan baku bioetanol. 

Bahlil Ajak Daerah Manfaatkan Lahan Tidur Produksi Etanol, Pertamina Siaga Jadi Pembeli. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendorong pemerintah daerah memanfaatkan lahan tidur untuk mengembangkan tanaman penghasil bahan baku bioetanol. 

Bahlil menyebut sejumlah komoditas pertanian, seperti jagung, singkong, dan tebu, berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku produksi etanol. Langkah ini untuk mengurangi ketergantungan impor BBM dengan cara mencampur etanol dalam bensin. 

"Pak Bupati, bahan bakunya dari jagung, singkong, tebu. Pabrik Karawang ini masih ada lahan tidur, bisa diarahkan menanam hasil-hasil perkebunan yang berorientasi pada bahan baku," kata Bahlil saat memberikan sambutan dalam peresmian operasi kilang LPG PT Energi Nusantara Perkasa di Karawang, Jawa Barat, Kamis (15/10/2026).

Menurut Bahlil, pengembangan bahan baku bioetanol perlu didukung ketersediaan lahan dan keterlibatan pemerintah daerah. Dengan memanfaatkan lahan yang belum produktif, daerah dapat mengembangkan kegiatan ekonomi baru yang terhubung dengan industri pengolahan energi.

Dia menilai pengembangan industri berbasis bahan baku lokal menjadi salah satu upaya untuk mengoptimalkan potensi sumber daya alam Indonesia, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri.

Bahlil menjelaskan, pemerintah akan mendorong pembentukan pasar bagi produk bioetanol melalui kebijakan mandatori atau kewajiban penggunaan etanol dalam campuran bahan bakar. Dalam skema tersebut, PT Pertamina (Persero) disiapkan menjadi pihak yang menyerap produksi etanol yang dihasilkan di dalam negeri.

"Seluruh etanol yang akan diambil itu offtaker -nya Pertamina, karena kita akan bikin mandatori. Ini dalam rangka strategi untuk mengurangi impor BBM di negara kita," ujarnya.

Kepastian pasar melalui skema penyerapan tersebut diharapkan dapat mendorong investasi pada industri bioetanol. Di sisi hulu, kebutuhan bahan baku juga berpotensi membuka peluang bagi petani dan pelaku usaha pertanian untuk memasok komoditas bagi industri pengolahan.

Dengan demikian, pengembangan bioetanol tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga memperkuat keterkaitan antara sektor pertanian dan industri.

Bahlil menegaskan, pengembangan bioetanol merupakan bagian dari upaya pemerintah memperluas pemanfaatan energi alternatif di tengah ketidakpastian geopolitik global. Dalam hal ini, pemerintah telah mendorong pemanfaatan biodiesel berbasis minyak sawit melalui program B50.

Ke depan, pengembangan etanol juga akan menjadi bagian dari strategi diversifikasi energi nasional.

Menurut Bahlil, peningkatan produksi energi dari sumber daya domestik diperlukan karena peningkatan produksi minyak nasional memiliki keterbatasan. Karena itu, pemerintah perlu mengoptimalkan sumber energi alternatif yang dapat dikembangkan dari potensi dalam negeri.

Pengembangan bioetanol berbasis jagung, singkong, dan tebu diharapkan dapat mengurangi kebutuhan impor BBM sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian.

Di tingkat daerah, strategi tersebut membuka peluang pengembangan kawasan industri berbasis pertanian, pemanfaatan lahan yang belum produktif, serta penciptaan lapangan kerja baru.

Meski demikian, realisasi pengembangan bioetanol akan bergantung pada kesiapan lahan, ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan, kapasitas industri pengolahan, dan pelaksanaan kebijakan mandatori yang disiapkan pemerintah.

(Dhera Arizona)

SHARE