Ancaman Suku Bunga Tinggi The Fed, Rupiah Hadapi Risiko Pelemahan
The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75 persen hingga 4 persen.
IDXChannel - Keputusan Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75 persen hingga 4 persen berpotensi menekan nilai tukar rupiah jauh lebih dalam.
Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi menilai, kebijakan tersebut mengindikasikan pergeseran rezim moneter AS dari higher-for-longer menjadi higher-again di tengah persepsi inflasi yang kian persisten.
Perspektif tersebut seiring dengan pergerakan mata uang domestik pada Kamis (17/9/2026) pagi di pasar spot melemah 0,38 persen ke level Rp17.763 per USD tertekan oleh penguatan imbal hasil aset berdenominasi dolar AS pasca-pengumuman The Fed.
Syafruddin menjelaskan, ancaman utama bagi emerging markets seperti Indonesia bukanlah pada besaran kenaikan 25 basis poin semata, melainkan pada akumulasi ekspektasi jalur suku bunga lanjutan. Sebanyak 16 dari 18 pembuat kebijakan di bank sentral AS memperkirakan setidaknya masih ada satu kenaikan lagi sebelum akhir 2026.
"Ancaman bagi rupiah bukan satu Fed hike, melainkan perubahan rezim dari higher-for-longer menjadi higher-again," kata Syafruddin dalam risetnya, Kamis (17/9/2026).
Mekanisme tekanan bekerja melalui kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun yang sempat menyentuh kisaran 4,96 persen sesaat setelah keputusan The Fed dipublikasikan.
Ketika selisih imbal hasil (spread) aset rupiah dan dolar menyempit di tengah tingginya risiko kurs, modal global cenderung beralih ke aset berisiko lebih rendah.
Transmisi dari pengetatan moneter AS ini dinilai berpotensi menjangkau sektor riil domestik melalui beberapa lapis dampak.
Menurut Syafruddin, pelemahan rupiah meningkatkan harga barang impor (imported inflation), yang mempersempit ruang bagi Bank Indonesia untuk melonggarkan kebijakan moneter.
BI menghadapi dilema antara mempertahankan BI-Rate tinggi untuk menjaga daya tarik aset atau memangkas bunga guna mendorong pertumbuhan kredit.
Selain itu, tekanan eksternal dapat mendorong kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) karena investor meminta kompensasi risiko yang lebih tinggi. Kenaikan biaya dana pemerintah ini memicu peningkatan biaya modal swasta dan mempermahal penyaluran kredit.
"Fed hike mendorong return dolar, memperketat arus modal, menekan rupiah, membatasi ruang BI, menaikkan biaya dana, lalu mengurangi momentum investasi dan pertumbuhan," ujar dia.
(DESI ANGRIANI)