21 Bulan Kabinet Merah Putih, Ketahanan Energi dan Tantangan Investasi EBT Jadi Sorotan
Kekayaan sumber daya alam serta ruang diversifikasi yang luas menjadi modal kuat bagi Indonesia untuk menjaga ketahanan energi nasional.
IDXChannel — Laporan capaian 21 bulan Kabinet Merah Putih yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat sektor energi sekaligus mengikis ketergantungan pada energi fosil.
Menanggapi hal tersebut, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Telisa Falianty menilai langkah Indonesia di sektor energi secara umum sudah cukup baik. Kekayaan sumber daya alam serta ruang diversifikasi yang luas menjadi modal kuat bagi Indonesia untuk menjaga ketahanan energi nasional.
“Salah satu upaya positif adalah pemanfaatan kelapa sawit sebagai bahan baku biodiesel demi menekan impor solar. Pengembangan biodiesel B40 hingga rencana transisi menuju B50 juga dinilai menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional,” ujar Telisa dalam wawancara dengan IDXChannel TV, di Jakarta, Jumat (14/08/2026).
Meski demikian, Telisa memberikan sejumlah catatan kritis terutama terkait daya tarik investasi di sektor Energi Baru Terbarukan (EBT). Menurutnya, pengembangan EBT membutuhkan kepastian hukum, kejelasan regulasi, serta proses perizinan agar investor memiliki keyakinan untuk menanamkan modal dalam jangka panjang.
Dia menilai investasi pada sektor seperti panas bumi dan hidrogen memiliki risiko tinggi, sehingga membutuhkan kepastian mengenai arah kebijakan pemerintah. Konsistensi dukungan pemerintah juga dinilai penting agar investor tidak menghadapi ketidakpastian ketika telah menanamkan modal dalam pengembangan energi baru.
Di sisi lain, Telisa mengingatkan transisi energi bukan sekadar soal regulasi, melainkan juga dampak biaya. Peralihan ke sumber energi baru berpotensi membebani masyarakat jika tidak diimbangi skema dukungan yang jelas dari pemerintah.
Kondisi serupa berlaku pada percepatan ekosistem kendaraan listrik. Kepastian keberlanjutan insentif maupun subsidi pajak sangat menentukan arah keputusan pembeli dan pelaku usaha di industri ini.
Terkait rencana peningkatkan porsi biodiesel ke B50, Telisa menekankan pentingnya masa transisi dan uji teknis yang matang. Kesiapan mesin kendaraan termasuk untuk sektor transportasi laut seperti kapal kecil dan kapal nelayan harus benar-benar dipastikan sebelum kebijakan ini diterapkan secara masif.
Pada akhirnya, penguatan ketahanan energi nasional tidak cukup hanya mengandalkan ambisi. Kepastian regulasi, kesiapan teknologi, dan konsistensi kebijakan harus berjalan seiring agar investasi terus mengalir dan proses transisi energi dapat berlangsung secara optimal.
Penulis: Kidung Dhia Fardheena
(Dhera Arizona)